
Keesokan harinya, Arsen dan Anindya mulai datang ke cabang perusahaan Arsen yang sedang mengalami penurunan akibat penggelapan dana dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi perusahaan tersebut.
Arsen telah duduk di kursi ruang rapat dengan gagah dan begitu berwibawa, sementara Anindya berada di sebelah kirinya untuk mencatat segala isi dalam rapat.
"Bagaimana perusahaan bisa sampai turun seperti ini, tahun lalu perusahaan ini menduduki puncak teratas dalam penjualan dibanding cabang yang lain?" tanya Arsen, matanya melirik satu persatu peserta rapat yang ada.
"Maafkan kami, Pak. Itu semua terjadi diluar kendali kami," jawab manajer perusahaan mewakili.
"Manajer pemasaran, anda bisa menjelaskan lebih detail lagi apa yang dimaksud oleh pak Anwar?" tanya Arsen pada bagian pemasaran perusahaan.
"Semua terjadi di luar kendali, Pak. Kami tidak tahu jika bagian keuangan akan menggelapkan dana sampai miliaran seperti itu bahkan berhasil membobol habis data penting perusahaan." Jawab Bagian pemasaran menjelaskan.
"Dimana bagian informasi?" tanya Arsen melirik satu persatu peserta rapat.
"Beliau pergi bersama bagian keuangan setelah melakukan kerjasama untuk merugikan perusahaan, Pak." Jawab Manajer sedikit takut.
Arsen menggebrak meja hingga membuat semua peserta rapat termasuk Anindya terjingkat kaget karena nya. Anindya melirik Arsen yang terlihat sedang begitu emosi setelah mendengar penjelasan dari semua bawahannya meski sejujurnya ia tak paham dengan bahasa yang mereka gunakan.
"Kenapa bisa sampai kebobolan hah?! Bagaimana sistem keamanan perusahaan ini!!" bentak Arsen dengan sorot mata penuh amarah.
"Kami minta maaf, Pak. Lain kali kami akan lebih berhati-hati," ucap manajer perwakilan.
"Saya tidak peduli dengan uang yang mereka bawa lari, yang saya takutkan adalah data-data penting perusahaan. Dan saya tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kalian harus menstabilkan kembali perusahaan ini atau saya akan benar-benar memecat kalian semua dan menutup cabang ini!" pungkas Arsen lalu bangkit dari duduknya.
Semua peserta rapat dan Anindya ikut bangun dari duduknya, Arsen keluar dari ruangan disusul oleh Anindya.
"Kami permisi, selamat siang." Pamit Anindya dengan sopan.
__ADS_1
Anindya mengikuti langkah Arsen masuk ke dalam lift, pria itu terlihat lebih tenang namun matanya masih menyiratkan banyak amarah di dalamnya.
Anindya tersenyum simpul, ia meraih tangan Arsen lalu mengusapnya pelan.
"Saya tahu anda marah, Pak. Namun mereka semua juga pasti sudah berusaha untuk membuat semuanya kembali baik, anda tenanglah. Saya yakin karyawan disini sangat berkualitas," tutur Anindya dengan lembut.
Arsen menatap wajah cantik Anindya dengan seksama, melihat senyuman wanita itu benar-benar berhasil mengurangi amarah dalam dirinya. Arsen mengusap pipi Anindya lalu mencium bibir wanita itu secara tiba-tiba.
Anindya melototkan matanya, saat ini mereka berada di tempat umum, bagaimana jika sampai ada yang memergoki mereka seperti ini.
Anindya mendorong dada Arsen menjauh. "Nanti dilihat karyawan yang lain, Pak." Ucap Anindya pelan.
Arsen terkekeh, ia mengangkat dagu Anindya lalu mencium gemas pipi Anindya yang memerah.
"Wajahmu merah, Assa. Kau demam atau gugup?" tanya Arsen usil.
"Pak, berhenti menggoda saya." Tegur Anindya tanpa menatap Arsen dan terus saja menunduk.
"Astaga, indah sekali!!!!" pekik Anindya melihat pemandangan kota Acapulco.
"Hmm, tapi tidak lebih indah dari mu." Balas Arsen tiba-tiba memeluk Anindya dari belakang.
Anindya menahan nafasnya, ia terdiam merasakan pelukan Arsen yang akhir-akhir ini terasa begitu hangat bahkan perlakuan pria itu berubah dan tak memaksa dirinya lagi.
"Kau tahu, Assa. Aku paling suka memelukmu seperti ini, tubuh kecilmu seakan habis dalam pelukanku." Celetuk Arsen dengan wajah yang tenggelam di perpotongan leher Anindya.
Anindya memejamkan matanya, ia menghela nafas lalu mengusap tangan Arsen yang melingkari pinggangnya dengan apik.
__ADS_1
"Boleh saya tanyakan sesuatu, Pak?" tanya Anindya ragu-ragu.
"Hmm." Balas Arsen berdehem karena begitu menikmati kehangatan tubuh Anindya.
"Jika anda sudah bosan dengan saya, apakah anda akan benar-benar membuang saya, Pak?" tanya Anindya berusaha mengatur nafasnya yang perlahan sesak.
"Assa, aku sedang tidak ingin membahasnya." Jawab Arsen membuat Anindya tersenyum remeh.
"Kapan itu datang, Pak. Kapan Anda bosan dengan saya dan melepaskan saya?" tanya Anindya masih terus membahasnya.
"Assa." Tegur Arsen masih berusaha untuk sabar.
"Saya tahu posisi, Pak. Bukankah wajar saja jika bertanya--" Ucapan Anindya terhenti saat Arsen tiba-tiba membalik dan membenturkan tubuhnya ke dinding kaca disana.
"Assa, aku sedang tidak ingin membahasnya. Kau harus tau batasanmu!!" gertak Arsen dengan kedua tangan mencengkram kedua sisi bahu Arsen kasar.
"Saya sangat tahu dimana batasan saya, karena itulah saya mempertanyakan kebebasan saya." Timpal Anindya masih berusaha untuk berani.
"ASSA!!!!" bentak Arsen tepat di depan wajah Anindya.
Anindya memejamkan matanya, perutnya tiba-tiba terasa begitu nyeri. Anin berusaha melepaskan cengkraman tangan Arsen namun terasa sangat sulit.
"Sshhhh … Pak, sakit!" ringis Anindya merasakan sakit di perut dan juga kedua bahunya.
Melihat wajah kesakitan Anindya entah mengapa membuat Arsen seakan ikut merasakannya. Ia melepaskan cengkraman nya lalu memeluk Anindya dengan erat.
"Aku mohon jangan mempermainkan emosiku, Assa." Bisik Arsen tepat ditelinga Anindya yang hanya diam dengan mata terpejam.
__ADS_1
CIEE, TAKUT DITINGGAL NENG ASSA🙈🤣
To be continued