Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 36


__ADS_3

Anindya dan Arsen sudah bersiap untuk berangkat bekerja ke kantor, saat ini keduanya sedang sarapan bersama Clara dan Madam Meena. 


Meja makan tampak sunyi dan dingin, tidak ada yang bicara dan tetap fokus pada kegiatan masing-masing sampai tiba-tiba Clara membuka suaranya.


"Arsen, aku ikut ke kantormu, 'ya?" tanya Clara meminta izin.


"Iya, Clara. Pergilah, kau disana bisa mengenal banyak hal dan melihat bagaimana Atasn bekerja keras." Bukan Arsen yang menjawab, melainkan Madam Meena.


"Bolehkah Arsen?" tanya Clara yang tidak mendapatkan jawaban dari Arsen.


Sementara Anindya melirik Arsen beberapakali, entah mengapa ia ingin sekali Arsen menolak ucapan Clara, namun sayangnya itu tidak terjadi, Arsen seakan mengizinkan dan langsung beranjak dari duduknya setelah selesai sarapan.


Anindya yang melihat Arsen sudah selesai lantas buru-buru ikut menyusulnya, tak lupa sebelum pergi ia memberikan salam sopan pada Madam Meena.


"Nyonya, saya permisi. Selamat pagi," pamit Anindya disertai senyuman hangat.


"Clara, cepat susul Arsen. Jangan biarkan sebuah bakteri mendekatinya," bukannya menjawab ucapan Anindya, Madam Meena justru bicara pada Clara dan 99% menyindir dirinya.


"Baiklah, Mom." Balas Clara lalu beranjak dari duduknya dan keluar menyusul Arsen.


Sementara Anindya merasakan hatinya berdenyut, ia hendak pergi namun dihentikan oleh Madam. "Jauhi anak saya, kau butuh uang berapa?" tanya Madam merendahkan diri Anindya.


"Maaf, Nyonya." Jawab Anindya menundukkan kepalanya kemudian langsung pergi.


Saat di luar, Anin melihat Arsen belum juga masuk ke dalam mobil dan sedang menghubungi seseorang di telepon. Anindya memberikan sapaan sopan pada Asisten Lee yang dibalas tak kalah sopan.


Setelah Arsen selesai menelpon, Arsen masuk ke dalam mobil disusul Anindya yang ingin duduk dibelakang seperti biasa bersama pria itu, namun Clara menahan tangannya.


"Kau di depan." Ketus Clara lalu masuk hingga dirinya yang duduk disebelah Arsen.


Anindya pasrah saja, ia duduk di kursi depan sebelah Asisten Lee. Tampak guratan kebingungan di wajah Asisten Lee, namun setelah beberapa saat raut wajah pria itu kembali normal.

__ADS_1


Tak ada pembicaraan selama perjalanan, Anindya sesekali melirik dari kaca spion dan melihat Clara sedang ingin mendekati Arsen. Tangan wanita itu menjalar ke dada bidang Arsen dan menatap pria itu dalam.


Sementara Arsen, pria itu menunduk membalas tatapan Clara, bahkan tangan kanan Arsen memegangi tangan Clara yang ada di dadanya.


Jantung Anindya berdenyut lagi, perutnya mendadak kram melihat Arsen bermesraan dengan wanita lain meski sejujurnya ia tak punya hak.


Tak mau terus berlarut-larut dalam ketidakrelaan nya, Anin memilih untuk menatap keluar jendela saja sampai mengusap samping kiri pinggangnya.


Akhirnya mereka sampai di Lcf'corporation, Anindya keluar duluan lalu membukakan pintu untuk Arsen, namun ya Clara yang keluar duluan.


"Bacakan jadwalku." Pinta Arsen lalu jalan mendahului Anindya.


Anindya menarik nafas lalu membuangnya, ia meraih iPad lalu mulai membuka agenda kerja Arsen hari ini. Sambil berjalan, Anindya tetap membacakan semua jadwal Arsen tanpa mau tahu apakah pria itu menyimaknya atau tidak.


Sementara tatapan para karyawan malah terfokus pada Clara yang menggandeng tangan Arsen dengan apik. Bisik-bisik pun mulai terdengar mengenai Anin yang hanya dijadikan pelampiasan sementara.


"Kasihan banget sudah dibuang setelah kotor menjadi sampah!" celetuk salah satu karyawan.


