
Cinta pergi ke rumah guru mengajinya, bersama Stifen suaminya. Stifen dipersilakan masuk, dengan diberikan jamuan roti kering.
"Silakan dimakan cinta." ucapnya.
"Iya Bu, terima kasih." jawab Cinta.
"Cinta sekarang kerja di mana?" tanyanya, sambil senyum.
"Aku kerja di toko bersama suami." Cinta menoleh ke arahnya.
"Suami kamu ini pemilik perusahaan Aditama Grup." Menduga tepat sasaran.
"Bagaimana Ibu bisa tahu, padahal aku tidak mengatakannya." Cinta heran, karena tepat sasaran.
"Sudah tidak asing lagi, banyak yang mengatakannya. Dia orang paling terpandang di desa." Perempuan paruh baya itu tersenyum.
Cinta menganggukkan kepalanya. "Iya, iya, harusnya aku mengetahui sejak awal." jawabnya.
Saat sampai di rumah, Cinta dan Stifen melihat Zahra berada di depan gerbang.
"Cinta, kamu kembali tinggal dengan kami iya. Lagipula ada Mama juga, Papa kamu akan diawasi." pinta Zahra.
__ADS_1
"Mama, kami sudah punya rumah sendiri. Lebih nyaman kalau tinggal berdua." jawab Cinta.
"Stifen, masa kamu tega sama orangtua sendiri." rayu Zahra, dengan raut wajah sedihnya.
"Bukan seperti itu Mama, aku lebih ingin fokus pada program kehamilan Cinta." Stifen menoleh ke arah istrinya.
"Cinta, Mama harap kamu segera mempunyai anak." ujar Zahra.
"Aamiin Ma, terima kasih." jawabnya.
"Stifen, kamu mau 'kan kembali ke perusahaan Aditama Grup. Nanti perusahaan yang sudah lama dibangun berantakan, karena kepimpinan Papa kamu." Zahra memberitahu Stifen, tentang tidak baiknya kondisi sekarang.
"Iya Ma, kalau soal pekerjaan Stifen pasti bantu. Bagaimana pun kalian tetap orangtuaku." jawab Stifen.
"Cinta, kamu jangan takut dengan Papa. Sungguh Papa telah bertaubat sekarang." ujar Robert, sambil mengedipkan mata.
"Kalau Papa ingin mendapat kepercayaan dari seseorang, berhenti bersikap seperti ini." jawab Cinta.
Robert membenarkan jasnya, memilih bersikap biasa saja. Dia sudah ada maksud terselubung, dengan dibantu Asha berbuat jahat. Robert punya niat, untuk mendapatkan Cinta sebagai miliknya.
"Cinta, sekarang suamimu sedang kerja. Kamu kalau merasa sepi, datang ke rumah saja. Ada Mama Zahra kok di rumah, dia pasti senang kalau kamu menginap." ucap Robert.
__ADS_1
"Tidak perlu Pa, aku ada teman." jawab Cinta.
"Sebaiknya Om pergi dari sini, kami tidak nyaman." sahut Bilqis.
"Aku sudah bertaubat, tidak akan mengganggu. Sampai jumpa!" Robert lambai tangan, lalu pergi begitu saja.
Robert pergi sambil terus menebar senyuman, entah apa maksudnya melakukan hal tersebut. Fatihah dan Bilqis berbicara pada Cinta, kalau mereka berdua curiga pada tingkah Robert.
"Kamu harus waspada di rumah, soalnya aku mau pulang kampung. Adik sekarang sakit perut parah." ujar Bilqis.
"Loh, sakit lagi." Fatihah heran.
"Iya, harus dirawat di rumah sakit kota." Bilqis merasa prihatin.
"Hmmm... semoga dengan sakit, akan menambah semangat imannya." jawab Fatihah.
Malam hari yang gelap gulita, Cinta sendirian di rumah. Hujan turun dengan deras, ditambah listrik juga padam. Gerbang sudah dikunci rapat dengan Cinta. Robert seharusnya tidak bisa masuk, namun dibantu Asha membuatnya mudah bereaksi.
"Aku tidak akan lupa dengan kebaikan kamu ini. Terima kasih!" ujar Robert.
"Tidak masalah, asalkan kamu beri aku bonus." jawab Asha.
__ADS_1
"Tenang saja, masalah perusahaan sedang dibereskan oleh Stifen." ucap Robert.
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya. Selamat bersenang-senang." Asha tersenyum licik.