Tasbih Terakhir

Tasbih Terakhir
Bertengkar


__ADS_3

Suasana dapur akan terjadi konflik memanas, karena Stifen muncul. Apalagi Robert egois, dan tidak mau mengalah.


"Mengapa kalian berbicara seperti itu pada istriku." Stifen ternyata sejak tadi berdiri, di balik tembok pembatas.


"Sorry Stifen, kamu jangan tersinggung lebih dulu. Kami tidak bermaksud jahat, hanya mengajak Cinta bercanda." jawab Robert.


"Aku tidak bilang apa pun, hanya Papa yang merasa jahat." ujar Stifen.


"Papa hanya mengatakannya, bukan berarti dia melakukan hal jahat. Kamu sudah dewasa, jangan selalu ditipu dengan diam saja." jawab Zahra.


Stifen tidak ingin istrinya tertindas, dia mengambil langkah cepat. Stifen membereskan barang-barangnya, memasukkan ke dalam koper. Lalu memasang sepatu pada kaki istrinya.


"Sayang, coba sejak awal kamu bilang padaku, kalau Papa dan Mama tidak memperlakukan kamu dengan baik."


"Aku takut kamu tidak percaya, bagaimana pun mereka orangtua kamu." jawab Cinta.


"Mereka sudah keterlaluan, tidak mengapa kita pergi." ujar Stifen.

__ADS_1


"Sebenarnya, Mama baik denganku. Saat kamu melihatnya di dapur memarahiku, itu adalah yang pertama kali. Selama ini dia lembut, dan berlaku manis padaku." jelas Cinta.


Stifen memasangkan sepatu ke kaki istrinya. "Sejak awal, aku kurang sependapat dengan Papa. Dia tampak menentang hubungan kita, terdengar agak aneh." ucap Stifen.


"Hmmm..." Cinta hanya berdehem, karena masih ada yang disembunyikan.


”Stifen, maafin aku. Sebelum bertemu di rumah ini, aku sudah mengenal papamu. Dia pria hidung belang, yang membayar ku untuk ditiduri.” batin Cinta menangis.


Sudah sampai di ruang makan, Stifen dan Cinta ikut duduk. Zahra sudah tahu, mereka akan pergi. Robert melirik ke arah Cinta, yang menurutnya kelihatan cantik pagi itu.


"Kamu sekarang semakin berani keluar iya, meski Papa tidak memberi izin." celetuk Robert, dengan sinis.


"Stifen, dalam berkeluarga biasa ada keributan. Kalau hal kecil cepat pergi, kamu belum dewasa dalam membina rumahtangga." ujar Robert.


"Papa tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan." jawab Stifen.


Robert menatap dari balik gorden jendela, dengan perasaan kesal. Sekarang amarah sedang memenuhi hatinya, tatkala Stifen membukakan pintu mobil. Cinta masuk ke dalamnya, disusul dengan Stifen yang segera masuk. Mobil melaju dengan perlahan, menuju ke sebuah perumahan elit.

__ADS_1


"Loh, kamu kok mendadak ke sini?" tanya Cinta.


"Kita 'kan mau pindah rumah." jawab Stifen.


"Sayang, tidak mungkin bisa mendadak tinggal di sini." ujar Cinta.


"Aku sudah membelinya kemarin, karena aku tahu istriku ingin pindah. Aku rasa, hari ini waktu yang tepat. Meski kita hanya sementara, dan mungkin kembali ke rumah lama, bila hal darurat terjadi." jelas Stifen.


Robert merasa kesepian, tidak ada lagi menantu yang bisa digoda. Robert mencari sebuah cara, agar Cinta dan Stifen kembali. Tidak tahu apa yang dipikirkannya, hingga terbesit sebuah ide mantap.


"Aku pura-pura sakit saja, dengan seperti itu mereka akan tinggal di sini. Iya, aku harus memanfaatkan hal ini, dengan sebaik-baiknya." monolog Robert.


Robert terbatuk-batuk, lalu Zahra menghampirinya. Robert memegangi dadanya yang sakit.


"Papa kenapa?"


"Ntahlah, sepertinya sakit paru-paru." jawab Robert, dengan lirih.

__ADS_1


Zahra memapah tubuh Robert, lalu diantar ke rumah sakit menggunakan mobil. Stifen dan Cinta baru saja santai, tiba-tiba mendapatkan telepon dari Zahra.


__ADS_2