Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 67


__ADS_3

Siang itu Asisten Lee diperintahkan oleh Arsen untuk membeli makan siang di kafe langganan atasannya itu yang letaknya tidak jauh dari kantor. Cafe tampa ramai dan mayoritas pengunjungnya adalah karyawan Lcf Corporation. Asisten Lee dengan tertib ikut mengantri, ia menolak saat ada salah satu karyawan mempersilahkannya duluan, ia tidak ingin menjadi contoh buruk bagi bawahannya.


Asisten dikejutkan oleh sesuatu yang menabraknya dari belakang, ia menoleh dengan ekspresi datar dan wajah dinginnya. “Maaf, Pak.” Ucap seorang wanita yang juga karyawan Lcf Corporation.


Asisten Lee tak menjawab, ia memilih diam tanpa membalas ucapan karyawan yang sepertinya baru karena ia baru melihat. Ia tahu bahwa wanita itu adalah karyawan Lcf yaitu dari name tag yang dikenakannya.


 Setelah 20 menit mengantri pesanan take away, akhirnya Asisten Lee mendapatkan apa yang atasannya pinta, mengapa Arsen meminta dirinya membelikan makan padahal banyak orang yang bisa ia suruh, ya tentu saja jawabanya hanya Arsen yang tahu.


Setelah membayar, Asisten Lee langsung pergi, ia menghiraukan sapaan sopan karyawannya, namun telinganya tanpa sengaja mendengar suara seseorang yang menjelekkan dirinya.


“Ish sombong sekali dia, mentang-mentang Asisten bos “ Celetuk wanita yang tadi menabrak Asisten Lee.   


Asisten Lee hanya tersenyum tipis mendengarnya, ia tak tahu pasti siapa yang telah berani bicara begitu namun yang jelas adalah seorang wanita. Asisten Lee segera perg meninggalkan kafe.


Hari berikutnya pekerjaan Asisten Lee tampah menumpuk dengan kepergian Arsen dan Anindya ke Meksiko karena urusan mendadak, ia diberikan setumpuk berkas yang bukan hanya untuk diberi tanda tangan melainkan harus ia baca sebelum menyetujuinya begitu saja.


“Astaga kapan kertas-kertas ini akan pergi dari hadapanku.” Desis Asisten Lee diakhiri helaan nafas pelan.


Disaat sedang pusing dengan banyaknya pekerjaan, tiba-tiba pintu ruangan diketuk, setelah dipersilahkan, tampak seorang wanita masuk dengan beberapa berkas di tangannya.


“Selamat sore, Pak. Ini saya membawa beberapa berkas yang memerlukan tanda tangan persetujuan anda.” Ucap Wanita itu seraya menyodorkan 3 map berwarna beda.


Asisten Lee menggaruk pelipisnya pelan, ia yang tadi fokus pada bekas akhirnya mendongak. Kening Asisten Lee mengkerut melihat wanita yang ada di depannya ini tampak tidak asing.


“Kau wanita yang di kafe waktu itu bukan, kau di posisi apa?” tanya Asisten Lee ingat pada wanita yang menabraknya kemarin.


“Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Saya bekerja di bagian Asisten keuangan.” Jawab wanita itu dengan sopan.


“Siapa namamu?” tanya Asisten Lee mulai kepo.


"Alfia, Pak." Jawab Alfia, atau yang kerap disapa Fia.


Asisten Lee tampak manggut-manggut, ia menatap berkas yang dibawa wanita itu. "Berkasnya sangat penting, dan pekerjaan saya sedang banyak. Bisa bantu saya membacakan keseluruhan isinya?" tanya Asisten Lee.


Fia menganggukkan kepalanya, ia meraih salah satu berkas lalu mulai membaca dengan pelan agar mudah dimengerti oleh Asisten Lee.


"Intinya laporan ini berisi permintaan pengajuan dana kas perusahaan, Pak." Ucap Fia setelah selesai membacakan keseluruhan berkas pertama.


"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu. Berikan, biar saya tanda tangan." Pinta Asisten Lee.


Fia memberikan berkas ditangannya, ia hendak pergi saat urusannya telah selesai. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Asisten Lee.


"Hanya kamu yang berani mengatai saya sombong, sebelumnya terima kasih atas penilaian kamu terhadap diri saya." Ucap Asisten Lee.


Fia menggigit bibirnya, jadi ia ketahuan telah mengatai pria itu sombong, dengan perlahan ia membalik badan menghadap Asisten Lee.

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja, mulut saya memang sering asal ceplos saja. Anda akan memaafkan saya bukan, Pak?" tanya Fia penuh harap.


"Maaf sekali, saya tidak bisa mentolerir--" ucapan Asisten Lee terhenti saat tiba-tiba Fia berlarian ke arahnya.


"Maaf, Pak. Saya janji tidak akan mengatai anda apapun lagi, anda itu baik, tampan dan sangat mempesona. Eh," cerocos Fia sebelum gadis itu menutup mulut menyadari kebodohannya.


Asisten Lee tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh dari gadis yang saat ini tengah membujuk untuk pengampunan nya.


"Pergilah, kamu mengganggu waktu saya bekerja!" Usir Asisten Lee.


