
Anindya menggenggam tangan mungil anaknya dengan lembut, air matanya tak ingin berhenti saat melihat luka di beberapa titik tubuh Arvin.
Dela benar-benar wanita jahat, entah bagaimana bisa wanita itu menyiksa seorang anak kecil tak bersalah.
"Maafin Mama ya Sayang." Lirih Anindya lalu mencium kening putranya.
Tak lama Arsen masuk ke dalam ruang rawat Arvin, pria itu datang membawa makanan untuk istrinya yang belum makan sejak siang tadi.
Arsen mendekat, ia mengelus kepala istrinya dengan lembut membuat si pemilik mendongak menatapnya.
"Arvin pasti baik-baik aja, kan dia kuat kaya Mama." Ucap Arsen diakhiri senyuman hangat.
Anindya tak membalas, hal itu sontak membuat Arsen langsung menggendong istrinya tanpa aba-aba. Anindya memekik bahkan sampai memukul bahu suaminya.
"Mas, apaan sih!!!" pekik Anindya saat Arsen telah menurunkan nya duduk di sofa yang ada di sana.
"Makan dulu, dari siang kamu belum makan." Ujar Arsen seraya membuka pembungkus makanan yang ia beli.
"Aku nggak--" Ucapan Anindya terhenti saat Arsen tiba-tiba menatapnya dengan tajam.
"Apa? Nggak apa? Berani nolak aku cium kamu." Ancam Arsen.
"Ya nggak bisa gitu dong, Mas. Lagian kamu masih bisa bercanda, kan aku lagi sedih mikirin Arvin." Desis Anindya malah kembali menangis.
Arsen melongo, ia buru-buru menarik Anindya ke dalam pelukannya. "Eh kok nangis lagi, kenapa sih Mama Assa kayanya cengeng?" tanya Arsen mengusap wajah Anindya lalu turun ke pinggangnya.
"Awww …" Anindya tiba-tiba meringis.
Arsen melepaskan pelukannya, ia mengerutkan kening saat istrinya itu tiba-tiba meringis. Arsen menyipitkan matanya lalu pelan-pelan mengangkat baju istrinya.
"Astaga, Sayang!!!" sentak Arsen melihat luka sayatan di pinggang istrinya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mas. Ini cuma goresan aja, mungkin tadi nggak sengaja kena pisau Dela." Sahut Anindya menutup kembali bajunya.
"Kamu tuh kebiasaan, apa-apa selalu dianggap sepele. Ini bisa infeksi, kamu tuh!!!" geram Arsen karena Anindya selalu menganggap apapun sepele.
"Mas, bukan gitu. Tapi yang terpenting sekarang kan Arvin," jelas Anindya menggenggam tangan Arsen yang beberapa kali ingin mengangkat lagi bajunya.
"Ck, kondisi Arvin pasti baik-baik saja dan sekarang kamu yang bisa dalam bahaya jika lukanya dibiarkan." Balas Arsen berdecak sebal.
"Tunggu disini, aku panggil dokter." Ujar Arsen bangkit dari duduknya.
"Mas, nanti aja aku mau makan dulu!" pinta Anindya namun Arsen sudah keluar.
Anindya menghela nafas, ia mengangkat bajunya dan kembali meringis saat perih terasa di perutnya. Ia sejujurnya tak sadar jika terluka, ia terlalu fokus pada putranya sampai tak sadar jika dirinya terluka.
***
Anindya baru selesai diobati oleh dokter, setelah dirasa beres dokter pun pergi dari ruang rawat Arvin, menyisakan satu keluarga itu.
Anindya melirik Arsen yang tampak cuek, ia tersenyum jahil lalu melangkah pelan-pelan mendekati suaminya.
Arsen tak menjawab, ia hanya fokus memainkan ponselnya. Diam nya Arsen membuat Anindya menekuk wajahnya, ia bangkit dari duduknya lalu berdiri di belakang Arsen.
"Papa marah ya, Mama salah ya udah anggap sepele. Jangan marah ya Papa, nanti ditinggal Mama lhoo …" celetuk Anindya sambil memeluk Arsen dari belakang.
Arsen menarik tangan istrinya hingga kini Anindya jatuh tepat di atas pangkuannya, ia tatap istrinya yang menggemaskan itu lalu ia cium dengan gemas.
"Pergi, mau kemana coba?" tanya Arsen semakin mengeratkan pelukannya.
"Kemana ya, nanti aku tanya Arvin dulu dia butuh papa bar--" jawaban Anindya terhenti saat tanpa aba-aba Arsen langsung mencium bibir nya.
Arsen melumatt bibir istrinya yang nakal itu dengan sedikit kasar, bahkan gigi dan lidah ikut andil dalam tarian memabukkan yang mereka ciptakan. Sementara Anindya tampak pasrah dicium oleh suaminya, tangannya meremat bahu kokoh suaminya yang semakin memperdalam ciuman mereka.
__ADS_1
"Astaga!!!" Pekik seseorang yang baru saja masuk setelah mengetuk pintu namun tak mendapat jawaban.
Arsen dan Anindya menghentikan aksi mencumbu mereka, keduanya terkejut saat menoleh ke arah pintu disana ada Fia dan asisten Lee.
"Fia, masuklah!" tutur Anindya seraya beranjak dari pangkuan suaminya.
Fia yang merasa tidak enak hanya bisa menggigit kukunya, sementara Lee sudah biasa melihat adegan bosnya itu.
"Pak Arsen, saya minta maaf telah mengganggu waktu kalian. Saya kesini hanya ingin membawa barang-barang dan makanan untuk Anindya." Ucap Fia seraya memberikan tas berisi pakaian Arvin dan makanan.
"Ahh lupakan saja Fia, tapi terima kasih sudah repot-repot membawakan ini." Timpal Anindya enggan membahas adegan yang tadi dilihat Fia.
"Tuan, bisa saya bicara dengan anda?" tanya Asisten Lee dengan sopan.
Arsen mengangguk kecil lalu keluar dari ruang rawat Arvin disusul Asisten Lee menyisakan Anindya dan Fia.
"Makan dulu, Nin. Pasti kamu belum makan sejak siang tadi kan?" tanya Fia seraya membukakan kotak makan yang ia bawa.
Anindya mengangguk seraya tersenyum manis. "Makasih ya, Fia." Jawab Anindya.
Sementara itu di luar ruangan, Arsen dan asisten Lee tampak membicarakan sesuatu yang begitu penting, keduanya begitu tegang dan serius.
"Orang-orang itu pasti tidak akan baik-baik saja jika Daddy sudah tahu." Gumam Arsen setelah mendengar penjelasan Lee.
"Benar, Tuan. Tuan besar Ferdo telah datang ke Indonesia bahkan langsung mendatangi sel tempat Dela dan orangtuanya di tahan." Sahut Lee.
Arsen menghela nafas lalu mengangguk, ia yakin pada Papa nya yang akan memberikan ganjaran pada orang yang sudah berani mencelakai menantu dan cucunya.
"Ya sudah biarkan saja, mereka pantas mendapatkan nya." Tukas Arsen manggut-manggut.
Asisten Lee ikut mengangguk, ia menerima keputusan bos nya apapun itu.
__ADS_1
TAMAT LAH DELA'S FAMILY, PAPAH FERDO UDAH TURUN TANGAN 🥴😂
To be continued