Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Meeting


__ADS_3

Keesokan harinya telepon kantor berbunyi, Cinta mengangkatnya dan berbicara dengan orang di seberang telepon.


"Apa nanti Pak Stifen jadi meeting?" tanyanya.


"Iya jadi, di cafe yang berada seberang perusahaan." jawab Cinta.


"Oke, aku akan datang pukul 11.00." ujarnya.


"Iya Pak, kami tunggu." jawabnya.


Sambungan telepon terputus, setelah orang tersebut berpamitan. Stifen menoleh ke arah Cinta, lalu menghadap laptop-nya kembali.


"Cinta, itu telepon dari klien iya?" tanya Stifen.


"Iya Pak." jawab Cinta.


"Silahkan, kamu siapkan apa yang diperlukan untuk meeting nanti." ujar Stifen.


"Iya Pak." jawab Cinta.


Cinta segera membuka salah satu aplikasi, yang berisi data perusahaan. Cinta melihatnya dengan mata jeli, setelah itu menyalin ke dalam flash disk.


"Sudah siap Cinta?" tanya Stifen.


"Sudah Pak." jawab Cinta.


"Ayo pergi sekarang meeting." ajak Stifen.


"Iya Pak." jawab Cinta.

__ADS_1


Cinta segera pergi bersamaan dengan langkah kaki Stifen di depannya. Fatihah mengikuti mereka, karena dia juga disuruh ikut meeting.


"Yaelah, semuanya ikut meeting. Aku sendirian deh di sini." monolog Bilqis.


"Hai Bilqis!" sapa Ade.


"Hai." Bilqis menjawab dengan malas.


"Cuek sekali sih." ucap Ade spontan.


"Bukan cuek, aku cuma risih." jawab Bilqis.


"Aku cuma menyapa, gak ganggu juga." ujar Ade.


"Walaupun gak ganggu, tetap risih." jawab Bilqis.


Cinta, Stifen, dan Fatihah sudah sampai di cafe, yang ada di seberang perusahaan. Ternyata klien bernama Berto, sudah ada di sana.


"Ini karyawati baru kamu iya." Klien tersebut menunjuk Fatihah.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Stifen.


"Tidak, hanya saja aku tertarik. Dia sangat cantik, semoga masih jomblo iya." Menatap dengan detail.


"Tolong jaga sikap iya Pak, kita mau membahas tentang meeting." ujar Stifen mengingatkan.


"Tidak ada salahnya juga 'kan, bila aku naksir sama dia." jawabnya.


”Dasar genit, padahal sudah tua juga.” batin Fatihah.

__ADS_1


Mereka bertiga segera duduk, secara bersamaan. Cinta mengeluarkan bahan untuk meeting siang itu.


"Fatihah, ini untuk kamu." Cinta berucap, sambil memberikan sebuah kertas.


Fatihah mengambil kertas di tangan sahabatnya itu. "Iya Cinta." jawabnya.


”Ternyata Fatihah namanya, aku akan mengejarnya. Aku harus mendapatkan cinta dari dia.” batin Berto.


"Sepertinya, ada niat tidak baik dari tatapannya.” batin Cinta.


Cinta menjelaskan beberapa program terbaru, yang diterapkan oleh perusahaan Aditama Grup. Berto hanya menganggukkan kepalanya saja, seolah menyetujui kerjasama tersebut.


"Aku sangat setuju, lain kali ajak dia kalau meeting." Berto tersenyum ke arah Fatihah.


Fatihah memasang raut wajah tidak suka. Stifen pun merasa risih, melihat setiap ucapan Berto yang ngawur. Harusnya dia berbicara tentang pekerjaan, namun arah pembicaraannya tentang Fatihah terus.


”Mimpi apa aku semalam, kenapa harus dipermalukan di depan atasan. Banyak sekali pria paruh baya, yang mengesalkan hati.” batin Fatihah menggerutu.


Usai meeting mereka kembali ke perusahaan Aditama Grup. Sementara Fatihah bersandar, pada kursi duduknya sambil melamun.


"Kamu kenapa Fatihah? Harusnya kamu senang, karena diajak meeting." ucap Bilqis.


"Sudahlah, jangan bahas masalah meeting." jawab Fatihah.


"Ada apa sahabatku, kamu terlihat kesal sekali?" tanya Bilqis.


"Aku tidak suka dengan klien Pak Stifen. Dia benar-benar pria genit." jawab Fatihah spontan.


Bilqis mengusap-usap pundak Fatihah, mulai paham apa yang menyebabkan raut wajahnya masam.

__ADS_1


__ADS_2