Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Usaha Berkembang Pesat


__ADS_3

Usaha Stifen makin hari laris manis, banyak manusia yang menjadi pelanggan tetap di tokonya. Berbeda dengan Robert, yang semakin kacau dalam mengurus perusahaan Aditama Grup.


"Mengapa kalian ini bekerja dengan tidak becus. Semakin hari, ada saja masalah baru." ujar Robert.


"Kami bukan tidak becus, namun Bapak yang jarang ada di perusahaan." jawab Ade.


"Kalau memang ini salahku, coba kamu pikir mengapa bisa rencana target pasar bocor." Robert tegak pinggang.


"Aku juga tidak tahu, bukan aku yang di bagian perencanaan." jawab Ade.


Stifen mengelap bibir Cinta dengan tisu, lalu Fatihah dan Bilqis saling pandang. Merekam senyum pun tidak, hanya biasa saja. Tidak enak juga, bila terlihat usil.


"Pak Stifen, terima kasih telah menampung kami di sini. Terhitung hari ini, sudah masuk tiga bulan." ujar Fatihah.


"Tidak apa-apa, Cinta juga tidak perlu sendiri lagi." jawab Stifen.


"Namun, kami takut nanti menjadi fitnah. Jadi kami memutuskan untuk pergi hari ini." ucap Bilqis.


"Kalau kalian pergi, kita mau menjual kue jajanan bagaimana? Pasti berjauhan, padahal lebih enak kalau berdekatan." jawab Cinta.

__ADS_1


"Seperti ini saja, kalian tinggal di dalam ruang pribadi toko saja. Bisa sekalian menjadi karyawati di sana." tawar Stifen.


"Terima kasih Pak. Namun, kalian telah banyak membantu kami. Rasanya, kami tidak enak untuk menerima bantuan lagi." jawab Fatihah.


"Kalian ini sahabat terbaik istriku, dia akan kesepian bila aku tinggal pergi. Beruntung ada kalian, bila ada urusan tidak perlu terlalu khawatir." ujar Stifen.


"Baiklah, kami akan mempertimbangkan lagi." jawab Bilqis dan Fatihah bersamaan, menyetujui yang Stifen inginkan.


Tiba-tiba saja, ada suara riuh di depan pintu gerbang. membuat semua yang ada di meja makan menyudahi. Keempat orang tersebut keluar, sambil menatap pada semua orang.


"Keluar kalian semua!" teriak ibu-ibu kuncir kuda.


"Dua perempuan ini masih menginap. Padahal sudah tiga bulan, jangan-jangan selingkuhan yang Bapak sembunyikan." ujarnya sembarangan menduga saja.


"Jelas saja mereka di sini, karena mereka teman istriku. Lagipula mereka yang akan membantu menjaga toko, sekalian berjualan di kedai." jawab Stifen.


"Mengapa tidak tinggal terpisah saja?" Masih bertanya-tanya, sambil dorong-dorong kepala desa.


"Benar, aku takut kalian berbuat yang tidak-tidak." timpal pria paruh baya, yang merasa terpanggil dengan dorongan.

__ADS_1


"Tenang saja, sekarang kami akan pergi dari rumah ini." jelas Bilqis.


Bilqis dan Fatihah masuk ke dalam rumah, tidak butuh waktu lama sudah menyiapkan koper. Ibu kuncir kuda dan kepala desa tersenyum, merasa keputusan ini adil.


"Nah, dengan seperti ini tidak akan meresahkan warga. Dapat menetralisir gunjingan atau fitnahan yang terjadi." ujar kepala desa.


Bilqis menerima kunci toko, yang diberikan Stifen. "Baiklah, kami permisi."


Setelah kepergian semua orang, Stifen mengajak istrinya berbicara empat mata. Ada hal penting yang ingin dibicarakan berdua.


"Ada investor yang ingin menemui aku di luar negeri. Apa kamu mau ikut?" tanya Stifen.


"Hmmm... jika tidak merepotkan boleh saja." jawab Cinta.


"Tidak si, hanya saja kamu akan kecapekan." ujar Stifen.


"Tidak apa-apa, itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan." jawab Cinta.


"Aku menanam saham, lalu disetujui dengan CEO luar negeri." Stifen

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menemani kamu, sebagai wujud mendukung usaha suami." jawab Cinta.


__ADS_2