
Stifen mengajak Cinta pergi ke suatu tempat. Cinta menjadi penasaran, karena Stifen tidak menyebutkannya.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Cinta.
"Kita akan pergi ke taman kota. Mungkin di sana dapat menenangkan diri." jawab Stifen.
"Iya sudah, sekarang kita pergi." ajak Cinta.
"Baiklah, mari kencan santai ala pasangan sederhana." jawab Stifen.
Sesampainya di tempat, Cinta tersenyum menatap sekeliling. Benar-benar menakjubkan, bentuk yang kreatif, dari otak manusia. Namun semuanya tidak lepas, dari campur tangan Tuhan di dalamnya.
"Di dunia ini, Allah sangat hebat." ungkap Cinta.
"Karena Dia yang menciptakan alam semesta. Dia adalah satu-satunya sesembahan, yang berhak disembah." jawab Stifen.
"Ayo kita naik bebek itu." Cinta menunjuk pelampung di atas air.
"Boleh, satu bebek berdua." Stifen menunjuk kendaraan di atas air.
Cinta dan Stifen mulai menungganginya, lalu keliling di tumbuhan air yang mirip dengan sawit. Tumbuhan tersebut diberi nama tanaman Nipah.
"Sayang, terima kasih sudah mengajakku ke sini." Cinta memeluk pinggang Stifen dari belakang.
__ADS_1
Stifen memegang tangan cinta, dengan tangan sebelah kirinya. "Sama-sama sayang."
"Aku senang bersamamu." Cinta semakin mempererat pelukannya.
"Aku juga senang, ayo kita singgah ke seberang air." ajak Stifen.
Cinta melihat sebuah rumah pohon kecil, ingin rasanya dia melompat kegirangan. Namun nanti jatuh, karena masih berada di atas bebek. Setelah kendaraan air menepi, baru Stifen dan Cinta menurunkan kakinya.
"Hati-hati!" Stifen mengawasi langkah kaki istrinya.
"Iya sayang, tenang saja." Cinta melompat ke seberang, sampai memeluk Stifen.
Cinta dan Stifen tertawa bersama, lalu bergandengan tangan ke atas menara. Stifen membuka bungkus cemilan, lalu menawarkan istrinya untuk disuapi.
"Eits... baru sudah makan, tidak enak langsung rebahan. Biarkan makanannya turun dari lambung." jawab Cinta.
"Oh iya, aku mengerti yang kamu maksud." ujar Stifen.
"Syukurlah, aku tidak perlu menjelaskan." jawab Cinta.
Zahra masih mendiamkan Robert, kesal dengan caranya yang pura-pura sakit. Di rumah Zahra makan sendiri, tidak menawari suaminya lagi.
"Mama, jangan merajuk lama-lama." ujar Robert.
__ADS_1
"Eum..." jawab Zahra, dengan berdehem.
"Mama, aku ini berbohong untuk membuat anakmu kembali. Lihatlah, setelah Stifen tahu yang sebenarnya. Dia malah menjauh dari kita, benar-benar anak durhaka." Robert kesal sendiri.
"Jadi kamu sengaja bohong, hanya untuk mengaitnya. Sudahlah, lebih baik damai saja dengan mereka. Mama pusing, lihat situasi seperti ini." jawab Zahra.
"Iya deh, Papa akan berdamai dengannya. Besok Papa ke rumah baru mereka iya." ujar Robert.
"Baiklah, Mama akan kirim pesan ke Stifen. Satu hal lagi, Mama akan suruh Cinta jangan genit padamu." jawab Zahra.
"Bagus Ma, Papa takut ternodai. Kita ini dikenal keluarga bertakwa, jadi Cinta harus bertaubat. Jangan mencoreng kita, sebagai orangtua yang baik." ucap Robert, seakan mengeluh karena jadi korban dzalim.
"Iya, aku akan menghubunginya." jawab Zahra.
Stifen dan Cinta mengaji surah Al-Baqarah bersama, saat hari sudah menjelang malam. Penuh penghayatan, dan juga teliti tajwidnya. Satu jam kemudian, mereka sudah selesai membaca Alquran.
"Alhamdulillah, jauh lebih tenang." ujar Cinta.
"Iya sayang, sekarang kita letakkan dalam lemari." Stifen berjalan mendekat ke arah rak susun, yang terbuat dari alumunium tersebut.
"Sayang, lihat ke arah aku." ucap Cinta.
Stifen menoleh sambil tersenyum. "Iya sayang, aku akan selalu memandang dirimu."
__ADS_1