"Anin." Panggilan yang berhasil menciptakan seulas senyum di wajah Anindya.


"Zay, selamat pagi." Sapa Anindya dengan ramah.


"Pagi juga, bagaimana kabarmu? Astaga kita bekerja di kantor yang sama tapi sangat sulit bertemu ya." Ucap Zay terkekeh.


Anindya ikut terkekeh, mereka berbincang sambil terus berjalan ke arah lift. Saat di depan lift masing-masing, Anindya dan Zay saling melambaikan tangan dan membuat janji makan siang bersama.


"Sampai jumpa." Ujar Anindya dengan senyuman begitu lebar.


Tanpa Anindya ketahui bahwa sejak tadi Arsen tengah menahan emosinya, ia berusaha menahan mimik wajah agar image sebagai ceo terjaga dengan baik. 


Arsen melirik tajam Anindya saat wanita itu masuk ke dalam lift dan berdiri di belakangnya, ia lalu melirik Clara yang begitu menempel padanya. 

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Clara lembut saat Arsen terus menatapnya.


Arsen tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau terlihat cantik hari ini." Jawab Arsen sekedar memanaskan perasaan Anindya.


Anindya berusaha tak peduli, sampai akhirnya mereka sampai di lantai tujuan mereka. Arsen masuk duluan ke dalam ruangan bersama Clara disusul oleh Anindya.


"Pak, meeting 1 jam lagi. Sebelum itu apa anda ingin sesuatu?" Tanya Anindya menawarkan.


"Buatkan aku segelas kopi." Jawab Arsen seraya mulai berkutat dengan komputer nya.


Anindya segera keluar dari ruangan Arsen untuk membuatkan pria itu kopi, sebelum pergi ke pantry Anindya lebih dulu ke toilet untuk mencuci wajahnya sedikit agar bisa lebih segar, rasanya hari ini ia benar-benar lemas.


"Sabar ya, Nak. Kita harus sama-sama berjuang dan berusaha, Mama sayang kamu." Celetuk Anindya mengusap perutnya yang semakin terlihat besar dan hal itu yang menjadi alasan mengapa ia bekerja menggunakan dress longgar yang dipadukan dengan blezer senada.


Anindya beranjak dari toilet lalu pergi ke pantry, tak butuh waktu lama membuat kopi. Saat selesai ia kembali ke ruangan Arsen yang tidak tertutup, ia mengetuk pintu nya pelan lalu masuk.


Gelas ditangan Anindya jatuh begitu saja bahkan kopi panas itu menyiram kakinya. Anindya mendadak lemas dan pening melihat Arsen dan Clara sedang bercumbu mesra di meja kerja Arsen.


"M-maafkan saya, Pak." Ucap Anindya langsung keluar dari ruangan Arsen.


"Assa!!" panggil Arsen namun Anindya tetap pergi dari ruangan Arsen.


Sementara Anindya segera pergi tanpa tahu arah, ia sudah menangis karena merasa menjadi wanita paling bodoh yang mau di permainkan oleh pria seperti Arsen. Anin menyeka air matanya saat berpapasan dengan karyawan lain, ia masuk ke dalam lift dan menekan lantai paling atas di gedung. Mungkin mencari angin disana dapat meredakan panas di dadanya saat ini.


Sesampainya di roof top, Anindya duduk di sana sampai menangis. Ia merasa dunia begitu tidak adil padanya sejak dulu, paman dan bibinya, dan sekarang Arsen. Semuanya jahat pada dirinya, apa kesalahan dan dosanya sampai ia selalu di siksa tanpa ampun.


Arsen telah menyiksa batin dan pikirannya, Anindya merasa seakan hancur seperti debu melihat Arsen yang tengah bermesraan dengan Clara. Ya, seharusnya ia sadar bahwa ia tak punya hak, namun ia harus bagaimana. Perasaan cinta untuk pria itu sudah tumbuh di hatinya, hingga sakit hati yang ia rasakan menjadi berkali-kali lipat rasanya.


"Maafin Mama, Sayang. Tapi kita harus pergi, kita harus menjauh dari orang-orang dan hidup berdua saja." Ucap Anindya sambil mengusap perutnya yang sejak tadi terasa sakit.


NIH UPDATE LAGI KAN, KALO AKU SEMPET PASTI UP KOK GUYS 😭

__ADS_1


To be continued


__ADS_2