
Stifen keluar dari kamar bersama dengan istrinya. Stifen menggenggam tangan Cinta dengan erat. "Aku berencana mau membuka usaha. Meski kecil-kecilan semoga dapat membantu perekonomian."
"Iya sayang, aku juga bisa membantu promosi. Bersamaan dengan itu, aku juga berjualan kue seperti dulu." jawab Cinta.
"Pak Stifen tidak usah sedih, kami akan membantu Cinta." sahut Bilqis.
"Terima kasih." jawabnya.
Setelah kepergian Stifen, tetangga mulai nyinyir. Otak mereka sudah terpengaruh ucapan Berto dan Robert.
"Hadeh, rumah ini bisa-bisanya dihuni dengan satu laki-laki dan tiga perempuan. Katanya Pak Stifen itu rajin sembahyang di masjid. Tapi pada kenyataannya, malah bawa dua gadis dalam rumah." Seorang perempuan menjelek-jelekkan suaminya.
"Bukan dia yang mengajak mereka berdua tinggal di sini. Tapi, aku yang menyuruh mereka menginap di sini. Kalau kalian tidak tahu apa-apa, lebih baik diam daripada menyebar fitnah." jawab Cinta.
"Benar sekali, karena kalian tidak kenal siapa kami. Sudah lama bersahabat dengan Cinta, mana mungkin menjadi selingkuhan suaminya. Saat ini kami menginap, karena mengalami musibah yang tidak bisa dijelaskan." timpal Bilqis.
"Halah, palingan juga alasan." jawab ibu-ibu dengan culas.
"Kalian tidak lihat, bahwa tangan temanku terluka." ujar Fatihah.
__ADS_1
Ibu-ibu itu melihat tangan Bilqis yang diperban. "Oh gitu iya, tapi aku masih tidak percaya."
"Terserah kalian, kami tidak butuh kepercayaan kalian." Bilqis emosi.
Fatihah dan Bilqis mengajak Cinta pergi membeli bahan, untuk membuat kue. Sekalian mereka jalan-jalan, untuk menghirup udara segar. Cinta melihat anak kucing yang sangat kotor, lalu segera menolongnya dengan digendong.
"Kucing, mengapa kamu belepotan dengan lumpur." ujar Cinta.
"Kita mandikan dia di toilet umum. Kasian sekali dia!" ajak Fatihah.
Mereka berdua memandikan kucing dengan perasaan bahagia. Bilqis hanya melihat saja dari kejauhan, karena dia sedang sakit tangannya. Tak lama kemudian, kucing sudah bersih. Cinta dan teman-temannya melanjutkan perjalanan, menuju ke sebuah toko besar.
"Jangan lupakan juga gula, garam, dan pengembang roti." Cinta tersenyum.
"Namun saos dan kecap juga perlu dibeli, jika kita ingin membuat batagor." sahut Bilqis.
"Aku si lebih yakin kalau bakso bakar, pasti banyak yang beli. Tergantung rezeki juga si, bisa sampai menghabiskan sisanya." jawab Cinta.
Pulang dari toko, mereka melihat pedagang menjual jajanannya. Banyak anak-anak kecil membeli, sampai dorong-dorongan karena takut tidak kebagian. Gerobak itu laris manis, karena banyak yang suka.
__ADS_1
"Itu tuh makanan apa?" tanya Fatihah.
"Itu tuh darah sapi yang difermentasi sampai beku."
"Ah tidak jadi beli, aku kira hanya es." ujar Fatihah.
"Iya, soalnya memakai darah hewan sama saja memakan bangkai." jawab Cinta.
"Dulu sewaktu kecil, aku pernah beli si. Tapi, karena tidak tahu. Minim sekali pengetahuanku tentang agama." sahut Bilqis.
"Iya sudah, yang penting sekarang sudah tidak memakannya lagi." jawab Cinta.
"Nama makanan itu apa iya?" tanya Fatihah.
"Biasa orang menyebutnya dengan Saren." jawab Bilqis.
Sampai ke rumah, mereka mengaduk tepung bersama. Stifen sudah kembali, dengan memberitahu Cinta kabar baik.
"Aku sudah sewa ruko dengan biaya lima ratus ribu rupiah perbulan." ujar Stifen.
__ADS_1
"Sepertinya, kami sangat cocok bila berjualan di terasnya. Dengan begitu, akan mengalihkan perhatian banyak pembeli." jawab Cinta bersemangat.