Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Manja Pada Suami


__ADS_3

Stifen menyalami tangan Marvel, lalu setelahnya pergi. Cinta menggandeng tangan Stifen, lalu bergelayut manja.


"Sayang, mau digendong." Cinta mengerucutkan bibirnya, dengan suara mendayu-dayu.


"Tidak mau ah, kamu berat." canda Stifen.


"Sayang, kamu sampai hati sekali. Kakiku benar-benar pegal." Cinta berbicara dengan nada manja.


"Uluh, uluh, sini biar aku angkat dan lempar ke tumpukan salju." jawab Stifen.


"Jahat sekali, kamu mendzalimi aku." Cinta menepuk pelan pundak Stifen.


"Canda sayang, ayo cepat naik ke punggungku." titah Stifen.


Cinta melepaskan tangan sebelahnya, saat Stifen sudah menggendongnya. Dia sibuk melambaikan tangan ke atas udara, dengan raut wajah ceria. Dia seakan memberitahu dunia, bahwa hatinya bahagia memiliki Stifen.


"Mengapa suamiku sangat tampan." ucap Cinta, sengaja ingin memujinya.


"Kamu harus terus menatapku saat tidur, biar kamu tahu ketampanan ku bertambah saat memejamkan mata." jawab Stifen, dengan percaya diri.


"Aku sudah sering melakukannya." Cinta meniup telinga Stifen.

__ADS_1


"Sayang, hari ini kamu memang bebas untuk bermanja-manja. Tapi, jangan tiup telingaku juga." Stifen jadi geli sendiri.


Asha ingin mengancam Robert, agar dia mau memberinya uang. Rahasia pria paruh baya itu, sekarang ada di tangannya. Kesempatan tidak akan disia-siakan, pasti dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.


"Om Robert, aku meminta uang hanya seratus juta saja kok." ujar Asha.


"Aku tidak mau memberikannya padamu." jawab Robert.


"Kalau begitu aku bongkar rahasia kamu di depan istrimu." ancam Asha tidak main-main.


"Baiklah, aku akan memberikannya padamu." Robert terpaksa menuruti keinginannya.


"Nah, kalau seperti ini 'kan aman. Aku akan tutup mulut, tentang perkara masa lalu." Asha mencium uang tebal tersebut.


"Sudahlah sana, pergi yang jauh." Robert mengusirnya.


"Cepat sekali ingin aku enyah, padahal kita bisa duduk santai minum kopi." Asha memasukkan uang ke dalam tas.


"Sudahlah, kamu tidak perlu basa-basi. Cepat pergi dari rumahku, sebelum Zahra kembali." Robert frustasi, menghadapi perbuatan negatif sembunyi-sembunyi.


Bilqis dan Fatihah melayani para pembeli, yang semakin bertambah banyak. Toko yang baru dibuka Stifen sudah ramai, padahal baru beberapa hari saja.

__ADS_1


"Alhamdulillah, usaha suaminya Cinta lancar." ucap Bilqis.


"Iya Bilqis, kasian Pak Stifen. Gara-gara keserakahan dunia tipu-tipu, sekarang Aditama Grup lepas dari pimpinannya." jawab Fatihah.


Bilqis mendengar ponselnya berbunyi, ternyata dari ibunya. Bilqis terkejut saat mendengar adiknya sakit parah. Bilqis dan Fatihah berencana pergi bersama, dan menutup toko sebentar. Namun meminta izin dari Stifen terlebih dulu.


Stifen dan Cinta jalan ke hutan salju menggunakan mobil sewa. Cinta merasa terhibur hari itu, karena Stifen sangat memanjakannya. Sepanjang perjalanan tangan kiri Stifen berpegangan dengan tangan kanan Cinta.


"Sayang, di sini dingin sekali." ujar Cinta.


"Kamu pakai jas yang lebih tebal saja, supaya tidak masuk angin." titah Stifen.


"Aku tidak tahu ada atau tidak." Cinta membuka tasnya.


"Harusnya aku memberitahu, bila cuaca di sini dingin. Kamu mungkin tidak tahu, kalau sedang musim salju." Stifen jadi merasa bersalah.


"Sudahlah sayang, aku tidak apa-apa." Cinta tersenyum ke arahnya.


"Tenang, kita bisa berhenti dulu. Kamu pakai saja jaket milikku, biar aku pakai jaket yang lain." tawar Stifen.


Mobil mengerem mendadak, lalu Stifen memasangkan jaket ke tubuh istrinya. Namun masih terlihat menggigil, dengan bibir yang pucat. Stifen lebih mendekat lagi, lalu mencium bibir istrinya.

__ADS_1


__ADS_2