Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Berto Memaksa


__ADS_3

Keesokan harinya, Berto pergi ke mes Fatihah. Pergi pagi-pagi sekali, sambil mengusap minyak wangi pada tubuh. Hal tersebut membuat istrinya curiga, jangan-jangan bertemu perempuan lagi.


"Halo sayang!" Berto mengetuk pintu rumah mes, sambil tertawa lirih.


Bilqis membuka pintu. "Om lagi, Om lagi."


"Mengapa yang keluar kamu, aku ingin bertemu Fatihah." Berto celingak-celinguk ke arah dalam ruangan, yang sedikit terlihat dari luar.


"Fatihah tidak mau bertemu dengan Om. Sebaiknya, Om segera pergi dari sini." titah Bilqis.


"Ini namanya pengusiran, kejam sekali!" jawab Berto.


"Kalau Om tidak pergi, aku bisa berteriak lantang." ancam Bilqis.


"Aku tidak peduli, kalau kamu berani coba saja." jawab Berto tegas.


Satu!


Dua!


Tiga!


Dalam hitungan ketiga, Bilqis berhasil membuat tetangga komplek gaduh. Mereka segera menghampiri Bilqis, lalu menanyakan kenapa. Bilqis menoleh ke arah semua orang, lalu menunjuk Berto sebagai pria kurang ajar.

__ADS_1


"Dia ngapain di sini?" tanya seorang pria paruh baya.


"Dia itu sedang mengganggu kenyamanan. Tolong kalian ringkus pria tua ini, karena hobi mengganggu para gadis." jelas Bilqis.


"Aku tidak mengganggu dia." Robert tidak mau mengakui perbuatannya.


"Dia memang tidak mengganggu aku. Tapi dia mengganggu temanku, sampai dia tidak mau keluar." jelas Bilqis.


Berto segera pergi, karena diusir dengan warga sekitar. Tidak lama kemudian, Fatihah sudah keluar membawa tas.


"Terima kasih atas bantuan kalian." ujar Fatihah.


"Iya, sama-sama." jawab semua orang serentak.


"Lepaskan aku!" teriak Fatihah.


"Aku tidak mau, memeluk dirimu sangat enak." Berto memajukan bibirnya ke arah pipi Fatihah, namun tidak mengenai karena gerakan lawan memberontak.


Sampai kedatangan Nurma istri Robert, dan mendorong suaminya. Nurma juga mendorong Fatihah, dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Kamu berani sekali menggoda suamiku." bentak Nurma.


"Siapa yang menggoda suami Anda. Dia yang menggodaku duluan, suruh saja dia pergi. Lama-lama kami risih, karena dia terus saja mengganggu." gerutu Fatihah.

__ADS_1


"Aku bukan suaminya, kamu jangan salah paham sayang." Berto berdiri dari posisi duduknya, yang sembarangan.


"Tolong kamu peringati dia, karena kami risih diganggu." Bilqis membantu Fatihah berdiri, lalu segera pergi.


Berto melotot ke arah Nurma. "Sudah aku bilang, jangan akui hubungan kita di depan siapa pun. Apa kamu lupa, kalau kita hanya menikah siri."


"Ini tidak adil untukku Berto. Aku tidak suka, bila kamu bermain dengan banyak perempuan." Nurma menangis juga, karena sakit hati.


Berto tidak merasa iba sedikit pun. "Sudahlah, jangan cengeng kamu."


"Tega sekali kamu Berto, aku ini sungguhan sedih." jawab Nurma.


Berto menggerakkan tangan kanannya di udara, pertanda mengabaikan ucapan Nurma. Dia ingin Nurma mengerti, bahwa semua omongannya tidak penting.


Fatihah masuk ke ruangan kerja, menggantikan posisi Cinta sebagai sekretaris kantor. Fatihah membaca jadwal kegiatan Stifen hari ini.


"Hari ini Bapak akan melihat proyek di danau Limau, lalu setelahnya makan malam dengan tuan Berto." ujar Fatihah.


"Sebenarnya, aku ingin lebih awal. Bisakah, kamu menggantikan aku bertemu dengannya." jawab Stifen.


Fatihah sebenarnya enggan, tapi bagaimana pun Berto kerjasama dengan perusahaan. "Baik Pak, aku akan menemuinya."


"Terima kasih Fatihah. Bilang saja, target pasar telah dirancang perusahaan Aditama." jawab Stifen.

__ADS_1


__ADS_2