Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Bermesraan


__ADS_3

Cinta dan Stifen berjalan ke ruang makan, lalu duduk di kursi bersama. Cinta merasa sedih, karena gagal menyiapkan makan malam romantis.


"Sayang, sebenarnya aku tidak lupa sama acara romantis kita berdua." ujar Cinta.


"Iya, aku tahu kok. Kamu tidak membuatnya, karena ada hal mengganggu." jawab Stifen.


"Kamu serius, berpikir seperti itu?" tanya Cinta.


"Iya sayang, aku kenal istriku. Aku percaya sama kamu, meski pun Papa adalah orangtua kandung." Stifen tersenyum ke arah istrinya.


"Sayang, tapi Papa kamu itu keterlaluan sekali. Kita harus beri dia peringatan, supaya dia jera." Cinta mengusulkan idenya.


"Benar sayang, nanti kita pikirkan caranya bersama." Stifen mengambil nasi untuk istrinya.


Usai makan malam, mereka menghabiskan waktu di dalam kamar. Mereka akan melakukan hal yang biasa pengantin baru lakukan, yaitu mewujudkan keinginan dengan berusaha membuat keturunan.


"Sayang, ini yang kesekian kalinya. Namun, aku harap kamu tidak bosan." ujar Stifen.


"Tidak sayang, selama denganmu." jawab Cinta.


Keesokan harinya, Cinta dan Stifen bangun pagi-pagi sekali. Meski dalam waktu panjang bergadang, karena kegiatan mesra. Sampai banyak peluh bercucuran, karena bekerjasama mesra semalaman.


"Sayang, terima kasih telah melayani suamimu." ujar Stifen.

__ADS_1


"Iya sayang, sama-sama." jawab Cinta.


"Lakukan semua karena Allah, supaya hidup kita diberkahi." Stifen mengusap lembut kepala istrinya.


"Iya sayang, ayo mandi bersama." ajak Cinta.


Fatihah duduk di kursi, mengingat hari kemarin dengan jengkel. Bisa-bisanya Berto datang ke mes. Belum lagi suaranya yang berteriak-teriak.


"Kamu tahu tidak, kalau aku kesal sekali dengan Om Berto." ujar Fatihah.


"Memangnya ada apa, sampai kamu begitu marah." jawab Bilqis.


"Dia mendobrak pintu mes, lalu aku biarkan saja. Aku malas meladeninya." ucap Fatihah.


"Bagusnya dia pergi dengan sadar diri. Daripada terus berteriak seperti orang gila." ujar Fatihah.


"Pasti dia datang lagi besok, karena Cinta sudah tidak dapat diharapkan. Dia sudah mempunyai Stifen, yang bisa menjaganya setiap hari." jawab Bilqis.


Pagi pukul 08.00, Asha bertemu dengan Robert. Tidak lupa dia merokok di depan Robert, dan dilihat dengan banyak pengunjung restoran.


"Aku ingin kamu cuci otak Stifen dan Zahra." ujar Robert


"Bisa, kalau ada nominal pembayaran yang besar." jawab Asha.

__ADS_1


"Asal kamu mau bersaksi di depan Stifen, bahwa Cinta pernah bermain gila dengan lelaki. Kamu harus menyudutkannya di depan istriku Zahra." ucap Robert.


"Oh, jadi kamu ingin lari dari masa lalu." Asha teringat kejadian sebelumnya.


"Sudahlah, aku tahu kamu ingin kaya. Hidup mewah, serta bergelimang harta." rayu Robert dengan serius.


"Aku terima tawaran kamu, meski jadi saksi palsu." Asha tersenyum, sambil menyentil debu di ujung rokok.


"Ini baru keputusan hebat, karena mau menuruti keinginan aku." jawab Robert.


Cinta menyiapkan makanan khusus untuk Stifen. Sudah dimasukkan ke dalam bekal, untuk makan siang di kantor.


"Sayang, kamu masak apa?" tanya Stifen.


"Aku masak sambal udang." jawab Cinta.


"Beli di mana?" Stifen ingin tahu.


"Aku beli di tukang jual sayur. Dia lewat sambil teriak bolak-balik. Kalau tidak dibeli kasian juga, butuh untuk biaya sekolah anaknya. Sekalian membantu dia mencari nafkah, maka aku berlangganan dengannya." jelas Cinta.


"Sayangku pintar sekali! Membantu orang yang butuh pertolongan itu baik." ucapnya.


"Iya sayang." jawab Cinta.

__ADS_1


__ADS_2