Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 77


__ADS_3

Hari ini keluarga Lucifer akan pergi ke pantai untuk liburan, bukan pantai dalam kota melainkan pantai yang ada di luar kota lebih tepatnya di Bali.


Benar, atas ajakan Papah Ferdo yang ingin membawa cucunya jalan-jalan, kini mereka berakhir memilih pantai dengan panorama terindah. Mereka juga akan menginap sekitar 5 hari di Villa pribadi milik Madam Meena.


"Anin, Ar nangis nih mungkin haus." Ucap Papah Ferdo seraya memberikan Arvin pada Anindya.


"Lhoo … kok nangis, capek hmm main sama Opa?" tanya Anindya seraya mencubit pipi anaknya.


"Iya tuh, Nin. Dari berangkat sampai ke sini juga diajak main terus sama Opa nya, ya ngantuk dia." Celetuk Madam Meena seraya ikut mencubit pipi cucunya.


"Ya udah Mom, Dad. Aku ke kamar dulu ya," pamit Anindya segera pergi setelah mendapat anggukkan dari kedua mertuanya.


Sementara Arsen baru saja selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya tengah menyusui Arvin.


Arsen dengan hanya berbalut handuk langsung ikut naik ke ranjang bersama istri dan anaknya, ia peluk tubuh Anindya yang tak menolak pelukannya.


"Anak Papa kok bobok, katanya mau main ke pantai?" tanya Arsen sedikit mengangkat badannya untuk melihat putranya yang masih asik menyusu ibunya.


"Capek mungkin, Mas. Di pesawat kan tadi juga nggak tidur." Sahut Anindya ikut menatap putranya.


"Oh iya Mas, aku mau tanya soal Dela. Apa dia sudah di tangani pihak berwajib?" tanya Anindya teringat pertanyaan yang selalu lupa ia tanyakan.


Arsen tampak berdehem, ia juga lupa menanyakan hal demikian pada sang Papah.


"Sudah, Sayang. Jangan pikirkan orang-orang jahat itu lagi, sekarang fokus aja nyusuin Arvin lalu gantian aku." Jawab Arsen sengaja menggoda istrinya demi mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Apaan sih!!!" desis Anindya memukul pelan pipi Arsen yang asik menempel di pipinya juga.


***


Sore hari nya keluarga itu bermain di pinggiran pantai, Arsen dan Papah Ferdo mengajak Arvin berenang dengan memakai balon agar bocah itu tidak tenggelam, sementara Anindya dan Madam Meena duduk di bawah pohon sambil memperhatikan Arvin yang asik bermain.


Anindya terkejut saat tiba-tiba ibu mertuanya itu menggenggam tangannya, ia menatap Madam Meena dengan hangat.


"Ada apa, Mom?" tanya Anindya membalas genggaman tangan mertuanya.


"Makasih ya, Anin. Makasih atas semuanya, kamu berhasil merubah Arsen menjadi pria baik, selama ini Mommy selalu khawatir masa depannya, tapi karena kehadiran kamu dalam hidupnya kini Mommy nggak khawatir lagi bahkan Arsen terlihat sangat bahagia menikah sama kamu." Jawab Madam Meena dengan lembut.


"Mommy juga minta maaf jika dulu selalu memandang kamu rendah, Mommy menyesal. Kamu mau kan maafin Mommy?" tanya Madam Meena.


Anindya tersenyum lalu mengangguk, ia memeluk tubuh ibu mertua yang sudah seperti ibu kandung baginya.


Madam Meena mengusap kepala menantunya bagaikan seorang putri kandung, ia berikan kecupan lembut di kepala menantunya sebagai bentuk ucapan kasih sayang nya.


Pemandangan itu tentu tak luput dari perhatian Arsen dan Papah Ferdo, mereka ikut bahagia melihat Anindya dan Madam Meena begitu saling menyayangi.


"Aku beruntung punya Assa, Dad." Ujar Arsen tiba-tiba.


"Karena itulah Papah tidak mengampuni orang yang telah menyakitinya, dia gadis baik yang berhasil merubahmu, Arsen." Timpal Papah Ferdo.


"Maksud Daddy apa? Dimana keluarga jahat itu?" tanya Arsen keheranan.

__ADS_1


"Mereka ada di tempat yang seharusnya, tidak perlu membahasnya lagi karena kebahagiaan kita saat ini jangan sampai ternodai oleh pembicaraan tak penting." Jawab Papah Ferdo lalu melanjutkan kegiatan nya menggoda Arvin.


Arsen tampak berpikir, mungkinkah keluarga bibi Anindya telah tiada. Ia kenal sekali dengan sang Daddy, tidak ada toleransi apalagi pengampunan jika sudah menyangkut keluarganya.


Tak mau terus memikirkan, Arsen melanjutkan ikut bermain bersama putranya yang cekikikan hanya karena Opa nya menyiram air ke tubuh gemuknya.


Arsen ikut tertawa melihat putranya, ia tak tahu akan jadi apa jika tidak bersama Anindya dan Arvin, dua orang itulah yang menjadi alasan Arsen untuk selalu semangat merubah diri menjadi yang lebih baik.


Sementara keluarga Anindya yang liburan dengan penuh kebahagiaan, lain hal nya dengan satu keluarga yang menjadi budak di rumah mewah namun terkesan seram itu.


Nafas Dela memburu setelah dijadikan tempat pelampiasan napsu para anak buah Papah Ferdo, ia menangis menyesali perbuatannya sendiri, andai saja ia tak main-main dengan keluarga Anindya mungkin ia tak akan bernasib seperti ini.


Sementara paman dan bibi Anin menjadi pelayan, dari pagi sampai tengah malam mereka tak henti bekerja tanpa digaji, keduanya ikut menyesal telah menyakiti keponakan mereka yang sangat baik.


"Bapak nggak kuat, Mah. Rasanya lebih baik tiada saja," ucap paman Anindya sambil memegangi dadanya.


"Kamu benar, Pak. Lebih baik kita bunuh diri saja!" sahut bibi Anin yang juga sudah lelah dengan hidupnya.


"Jangan, Mah, Pak. Kita harus bertahan!" cegah Dela dengan suara tersendat.


"Untuk apa kita hidup, kamu tidak lelah?" tanya Bibi Anindya dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Bapak nggak mau, lebih baik tiada saja!" ujar paman Anindya lalu meraih pisau dan menggores pergelangan tangannya.


Bibi Anin melakukan hal yang sama, darah menetes dari pergelangan tangan keduanya, mengundang suara teriakan dari Dela yang histeris melihat kedua orangtuanya yang berakhir naas.

__ADS_1


LIKE SAMA KOMEN NYA HARUS BANJIR😜😜


To be continued


__ADS_2