
Banyak para pembeli yang berdatangan, ketika kue sudah tersusun rapi dalam lemari kaca. Semua orang tampak antusias membeli, menjadi ketagihan setelah mencicipi rasanya.
"Jangan-jangan ada racunnya lagi, karena dendam sama kita soal tadi." ujar ibu-ibu kuncir kuda.
"Iya sudah, jangan dibeli dagangannya." jawab orang, yang ada di sebelah.
Meski tidak dibeli dengan dua orang tetangga nyinyir, namun masih ada banyak orang yang mau membeli dagangan Cinta.
"Alhamdulillah, dagangan hari ini laris." ujar Fatihah.
"Itu semua karena kerjasama kita bertiga." jawab Cinta.
"Kalau rezeki tidak akan kemana." ucap Bilqis.
"Iya, meski pun banyak rintangan. Namun berharap hari-hari berjalan lancar." jawab Cinta.
Malam hari tubuh terasa lelah, Bilqis dan Fatihah giliran pijat-pijat. Cinta dan Stifen juga memijat tubuh masing-masing. Sampai kokok ayam terdengar, karena hari menjelang pagi.
__ADS_1
"Cinta sayang, ayo bangun salat Subuh berjamaah." ajak Stifen.
"Iya sayang." jawab Cinta.
Usai salat Subuh bersama, Cinta keluar dari kamar. Sementara Stifen mengaji sebentar, supaya perasaan lebih tenang. Pikiran pun menjadi lebih leluasa.
"Kalian masak apa?" Cinta menghampiri Fatihah dan Bilqis yang sedang membuat kue lagi.
"Kami mau masak sarapan pagi, tapi membuat jualan penting juga." jawab Bilqis.
"Tangan kamu masih sakit, terlalu bersemangat aktivitas. Masih ada aku dan Fatihah, yang bisa membuat sendiri." ujar Cinta.
Sementara di sisi lain, Zahra mendengar baik-baik celotehan Robert. Suaminya memberitahu tentang Aditama Grup yang diambil alih olehnya.
"Papa, setahu Mama perusahaan berjaya di bawah pimpinan Stifen. Mengapa mendadak Papa menyuruh dia pergi begitu saja." Zahra heran.
"Mama meragukan Papa, karena bangkrutnya laba perusahaan lima tahun lalu." Robert menjadi kesal mendengarnya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, Papa kalau mau beri pelajaran kira-kira. Nanti mereka mau makan apa, bila kamu melakukan hal ini." Zahra masih tidak setuju, dengan keputusan Robert.
"Anak pembangkang seperti Stifen, memang harus diberikan pelajaran. Biar dia tahu rasa, bagaimana hidup tanpa uang." Robert berlalu dari hadapan Zahra.
Stifen mulai membuka tempat sewanya, yang menjual barang-barang sembako. Dengan kelihaian Stifen, dia bisa menjangkau banyak orang. Komunikasi yang baiknya dulu, dapat mencapai pembeli dengan maksimal. Robert datang sambil membawa sebuah kotak perhiasan. Di dalamnya ada kalung, yang tampak berkilauan cahaya.
"Cinta, anggap saja ini kalung perdamaian dari Papa." ujar Robert.
"Lebih baik Papa berikan ke Mama saja, aku bisa membelikan untuk istriku." jawab Stifen.
"Stifen, kamu jangan sombong sama Papa. Kamu sudah tidak berada di perusahaan Aditama Grup lagi." Robert mengingatkan posisinya yang sekarang.
"Rezeki sudah ditakar, tidak akan pernah tertukar. Di mana pun asalkan mau berusaha, kita masih bisa memperoleh uang." ujar Stifen.
"Jangan sombong dengan Papa sendiri. Di sini Papa hanya ingin memberi hadiah pada menantu. Apa kamu lupa sopan santun, menolak pemberian di depan umum." Robert melihat ke sekelilingnya, banyak para pembeli di kedai kue.
"Harusnya Papa tahu ini tempat umum, menjaga etika itu baik." ujar Stifen.
__ADS_1
"Baiklah, Papa catat ini sebagai perlawanan awal dalam permainan." Robert pergi begitu saja, namun hatinya tidak menyerah untuk merebut Cinta.
Robert emosi dengan Stifen, karena dia tidak mengizinkan Cinta mengobrol dengannya. Robert marah-marah di pinggir jalan, sampai memberikan kotak perhiasan ke sembarang orang lewat.