
Beberapa Minggu kemudian, Stifen memberikan mahar pada Asha. Tentu saja ibu tiri Cinta merasa gembira, uang lima ratus juta bukanlah sedikit.
"Terimakasih iya Stifen." ucap Asha, dengan raut wajah sumringah.
"Iya, sama-sama." jawabnya.
"Kalau bisa, sering-sering iya kasih mahar." ujar Asha.
"Iya Bu atas seizin Tuhan, aku akan memberikan yang Ibu butuhkan." jawab Stifen.
"Harusnya kamu memberikan apa yang Ibu inginkan. Ibu ini, akan menjadi mertua kamu." Asha masih fokus menghitung uang.
"Ibu, jangan bilang seperti itu. Uang lima ratus juta itu, sudah lebih dari cukup." sahut Cinta.
"Hih, kamu memang kurang cerdik. Selagi ada kesempatan, harus digunakan dong." jawab Asha.
"Kami pulang dulu iya Bu." ujar Zahra.
"Iya, hati-hati di jalan." jawab Asha.
Asha melambai-lambai kecil tangannya, seiring langkah kaki Stifen dan Zahra yang semakin menghilang.
"Kalian kenapa semakin menjauh?" Asha bertanya-tanya sendiri.
"Mereka 'kan sudah pulang Bu." jawab Cinta.
__ADS_1
"Kamu itu jangan bodoh deh, pinta mobil sana sama Stifen. Ibu itu ingin pamer sama orang kampung, bahwa Ibu tidak jalan kepanasan lagi." ujar Asha.
"Bu, kita itu tidak boleh pamer. Kita juga tidak boleh berlebihan dalam meminta, meski dia calon suami kita." jawab Cinta.
Zahra terlihat cemberut sepanjang perjalanan. Ada dikit rasa sesal, menyetujui pernikahan Stifen dan Cinta.
"Stifen, Ibu jadi menyesal menemani kamu untuk ta'aruf dengan Cinta." ujar Zahra jujur.
"Kok Ibu bicara seperti itu." jawab Stifen.
"Kamu lihat saja, belum menikah Ibunya sudah banyak permintaan." ucap Zahra.
"Iya Bu, aku mengerti. Tapi, Cinta gadis yang baik." jawab Stifen.
"Jangan salahkan Ibu, kalau kamu kecewa." ucap Zahra.
”Ntah mengapa, aku tidak rela sampai sekarang. Aku suka sih anaknya, tapi tidak suka Ibunya.” batin Zahra.
Mereka sudah sampai ke rumah, dan terlihat seseorang menunggu di depan pintu.
"Sudah aku katakan, jangan mudah untuk mempercayai seseorang." Robert berucap, saat melihat wajah Zahra yang merah padam.
"Siapa yang mempercayai seseorang." jawab Zahra ketus.
"Buktinya saja, kamu langsung menyetujui si Stifen untuk melamar Cinta." ujar Robert.
__ADS_1
"Karena anak kita itu cinta padanya." jawab Zahra.
"Hari ini, masih mengandalkan atas nama cinta. Kamu sudah seperti bintang drama." Robert mengejeknya.
"Pa, Cinta itu baik. Tidak bisa disamakan, dengan Ibunya." jelas Stifen.
Stifen segera pergi meninggalkan mereka berdua. Dia masuk ke dalam kamarnya, dengan diam saja tanpa suara.
"Kenapa Papa tidak suka dengan Cinta, padahal dia belum pernah ketemu." monolog Stifen.
Stifen hendak pergi ke dapur, terlihat Robert yang sedang bersandar pada tembok.
"Aku tidak akan membiarkan Cinta bersama Stifen. Aku harus mendapatkannya, apa perlu menjadi istri kedua. Aku yang bertemu dia duluan, dan naksir sama dia." Robert bergumam-gumam lirih.
Stifen masih dapat mendengarnya, dia segera menghampiri Robert.
"Papa, ternyata Papa suka sama Cinta. Lebih baik Papa lupakan, sebelum Mama mengetahui." ujar Stifen.
"Kalau Papa tidak mau bagaimana, ayo kita bersaing untuk menjadikannya hak milik." Robert sengaja menantangnya.
"Tidak, aku dan Cinta akan segera menikah." ucap Stifen.
"Papa bisa saja menggagalkan rencana mu itu." jawab Robert mengancam.
"Papa, tolong pikirkan perasaan Mama." ujar Stifen.
__ADS_1
"Hah, Papa tidak peduli." Robert segera meninggalkan Stifen.