Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Berto Menggantikan Stifen


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Robert mendatangi rumah Stifen. Padahal baru saja mau pergi kerja, namun dihadang oleh Robert. Hari ini kedatangannya dengan maksud terselubung, tidak seperti biasanya.


"Stifen, waktu Fatihah bertemu Robert di cafe, kamu membuatnya malu di depan umum." ujar Robert.


"Bukan salahku, harusnya dia yang tahu malu." jawab Stifen.


"Stifen, melihat caramu yang memimpin perusahaan kacau, Papa ingin kamu berhenti turun tangan. Biar Papa saja yang kembali memegang Aditama Grup." ujar Robert.


"Papa, soal mempermalukan Om Robert karena tingkahnya sendiri. Jika dia kurang ajar pada bawahan ku, tentu harus aku lindungi." jelas Stifen.


"Itu sama saja salah, karena kamu tidak menghargai sahabat Papa." ucap Robert.


"Ini bukan tentang menghargai, namun tegas dalam bertindak." jawab Stifen.

__ADS_1


"Nah, sifatmu satu ini Papa tidak suka. Kamu berani melawan, tidak seperti biasanya. Jika Aditama Grup dipimpin oleh orang sepertimu, Papa mulai ragu." sindir Robert.


"Iya sudah, terserah Papa saja. Aku tidak memaksa, untuk menjalankan aktivitas perusahaan. Namun jangan mengeluh lagi, jika perusahaan di ambang kebangkrutan seperti lima tahun lalu." Stifen mengingat masa-masa sulit dulu, dipaksa hati sendiri ikut berjuang demi orangtua.


"Satu hal lagi, kalau kamu mencari pelaku yang telah mencairkan rekening perusahaan. Pelakunya adalah Cinta, Papa sendiri saksinya." ucap Robert.


"Aku tidak percaya, dengan ucapan Papa. Aku lebih mengenal Cinta, aku tahu dia orang yang seperti apa." jelas Stifen.


Stifen tidak jadi pergi, dia memilih masuk ke dalam rumah. Setelah kepergian Robert, dia membawa Cinta ke sebuah menara pengawasan hutan. Cinta dan Stifen menjerit secara bersamaan, melepaskan gundah gulana yang terpendam.


Hamparan padang rumput yang luas, membuat mata mereka lebih leluasa memandang. Pikiran jadi lebih mudah untuk berpikir, memecahkan masalah yang terjadi.


Fatihah hanya bisa pasrah, tatkala diberi tugas lembur. Hal yang paling mengejutkan, saat Berto yang masuk ke dalam ruangan. Padahal seharian tadi, Fatihah hanya menerima kabar Stifen izin.

__ADS_1


"Aku adalah Wakil Direktur baru, kamu patuhi aku." ujar Berto.


"Selama urusan pekerjaan, aku akan mematuhinya." jawab Fatihah cuek.


"Urusan bermesraan juga pekerjaan, meski tidak mencakup dengan jelas. Namun ini merupakan ketentuan terbatas, yang ditawarkan oleh seorang Berto." ucapnya.


"Kamu beritahu saja pada gadis lain, yang jelas-jelas bersedia menjadi sekretaris. Jika Pak Stifen mundur, aku keberatan bekerja di sini." jelas Fatihah.


"Kamu mau keluar kerja dari sini, harus meninggalkan sebuah kenangan." Berto menarik paksa jilbab Fatihah.


Masih ditahan oleh kedua tangannya. "Hentikan, atau aku akan berteriak." Fatihah mulai takut.


Dengan gerakan cepat mengirimkan pesan, lewat ponsel yang ada di dalam sakunya. Sakit dada Cinta kambuh lagi, tiba-tiba terasa sesak. Bersamaan dengan itu, ada pesan masuk dari sahabatnya. Fatihah meminta tolong, supaya membantunya keluar dari Aditama Grup.

__ADS_1


"Cinta, sekarang wakil direktur berubah menjadi Om Berto. Kamu harus tolongin aku, karena aku terjebak berdua dalam ruangan."


Cinta memaksakan diri keluar, takut terjadi apa-apa pada sahabatnya. Bisa-bisa hancur masa depan Fatihah, jika Berto telah merusaknya. Cinta berjalan tertatih-tatih, meraih sepeda.


__ADS_2