
Keesokan harinya, Cinta bersiap-siap untuk pergi kerja. Di luar rumah, sudah ada Bilqis dan Fatihah.
"Cinta kamu mau kemana?" tanya Asha.
Asha melihat Cinta yang membawa kopernya. Asha menjadi curiga, bila cinta ingin pergi.
"Tante, Cinta akan kerja bareng kami." Fatihah mewakili menjawab.
"Iya Tante, tolong jangan halangi." timpal Bilqis.
"Aku hanya ingin dia menikah, dengan laki-laki kaya. Kerja itu hanya sedikit dapat uangnya." Asha protes.
"Tante, tolong jangan kekang Cinta terus menerus. Dia berhak menentukan masa depannya sendiri." ujar Fatihah.
"Aku tidak akan mengekang dia, dengan satu syarat. Kalau Cinta gajian, dia harus bisa memberi aku uang lima juta perbulan." jawab Asha.
"Baiklah, aku menyetujuinya." ujar Fatihah.
”Apaan sih Fatihah, jelas-jelas gaji di sana hanya tiga juta.” batin Bilqis.
Plok! Plok! Plok! Plok!
Suara tepuk tangan Asha, dia merasa lucu mendengar ucapan Fatihah.
__ADS_1
"Baiklah, aku persilahkan Cinta pergi. Kita lihat, apa Cinta sanggup memberikannya untukku." Asha tertawa.
Fatihah segera menarik Cinta, yang terpenting dia keluar dari rumah itu. Bilqis memikirkan sepanjang perjalanan, bagaimana caranya Cinta bisa dapat lima juta.
"Fatihah, kamu kok gegabah banget mengambil keputusan. Gaji di sana itu, cuma tiga juta. Bagaimana caranya bawa uang lima juta." gerutu Bilqis.
"Bilqis kamu kerja, aku juga kerja. Kita tinggal di mes bertiga. Bisa 'kan, kalau kamu sisihkan uang untuk membantu Cinta." jawab Fatihah.
"Fatihah jangan deh, lebih baik aku tidak kerja." Cinta merasa tidak enak.
"Baiklah, aku akan mengusahakannya. Tapi, jangan sampai bila keluargaku tahu." ujar Bilqis.
"Iya, aku juga tidak memberitahu siapapun." tambah Fatihah.
"Kamu tenang saja, nanti kami akan memberikan uang untuk mereka. Kalau kita masih bisa, makan seadanya saja. Sehari sekali juga bisa, sering-sering puasa sunnah saja." ujar Fatihah.
"Terimakasih iya Fatihah, Bilqis." jawab Cinta.
”Aku tidak menyangka, mereka setulus ini padaku. Aku pasti akan membalas kebaikan kalian, bila ada kesempatan.” batin Cinta.
Mereka bertiga sudah sampai di mes. Tempat tinggal yang membentuk bedeng, banyak tetangga yang merupakan karyawan dan karyawati Aditama Grup.
"Eh Cinta, kamu sudah makan belum?" tanya Fatihah.
__ADS_1
"Belum, aku tidak sempat." jawab Cinta.
"Makan dulu sana, nanti kamu lapar." titah Bilqis.
"Tidak deh, nanti kita terlambat." Cinta melihat jam di tangannya.
Mereka keluar dari mes setelah selesai meletakkan koper, di dalam kamar masing-masing. Mereka berjalan kaki, menuju ke perusahaan Aditama Grup.
"Cinta, Bilqis, tidak menyangka iya, kita bakalan kerja di perusahaan besar. Padahal biasanya, kita cuma jualan di pasar." ucap Fatihah.
"Iya aku senang, karena sekarang sudah berhenti jualan lontong." jawab Bilqis.
"Rencananya, aku akan tetap berjualan. Tapi, di perusahaan Aditama Grup." ujar Cinta.
"Hah, kamu serius?" tanya Bilqis.
"Iya dong, mana mungkin aku bohong." jawab Cinta.
"Cinta, sebaiknya jangan deh. Apa kamu tidak malu, bila nanti dihina kekurangan uang." ujar Fatihah.
"Daripada kita kekurangan baru mencari, lebih baik dari sekarang kita persiapkan. Kita tidak pernah tahu, sampai kapan Ibu tiri ku meminta nominal lebih." tutur Cinta.
"Parah, Ibu tiri kamu jahat sekali. Hatinya terbuat dari bangkai busuk mungkin." Bilqis naik pitam.
__ADS_1
"Sabar Bilqis, ingatlah ancaman Tante Asha. Dia akan menjual rumah wasiat, bila Cinta nekat pergi." Fatihah mengingatkan.