Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Dipandangi Mertua


__ADS_3

Keesokan harinya, Robert melihat Cinta membungkuk meraih pakaian yang ada dalam keranjang. Cinta menjemur baju basah cucian kemarin, pada tiang jemuran. Robert memperhatikan sampai tidak melihat yang lain di sekitarnya, bahkan menggerakkan lidah yang menjulur berkali-kali.


"Mengapa Ayah memperhatikan cinta seperti itu?" Stifen melihat mata Robert tidak berkedip.


Robert jadi salah tingkah. "Heheh... Ayah hanya kagum sama istri kamu. Dia rajin sekali, pantas menjadi menantu."


"Oh, aku kira ngapain sampai bengong. Aku pikir, Ayah bukan memperhatikan cara kerjanya. Namun, ada maksud lain." Stifen menatapnya penuh selidik.


"Kamu berpikir terlalu jauh, Ayah tidak mungkin punya maksud buruk dengan menantu." jawab Robert.


"Ayah, di dunia ini banyak sekali kejadian tidak terduga." Stifen mengingatkan berita beberapa hari yang lalu.


"Kamu ini, pagi-pagi sudah menceramahi papamu yang lebih tua." jawab Robert ketus.


Ayah kandungnya memilih pergi ke kamar, mencari para perempuan di sosial media. Dia mengobrol kemudian mengajak berkencan, memang bergonta-ganti wanita menjadi kesenangannya. Dia tidak cukup puas, dengan istri sah saja.


"Yes, nanti bisa ketemuan dengan perempuan ini. Haduh, tidak sabar lagi. Aku harus menggunakan parfum, biar mereka tergoda." Robert membenarkan rambutnya, lalu melihat ke arah cermin.

__ADS_1


Sebelum pergi Robert berjoget di depan kamar, dia menunggu Cinta keluar. Tidak berselang lama, Cinta keluar bersama Stifen.


"Eh Stifen, Ayah mau pergi dulu. Ah Ayah harus berpamitan dengan Cinta juga." Robert tampak gembira ria.


"Ayah hati-hati iya di jalan." jawab Stifen.


Cinta hanya menundukkan kepalanya saja, dan Stifen menoleh ke arahnya. Cinta tampak ingin berkata-kata, namun bingung mengutarakannya. Jika bilang yang sebenarnya, Stifen akan bertengkar dengan ayahnya sendiri.


"Stifen, aku ingin membicarakan sesuatu." ucap Cinta.


"Katakan saja." jawab Stifen, dengan santai.


"Cinta, kamu mendadak sekali ingin pergi. Ibuku bilang, dia merasa kesepian bila kamu tidak menemaninya." jawab Stifen.


"Aku tahu, kamu anak tunggal. Namun, masih banyak teman-teman Ibu kamu yang mengajak pergi. Aku sering sendirian di rumah, jadi tidak nyaman." Cinta memberanikan diri, mengajak suaminya segera pergi.


"Iya sudah, kita tanyakan pada Ibu dulu." Stifen menarik tangan Cinta, menuju ke sebuah balkon.

__ADS_1


Zahra sedang berada di lantai paling tertinggi, merawat bunga-bunga Kesayangan. Zahra merangkul pundak Cinta, menyuruhnya untuk mendekat.


"Eh lihat lah, bunga ini dijuluki banyak orang sebagai lambang cinta sejati." ujar Zahra.


"Iya Bu, karena bunganya sangat cantik." jawab Cinta, dengan ramah.


"Bu, ada yang ingin kami utarakan." ucap Stifen.


"Iya sudah, kamu katakan saja." jawab Zahra.


"Aku dan istriku ingin pindah tempat tinggal." Stifen bicara dengan hati-hati, agar tidak menyinggung hati ibunya.


"Stifen, menginap di sini juga tidak masalah. Kita satu keluarga, pintu selalu terbuka lebar. Mengapa kamu ingin meninggalkan Ibu sendirian." Zahra tampak sedih.


"Ibu, Cinta tidak nyaman di sini." ujar Stifen.


"Benar Bu, bagaimana pun rumah sendiri akan terasa lebih bebas." timpal Cinta.

__ADS_1


"Kalian kalau mau bermesraan jangan malu-malu. Di rumah ini tidak ada yang melarang, bila kalian ingin makan sambil bersuap-suapan." Zahra melihat ke arah mereka, dengan pandangan mata berbinar-binar.


__ADS_2