
Zahra senyum-senyum sendiri, melihat kalung emas yang dipegangnya. Sekarang sudah melilit di leher, sebagai tanda bawa dia perempuan yang paling dicinta suaminya. Padahal Zahra hanya dibohongi, untuk mengalihkan perbuatan khianat Robert di belakang.
"Mama sangat terharu iya, sampai memegangi kalung itu tiada henti. Papa juga melihat, bahwa Mama memandanginya terus menerus." ujar Robert.
"Iya Papa, Mama sangat bahagia. Papa sering-seringlah romantis, biar Cinta tidak menggoda terus." pinta Zahra.
"Anak itu kalau berani kurang ajar, biar Papa beri tinjuan maut saja." canda Robert.
"Heheh... benar juga Pa. Anak kita ini masih muda, tapi sayang juga bila jadi duda." Zahra memikirkan nasib putranya, yang mendapat takdir istri penggoda.
Malam harinya, Fatihah pergi ke sebuah cafe. Hari ini harus menemui manusia, yang paling dihindari oleh logikanya. Fatihah duduk di kursi, tanpa memulai basa-basi lagi.
"Minyak sayur yang telah dikemas, telah direncanakan oleh Pak Stifen. Sebuah target pasar dengan mengandalkan promosi brosur, lalu memungkinkan menarik perhatian masyarakat. Setelah itu, diskon tidak akan diberi banyak lagi." Fatihah bersikap profesional saja, membuka lembar dokumen.
"Aku mau membahasnya, setelah Adik cantik memberiku umpan." Berto menunjuk pipinya dengan genit.
"Ini membahas mengenai pekerjaan, mohon Bapak punya sopan santun." ujar Fatihah.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, dadaku bergemuruh. Dia menggebu-gebu, meminta diberikan sesuatu yang indah." Berto mengedipkan mata genit.
"Astaghfirullah, Bapak ini harus ingat dengan dunia sementara. Jangan anggap kekal, karena semua hanya tipu daya setan." Fatihah berbicara dengan santai, meski capek melihat sifatnya.
"Fatihah, sudahlah jangan bawa ceramah. Lebih baik, kamu berikan saja dirimu. Setelah itu, kamu akan hidup enak. Aku akan bayar mahal, cukup temani sebentar saja." Berto melihat detail wajah Fatihah yang cantik.
Tiba-tiba datang pelayan gila, dia menyiram air panas ke kepala Berto. Fatihah tidak ingin tertawa, tapi sangat lucu. Kumis Berto sampai bergerak, dengan rahang mengeras menahan marah. Pelayan tetap saja berjalan sempoyongan, menimpakan air kotoran ke kepala Berto.
"Investor Kurang ajar, seperti tidak berpendidikan." ucapnya lantang.
"Kamu lihat saja Fatihah, aku tidak akan melupakan satu hal ini." Berto menunjuknya.
"Maaf Pak, ini bukan salahku. Aku juga tidak tahu, mengapa pelayan bisa berbuat seperti itu." jelas Fatihah.
"Kamu ikut senyum-senyum saat aku disiram, pasti kamu terlibat dalam rencana murahan ini." bentak Berto.
"Terserah Bapak, jika ingin terus berprasangka. Aku sama sekali tidak tahu, mengapa pelayan ini mendadak melakukan hal tidak masuk akal." jelas Fatihah, dengan suara yang lantang.
__ADS_1
Cinta menangis tersedu-sedu di dalam kamar, dengan lampu ruangan yang padam semua. Stifen masuk ke dalam, lalu menghampiri istrinya.
"Kamu kenapa sayang?" Stifen berbicara lembut.
"Tidak apa-apa." Cinta berusaha menyembunyikan, takut Stifen mengetahui.
"Sayang, kamu jujur saja." ujar Stifen.
"Aku tidak mau, nanti kamu bertengkar sama Mama." jawab Cinta.
"Jika aku bisa menghindar, mengapa memilih perdebatan." jelas Stifen.
"Janji dulu, kamu tidak akan melabrak orangtuamu." jawab Cinta.
"Aku tidak akan mencari masalah duluan, tidak tahu bila mereka yang memulai datang." ujar Stifen.
"Mama kamu marah waktu Papa menggodaku. Dia mengira, bahwa aku yang memulai duluan." Cinta berbicara jujur.
__ADS_1