Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Gosip


__ADS_3

Pukul 11.45. Cinta beristirahat bersama dengan teman-temannya. Mereka makan siang di kantin, yang tidak jauh dari pabrik kelapa sawit.


"Eh tahu tidak sih, kalau kabarnya Stifen itu bakalan tunangan sama gadis luar kota." ujarnya.


"Memangnya siapa?"


"Ada, tapi aku juga tidak tahu."


"Aneh banget, menyampaikan berita tapi tidak tahu."


"Gosipnya itu loh, Pak Robert menjodohkan dia."


"Iya dengar-dengar sih gitu."


Fatihah menyenggol lengan Cinta, yang ada di sebelahnya. Cinta menoleh ke arah Fatihah, sambil menatapnya lekat.


"Ada apa?" tanya Cinta.


"Eh Cinta, masak sih Stifen mau tunangan. Kalau aku sih, tidak percaya." tutur Fatihah.


"Terserah dia saja sih, aku tidak mengurus dia." ujar Cinta.


"Jangan terserah, terserah, nanti kamu kehilangan." jawab Fatihah.


"Eh Cinta, lebih cocok kamu jadi istrinya." sahut Bilqis.


"Apaan cocok, kadang suka aneh kalau bercanda." jawab Cinta bercanda.


"Cie, malu-malu kucing." Fatihah ikutan menggodanya.


"Tidak kok, biasa saja." jawab Cinta.

__ADS_1


Bilqis dan Fatihah menirukan ucapan Cinta, lalu mereka tertawa kecil bersama. Setelah usai makan mereka kembali, ke ruangan kerja masing-masing.


"Cinta, kamu sudah makan belum?" tanya Stifen.


"Alhamdulillah, sudah akhy." jawab Cinta.


Cinta segera duduk di kursi, mencatat jadwal penting Stifen. Pria itu tersenyum, saat mengingat biodata Cinta.


”Aku bawakan saja makanan kesukaannya. Aku sudah tahu, tempat tinggalnya sekarang.” batin Stifen.


Stifen berencana akan bermain ke mes Cinta. Stifen ingin ta'aruf, dengan gadis yang dia sukai itu.


Asha hendak pergi ke salon, malah bertemu dengan Robert. Dia menagih uang, yang kemarin diberikannya.


"Minta uangku, anakmu tidak jadi kencan denganku." ujar Robert.


"Enak saja, tagih ke Cinta dong. Itu merupakan kesalahan dia, bukan aku yang ingkar janji. Kamu mau apain dia juga, aku tidak peduli." tutur Asha.


"Baiklah, aku akan mencari orangnya. Dimana dia sekarang?" tanya Robert.


”Oh, ternyata dia kerja di perusahaan anakku. Benar-benar langkah yang tepat, untuk mendekati Cinta. Aku akan memberikan pelajaran untukmu. Kamu akan terkejut sekaligus terkesan.” batin Robert.


Pukul 16.00. Cinta pulang ke mes, bersamaan dengan Fatihah dan Bilqis. Mereka duduk di teras sebentar, karena sudah melaksanakan salat ashar juga.


"Lelah rasanya, semoga menjadi berkah." ucap Bilqis.


"Aamiin." jawab Fatihah.


"Aamiin, aku berharap seperti itu." jawab Cinta.


Seseorang datang ke mes Cinta, siapa lagi bila bukan Stifen.

__ADS_1


"Assalamualaikum Cinta." ucap Stifen.


"Waalaikumussalam Pak." jawab Cinta.


"Jangan panggil Bapak, ini 'kan di luar jam kerja." ujar Stifen.


"Iya akhy maaf, aku lupa." jawab Cinta.


"Biasalah ukhty, namanya juga manusia." ucap Stifen.


"Iya akhy." Cinta masih menundukkan kepalanya.


"Ukhty, ini untuk kamu dan teman-temanmu." Stifen memberikan bungkus makanan.


Cinta mengambilnya. "Terimakasih akhy. Jazakallahu khairan."


"Sama-sama ukhty." jawab Stifen.


Bilqis dan Cinta tersenyum saling pandang. Mereka senang, akhirnya Cinta dicintai seseorang.


"Ayo akhy, duduk dulu." tawar Bilqis.


"Iya ukhty." Stifen segera menduduki kursi.


Fatihah masuk ke dalam rumah, untuk membuatkan minuman. Tak berselang lama, dia sudah keluar sambil membawa teh manis.


"Akhy, ini teh hangat. Silahkan diminum jamuan nya." tawar Fatihah.


"Iya ukhty, terimakasih." jawab Stifen.


Stifen mengambil gelas, lalu meneguk air hangat tersebut.

__ADS_1


****


Jazakallahu khairan \=> Semoga Allah membalas mu dengan kebaikan.


__ADS_2