Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Memberitahu Yang Sebenarnya


__ADS_3

Cinta memperlihatkan rekaman pada Stifen, lalu dia terperangah mendengarkannya. Suaminya itu hampir tidak percaya, apa yang telah dilihat oleh kedua matanya.


"Sayang, aku sudah berkata jujur padamu. Pernikahan butuh mengandalkan sebuah kepercayaan, untuk menjalaninya." ujar Cinta.


"Mengapa Papa harus pura-pura sakit." jawab Stifen, dengan bingung.


"Dia ingin aku tinggal di rumah itu lagi, agar bisa melakukan hal yang menyimpang dari agama. Setiap ditinggal sendirian, Papa akan menggodaku." ujar Cinta.


"Baiklah, aku akan menyelidikinya." jawab Stifen.


"Kamu berbicara seperti ini, seolah tidak percaya padaku." ujar Cinta.


"Bukan tidak percaya, namun aku tidak boleh gegabah. Aku tidak tahu, apa yang telah terjadi sebenarnya." jawab Stifen.


Bibi Teiya membawa pakaian ganti untuk Robert, begitupula dengan Zahra yang telah mempersiapkan makanan.


"Mama membawa makanan kesukaan Papa." ujar Zahra.


"Terima kasih Mama." jawab Robert.


"Papa ini seperti bicara dengan orang lain. Sudah berapa lama kita berumahtangga, sekarang anak kita saja sudah menikah." ucap Zahra.

__ADS_1


"Heheh... Papa selalu menghormati Mama. Satu-satunya wanita tercantik di dunia ini, yang tetap ada di hati Papa." Robert mengeluarkan jurus rayuannya.


"Papa ini membuat Mama malu saja." Zahra senyum-senyum, sambil menutup mulutnya.


"Ah Mama, sudah lama menikah masih malu." jawab Robert.


Stifen sudah sampai ke rumah sakit, lalu memberitahu Zahra yang sebenarnya. Dia memperlihatkan rekaman Robert marah-marah.


"Mengapa Papa harus pura-pura sakit?" tanya Zahra.


"Ini adalah langkah awal, untuk memberinya pelajaran. Wajar saja Ma, bila Papa menguji Cinta. Bukankah dia ini pandai bersandiwara, tidak mengaku bila menjadi pelacur."


"Apa buktinya Pa, aku tidak segila yang Papa tuduhkan. Hari pertama pernikahan, aku masih suci." sahut Cinta.


"Berhenti Papa menyudutkan Cinta, karena sejak awal aku mengenalnya." ujar Stifen.


"Kamu yakin mengenalnya, yang mengurus dia dari kecil adalah Ibu tirinya. Tentu saja, saksi utama yang pasti Ibu Asha. Cinta ini menggoda Papa sewaktu kamu pergi kerja." Robert memasang raut wajah sedih.


"Papa jangan bersilat lidah lagi. Akui saja perbuatan Papa selama ini." Cinta seakan memaksa Robert jujur.


"Kamu menantu tidak tahu diri." Zahra marah menatap Cinta dengan lekat.

__ADS_1


"Ma, aku suaminya. Aku tahu istriku bukan perempuan seperti itu." Stifen berusaha membela istrinya.


"Kamu anak durhaka, mau saja diracuni otaknya." Robert berbicara lirih, pura-pura memegangi rongga dada.


"Sayang, ayo kita pergi. Kita sudah tidak dihargai lagi." Stifen menarik lengan Cinta.


"Kamu melangkah pergi, Mama tidak akan Ridha." Zahra tersulut emosi.


"Maaf Ma, aku tetap akan pergi. Meski berbakti, aku juga harus tegas. Istriku dinikahi untuk dilindungi, bukan dibiarkan diinjak seperti sampah." jawabnya.


Stifen dan Cinta segera keluar ruangan, membatalkan niat menjenguk Robert. Cinta masuk ke dalam mobil, karena pintu sudah dibuka oleh Stifen. Merasa seperti ratu dalam drama, Cinta menjadi senyum sendiri.


Ade membantu Bilqis, yang sedang mengerjakan tugas seorang diri. Bilqis memasang raut wajah biasa saja, tidak terbawa perasaan sama sekali.


"Aku tidak tahan melihat sifat cuek kamu." ucap Ade.


"Silakan tutup mata." jawab Bilqis.


"Bilqis, bisakah kita berteman?" tanya Ade.


"Sekarang ini sudah termasuk berteman. Harus bersikap seperti apa, baru bisa dianggap berteman." Bilqis menoleh ke arah lawan bicaranya.

__ADS_1


"Tersenyum saja, sudah lebih dari cukup." ujar Ade.


"Sungguh terlalu, tawar menawar untuk hal ini." jawab Bilqis.


__ADS_2