Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Zahra Marah


__ADS_3

Zahra membeli dua botol air minum, lalu pergi ke rumah Cinta. Saat gerbang dibuka, Cinta tersenyum ke arah mertuanya.


"Mama, ayo masuk ke dalam." Cinta menyapa dengan hangat.


"Kamu jangan berlagak baik lagi. Kamu itu cuma perempuan genit, yang sengaja merayu mertua sendiri." jawab Zahra.


"Tidak Ma, aku tidak pernah melakukan hal tersebut." ujar Cinta.


Zahra membuka tutup botol lalu menyiram air, ke wajah Cinta. "Masih tidak mengaku juga kamu, kalau sudah berbuat melanggar agama." Wajahnya merah padam, karena marah menggebu-gebu.


"Aku tidak akan mengakui, hal yang tidak aku lakukan." ujar Cinta.


"Kamu berarti mengajak perang dengan Mama. Kalau kamu akui sekarang, Mama masih bisa toleransi." Zahra memberi penawaran.


Robert dari jauh cekikikan seperti orang gila, padahal Cinta sedang disudutkan habis-habisan. Tapi dengan seenaknya, dia tidak peduli perasaan orang lain.


"Sudah dapat produknya, masih mau pabriknya." Zahra menatap kesal ke arah Cinta.

__ADS_1


"Ma, ini hanya salah paham. Aku bukan perempuan yang rakus nafsu dunia." Cinta masih membela diri, karena dia tidak bersalah.


"Sudahlah, aku bukan Stifen. Jangan anggap Mama bodoh, untuk berbaik hati padamu." ujar Zahra.


"Iya sudah terserah Mama mau anggap aku apa. Sekarang memang belum terlihat jelas, tapi suatu hari nanti Mama akan menyesal." jawab Cinta.


Zahra langsung pergi begitu saja, dia merasa ucapan Asha tidak mungkin salah. Selama ini, Cinta tinggal dengannya sudah dari kecil. Zahra mengira Asha jauh lebih memahami Cinta dari siapa pun juga.


"Bagaimana Ma, apa Cinta mau mengatakan semuanya dengan jujur?" Robert masih bertanya, pura-pura tidak tahu.


"Tidak, dia masih tetap pada pendiriannya." jawab Zahra.


"Mama mau pulang ke rumah, Papa pergi saja ke kantor pabrik." Zahra segera menyinggahi taksi, meninggalkan Robert sendirian.


Jam makan siang kantor tiba, setelah beberapa jam berkutat dengan laptop. Semua orang fokus di dalam ruangan masing-masing.


"Eh, menurut kamu aku harus berbuat apa untuk menghentikan Om Berto?" tanya Fatihah.

__ADS_1


"Tidak tahu juga, dia terobsesi denganmu." jawab Bilqis.


"Tapi, tingkahnya sungguh membuat risih. Dia terlalu mengejar, sampai tidak segan kurang ajar." jelas Fatihah.


"Kamu kerjain saja dia, aku juga bingung mengatasinya heheh..." canda Bilqis, sambil nyengir.


Tiba-tiba saja, datang Berto yang bersiul. Baru saja disebut-sebut, namun sudah muncul saja dia. Berto meniup poni rambutnya yang muncul ke depan.


"Hai Fatihah, boleh tidak ikut makan." sapa Berto ramah.


"Mengapa si, orang genit seperti kamu berkeliaran." teriak Fatihah, tidak dengan suara lantang.


"Lepaskan, suaramu indah untuk didengar. Jangan setengah-setengah bila berbicara." Berto memujinya, namun membuat muntah lawan bicara.


"Aku harap, di dunia ini hanya kali ini bertemu. Om lebih baik enyah dari pandanganku, sebelum aku berteriak menggunakan toa di lantai atas." Fatihah sangat kesal, dengan pria paruh baya itu.


"Fatihah, aku ingin kamu menjadi istriku." Berto memasang mimik wajah sedih.

__ADS_1


"Aku tidak peduli dengan keinginan hati Om. Aku tekankan sekali lagi, jangan mengganggu aku." jawab Fatihah.


Dia segera pergi setelah marah-marah, lama-lama stres karena dikejar-kejar. Berto merasa semakin menarik, dan tidak menyerah untuk menggodanya. Semua orang di kantin, sudah memperhatikan keributan barusan.


__ADS_2