Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Gagal Pindah


__ADS_3

Robert keluar dari kamar hotel, sambil merapikan jasnya. Dia sudah puas di dalam kamar, menikmati keindahan sementara. Tidak peduli haram atau tidak, yang terpenting nafsu pikiran terpenuhi.


"Hahah... akhirnya aku bisa memuaskan diriku dengan perempuan cantik." Robert mengacak rambutnya yang basah, menjadi belah di bagian tengah.


Robert tersenyum saat melihat pelayan muda di hotel. Dia terlihat muda dan cantik, mengenakan rok mini dan juga lengan pendek. Robert berjalan dengan santai, lalu melihat sebuah pesan dari akun sosial medianya. Seorang gadis muda mengajaknya bertemu lagi.


Robert keluar dari hotel itu, menuju ke sebuah permainan komedi putar. Seorang perempuan rambut pirang itu mengedipkan mata, dengan senyum menggoda ke arahnya.


"Nanti, temani aku masuk kamar hotel. Aku akan bayar kamu sangat mahal." bisik Robert, dengan rayuannya.


Perempuan muda itu mengangguk. "Boleh Om, asalkan ada uangnya. Sekarang temani aku bermain komedi putar." Membenarkan poni rambutnya.


Di rumah malah diam-diam saja, Cinta dan Stifen memperhatikan Zahra yang tidak memberikan keputusan. Dia tampak keberatan, dengan permintaan anak dan menantunya. Zahra ingin Cinta dan Stifen bertahan selama beberapa bulan, lalu pergi saat anak pertamanya telah dilahirkan.

__ADS_1


"Cinta, Ibu tidak tahu apa yang ada di pikiran kamu. Mengapa kamu ingin pindah, tanpa membuat banyak pertimbangan." Zahra mulai menekan Cinta.


"Ibu, jangan salahkan Cinta. Aku juga ingin belajar mandiri, hidup bersama keluarga kecilku." jelas Stifen.


"Kita tunggu sampai Ayah kembali, dan lihat apa pendapatnya." ujar Zahra.


"Iya Bu." jawab keduanya serentak.


Robert tertawa saat mendengar permintaan mereka. Zahra melihat Robert sangat marah, tampak dari matanya yang menyorot tajam ke arah Cinta. Sebagai menantu, Cinta masih anggota baru di rumah tersebut. Jika dia mengutarakan dengan cepat, belum tentu dipercaya tanpa bukti.


"Ayah seorang pria, jangan cepat menangis. Ini baru musyawarah, belum ditentukan sepenuhnya." Cinta berusaha sabar, jangan menghadapinya dengan emosi.


"Meski belum ditentukan, namun sudah ada niat. Apa bedanya dalam hal ini, kamu memang menantu yang tidak bisa menghargai." jelas Robert, yang sengaja ingin menyudutkan menantunya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan berdebat. Kami tidak akan pergi, dan akan tetap tinggal di sini." ujar Cinta.


"Keputusan yang bijak, lain kali jangan berpikir untuk pergi lagi. Peraturan terbaru di rumah ini, menantu harus tinggal sampai melahirkan anak pertama." Robert tersenyum penuh kemenangan.


Cinta segera masuk ke kamarnya, setelah mengucapkan kata permisi. Hatinya sekarang sangat sedih, hanya pada Allah dia bisa bercerita. Dunia memang penipuan, tidak bisa dijadikan sandaran hakiki.


"Cinta, maafin aku iya. Mungkin lain kali, aku akan berhasil membujuk mereka." ujar Stifen.


"Tidak apa-apa sayang, kamu pasti capek bekerja." Cinta memijat tubuh suaminya.


"Cinta, aku tidak akan capek bila melihat senyum merekah di bibirmu." Stifen mencium kening istrinya.


"Terima kasih sayang, karena kamu mau berjuang untuk rumahtangga kita." jawab Cinta.

__ADS_1


Mereka tertidur dengan saling berpelukan, dan juga genggaman tangan. Esok harinya, salat Subuh berjamaah. Lalu Cinta masak ke dapur, dan mendapati sebuah tangan merayap ke arah pahanya. Cinta menoleh ke belakang, dan terkejut mendapati Robert. Dia segera menghempaskan tangannya, lalu refleks menampar pipi dengan kuat.


__ADS_2