Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
Ekstra part 2


__ADS_3

Anindya tersenyum menatap bayi mungil dalam gendongan Arsen, ia turut bahagia melihat senyuman penuh suka cita yang suaminya tunjukkan. Akhirnya setelah menanti bertahun-tahun, mereka kembali memiliki anak dan kini berjenis kelamin perempuan.


Seorang putri akhirnya hadir dalam rumah Lucifer yang siap menyambutnya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


Di ruangan itu pula ada Asisten Lee dan Fia yang ikut bahagia melihat kelahiran anak kedua dari pasangan Arsen dan Anindya.


"Mas, siapa namanya?" tanya Anindya penasaran.


"Anindita Celia Lucifer." Jawab Arsen dengan bangganya.


"Bagus sekali namanya, cantik seperti wajahnya." Puji Fia dengan jujur.


"Anak anda benar-benar cantik, Tuan. Selamat ya, semoga saya nyusul punya baby perempuan." Ujar Asisten Lee.


Arsen terkekeh, ia menepuk bahu sang asisten lalu menganggukkan kepalanya. "Segeralah buat." Sahut Arsen. 


Tiba-tiba baby Dita menangis, hal itu sontak membuat Arsen panik lalu buru-buru memberikan bayinya kepada Anindya untuk diberi susu.


"Ya sudah, Anin, Pak Arsen. Kami pamit pulang dulu, besok pagi kami datang lagi bersama Arvin dan Gibran ya." Ujar Fia pamit.


"Iya, Fia. Titip Arvin ya, maaf merepotkan." Sahut Anindya tersenyum.


"Tidak perlu berterima kasih, Nona Anin. Arvin juga seperti anak kami." Timpal Asisten Lee membuat Anindya lega.


"Ya sudah, kalian hati-hati ya. Kabari aku jika Arvin rewel atau tidak bisa diam." Tutur Arsen dianggukkan oleh Asisten.


Asisten Lee dan istrinya pergi, kini tinggal Arsen dan Anindya bersama putri mereka yang tampak asik menyusu. Anindya mengusap tangan putrinya yang menggenggam jari telunjuknya erat, ia lalu mencium pipi baby Dita dengan sayang.

__ADS_1


"Cantiknya anak Mama, Abang Arvin pasti senang melihat kamu." Bisik Anindya seraya terus menatap putrinya.


"Dita pasti jadi kesayangan abangnya, Sayang." Sahut Arsen yang mendengar suara istrinya.


Anindya menatap suaminya lalu mengangguk setuju. Pasti Dita akan menjadi kesayangan Arvin dan Gibran kelak.


"Dan kalo Mama kesayangan Papa." Celetuk Arsen seraya merangkul bahu istrinya.


Anindya terkekeh, ia kini berganti mengusap wajah suaminya yang selalu pandai membuatnya tersenyum bahagia.


"Papa juga kesayangan, panutan dan cinta Mama selamanya." Sahut Anindya dengan jujur.


"Hmm, apa yang bisa dijadikan panutan dari aku. Sepertinya terbalik, kamu yang menjadi panutan untuk suamimu ini." Ujar Arsen mengunyel pipi istrinya.


"Hmm, tidak begitu. Kamu itu pria hebat, pekerja keras dan sangat menyayangi keluarga. Kamu selalu bilang tidak lelah meski sebenarnya kamu itu lelah, kamu bisa membagi waktu antara bekerja dan keluarga. Kamu hebat, Mas." Jelas Anindya panjang.


"Aku sangat mencintaimu, Assa." Lanjut Arsen lalu mencium bibir istrinya dengan lembut tanpa dibumbui oleh napsu seperti biasanya.


Malam harinya Asisten Lee datang mengantarkan Arvin yang menangis karena ingat pada sang Mama, anak itu tak mau berjauhan dari Anindya hingga membuat asisten Lee memilih untuk mengantar bocah itu ke rumah sakit bertemu kedua orang tuanya.


"Maaf, Lee. Arvin pasti sangat merepotkan malam-malam begini." Ucap Arsen yang saat ini sudah menggendong Arvin.


"Tidak masalah, Tuan. Saya hanya tidak tega melihat Arvin terus menangis makanya saya bawa kemari." Sahut Asisten Lee dengan sopan.


"Ya sudah, kau boleh pulang. Hati-hati membawa mobilnya," tutur Arsen pada Lee.


Asisten Lee menganggukkan kepalanya lalu pamit untuk pulang. Setelah Lee tak terlihat karena jarak, Arsen masuk ke dalam ruang rawat Anindya bersama putranya.

__ADS_1


"Mama …." rengek Arvin seraya hendak meminta gendong pada Anindya.


Anindya tersenyum lalu membuka tangan siap menggendong putranya, ia peluk tubuh Arvin lalu ia berikan ciuman kasih sayang di kepala bocah itu.


"Sssttt … Abang nggak boleh nangis, mau lihat Dedek nggak?" tawar Anindya seraya menyugar rambut putranya.


"Dedek, dimana Ma?" tanya Arvin dengan begitu antusias.


Arsen membawa Dita ke atas bangsal dimana ada Anindya dan Arvin disana, ia duduk di pinggir bangsal lalu menunjukkan wajah baby Dita kepada Arvin.


"Namanya Dedek Dita, Abang Arvin sayangi Dedek ya." Tutur Arsen dengan lembut.


Arvin tampak senang melihat adiknya, tangan bocah itu sesekali menoel pipi Dita dengan ragu. Anindya dan Arsen hanya bisa tersenyum, mereka senang melihat Arvin antusias kepada adiknya.


"Mama, Dedeknya cantik seperti Mama." Ujar Arvin dengan jujur.


Anindya terkekeh, ia menciumi seluruh wajah Arvin lalu bergantian kepada Dita.


"Mama sayang banget sama kalian." Ungkap Anindya dari hatinya.


"Papa gimana?" tanya Arsen usil.


Anindya terkekeh, ia mencium pipi Arsen lalu turun ke bibir. "Papa punya tempat tersendiri di hati Mama dong." Jawab Anindya membuat Arsen tersenyum senang.


MASIH ADA SATU LAGI 😜😜


ESKTRA PART LANJUT .......

__ADS_1


__ADS_2