Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Mertua Kurang Ajar


__ADS_3

Hari ini Stifen sudah bisa pergi kerja lagi, karena jalan-jalan berduaan sudah dilaksanakan. Tinggal nanti malam, mereka akan membuat acara makan bersama yang romantis.


"Sayang, nanti malam aku tunggu di atas balkon." ujar Cinta.


"Iya sayang, insyaAllah kembali tepat waktu." jawab Stifen.


"Hati-hati di jalan, istrimu selalu mendoakan yang terbaik." Cinta tersenyum ke arahnya.


"Terima kasih, kamu memang istri shalihah yang Tuhan kirim." Stifen melambaikan tangan, setelah Cinta menyalami tangannya.


Stifen segera mengendarai mobilnya, lalu pergi menuju perusahaan. Stifen menyuruh Fatihah, untuk masuk ke ruangannya.


"Kamu tolong salin berkas laporan ini, nanti akan diminta oleh investor saat kerjasama." pinta Stifen.


"Baik Pak, aku akan segera kembali. Maka tunggu sebentar!" jawab Fatihah.


Saat ingin menyalin dokumen dengan printer, malah Fatihah merasakan sakit perut. Dia tidak tahu, apa penyebab pastinya.


"Aduh, aku kenapa iya." Fatihah mengambil kertas salinan, yang sudah keluar dari lubang printer.

__ADS_1


Fatihah mengantarnya ke ruangan kerja Stifen, lalu meletakkan di atas meja. Dia permisi keluar, lalu ke toilet. Tidak lama kemudian dia keluar, lalu menulis surat izin.


"Eh, tolong berikan ke Pak Stifen iya. Perutku sakit sekali, aku sudah tidak tahan." ujar Fatihah, menoleh ke arah perempuan berkacamata.


"Baiklah, tunggu sebentar." jawab perempuan tersebut.


Dia pergi ke ruangan Stifen kerja, lalu disuruh mobil ambulance untuk dikeluarkan. Satpam akhirnya membuka bagasi, untuk mengeluarkan mobil tersebut. Fatihah merasa ini berlebihan, padahal dia bisa jalan kaki seperti biasanya. Jaraknya tidak terlalu jauh juga, namun dia tahu Stifen orang yang bertanggungjawab.


Robert membuka gerbang namun tidak berhasil karena terkunci. Robert segera memanjatnya, lalu melompat ke bawah. Robert berjalan mencari Cinta, yang sedang duduk di ayunan.


Cinta menghela nafas lega. "Akhirnya, aku dan Stifen bisa menjauh dari rumah itu."


Tiba-tiba sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang. Cinta merasa tangan tersebut berbeda, dengan tangan suaminya. Cinta menoleh ke belakang, dan terkejut sampai terjatuh.


Bruk!


"Sini, biar Papa bantu." Robert mendekatkan tubuhnya.


Cinta berdiri sendiri dengan cepat, Robert meraih jilbabnya dengan paksa. Cinta didorong paksa sampai membentur pohon besar, dengan cengkeraman kuat pada pundaknya. Robert hendak mendekatkan wajahnya ke wajah Cinta, namun ditendang dengan kakinya lebih dulu.

__ADS_1


"Tolong!" Cinta berteriak, sambil masuk rumah terburu-buru.


Cekrek!


Cinta berhasil mengunci pintu, lalu mencari ponselnya. Kursi sofa ruang tamu, itu yang terlintas dalam benaknya. Cinta segera menghampiri yang dituju, dengan terburu-buru.


"Ayo cepat angkat!"


Cinta melihat ke arah ponsel, dengan nama kontak Stifen. Tidak tahu mengapa, Stifen tidak bisa dihubungi. Cinta beralih ke nomor Fatihah dan Bilqis, mereka juga tidak mengangkat telepon.


"Kenapa mereka tidak bisa dihubungi." Cinta merasa cemas.


Brak!


Bruk!


Suara kaki Robert menendang pintu utama. "Cinta, lebih baik kamu menyerah. Semua orang sedang sibuk, karena aku sudah merencanakannya hahah..."


"Kamu benar-benar mertua berhati iblis." Cinta berteriak dengan lantang, dengan rasa ketakutan melanda dalam hati.

__ADS_1


Cinta segera berlari menapaki anak tangga, menuju ke lantai atas. Cinta masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya dengan rapat-rapat. Tidak lupa mendorong lemari, hingga menindih dinding pintu yang terbuat dari kayu.


"Suamiku aku takut, cepat pulang. Jaga kehormatan aku, sebagai istri terbaikmu." Cinta meneteskan air matanya.


__ADS_2