Fia menganggukkan kepalanya, ia memasang senyuman takut lalu segera pergi meninggalkan ruangan dimana ada Asisten Lee.


Siang harinya, Asisten Lee akan menghadiri meeting di luar, ia ditemani oleh karyawan divisi untuk sekedar membantunya mencatat isi rapat karena memang Anindya juga pergi bersama Arsen.


Saat sampai di lobby, tiba-tiba saja karyawan yang akan ikut Lee jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya.


"Astaga, apa yang terjadi padamu?" tanya Asisten Lee tampak terkejut.


"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Jawab pria itu dan berusaha untuk bangun namun kesulitan.


"Tidak, lebih baik kau istirahat. Saya akan mengajak yang lain untuk ikut saya," tutur Asisten Lee seraya membantu pria itu bangun.


Pria yang awalnya diajak Asisten Lee pun pergi dengan dibantu satpam yang memapahnya, ia lalu masuk untuk mengajak bagian divisi lain, namun kebetulan sekali ia berpapasan dengan Fia, gadis yang berani padanya itu.


"Alfia." Panggil Asisten Lee seketika membuat langkah Fia dan temannya berhenti.


"Ikut saya meeting diluar, tugasmu hanya mendengarkan dan mencatat poin penting, tidak mungkin bagian penting sepertimu tak bisa melakukannya!" Ujar Asisten Lee dengan wajahnya yang datar.


"Tapi, Pak--"


"Jika kamu menolak, sama saja kamu membuang pekerjaan mu itu." Potong Asisten Lee dengan cepat.


Fia menghela nafas, ia akhirnya pasrah ikut Asisten Lee ke pertemuan diluar. Dengan sedikit kesal, Fia masuk dan duduk di kursi sebelah Lee.


"Jika kau berani menggerutu di dalam hatimu, lihat saja saya akan benar-benar--" ucapan Asisten Lee yang tengah mengancam itu terhenti.


"Iya saya paham, saya akan dipecat. Sudahlah, Pak. Saya ini hanya karyawan biasa yang hanya bisa pasrah," potong Fia diakhiri helaan nafas pasrah.


Asisten Lee mengangkat kedua alisnya, untuk pertama kalinya ada yang berani memotong ucapannya selain Arsen. Asisten Lee mengangkat bahunya, rupanya gadis disebelah nya ini cukup berani.


Sore harinya di jam pulang kantor, Asisten Lee segera keluar dari kantor langsung masuk ke dalam mobilnya. Hujan yang deras membuat cuaca dingin hingga ia harus mematikan ac mobilnya. 


Saat melewati halte, tanpa sengaja mata Lee menangkap seseorang yang tengah berdiri di halte sambil menggosok kedua sisi bahunya.


Asisten Lee mendekat, ia menekan klakson lalu membuka sedikit kaca mobilnya.

__ADS_1


"Fia, kemarilah!" Ucap Asisten Lee dengan sedikit teriakan.


"Apa, Pak. Lemari?" Tanya Fia tak begitu jelas mendengar ucapan Asisten Lee.


"Kemari Fia, masuklah. Saya antar pulang!" Ujar Asisten Lee dengan lebih keras.


"Pulang? Iyalah Pak saya mau pulang, ya kali aja saya nginep di kantor!" sahut Fia kembali aneh.


Asisten Lee mengerem kesal, ia segera keluar dari mobil menghampiri Fia yang tampak heran melihatnya.


"Masuk!" perintah Asisten Lee menarik tangan Fia.


"Eh … Pak, ini sudah di luar jam kantor ya, saya berhak untuk menolak perintah anda." Celetuk Fia mencoba melepaskan cekalan di tangannya.


"Masuk saja dulu, kita basah kuyup jika lama-lama disini. Astaga!!!" geram Asisten Lee seraya membuka pintu mobil lalu mendorong Fia masuk.


Asisten Lee memutari mobilnya lalu duduk di kursi kemudi, bahunya basah akibat hujan yang deras. Asisten Lee menoleh ke arah Fia lalu melepas jas nya dan memakaikan nya kepada Fia.


"Eh, Pak. Ini bukan Drakor, segala pakein saya jas." Celetuk Fia tertawa kecil.


"Berhenti membicarakan Drakor, bajumu itu tembus pandang." Tukas Asisten Lee seketika membuat Fia langsung menutupi dirinya sendiri.


Asisten Lee hanya menggeleng kecil, ia tancap gas menuju rumah Fia atas bantuan gadis itu juga yang memberi arah padanya.


Setelah sampai, Fia segera turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Ia sengaja membawa jas asisten Lee pulang untuk ia cuci bersih setelah digunakan olehnya.


Arsen tampak tertawa dengan keras mendengar cerita Asistennya yang sedang dimabuk asmara oleh karyawannya sendiri, saking tak tahannya, ia sampai memukul meja kerjanya beberapa kali.


Sementara asisten Lee hanya bisa mendengus, ia menyesal telah cerita kepada atasannya yang memang dari awal sudah kebanyakan meledeknya.


"Tuan, anda juga pernah jatuh cinta dan bukankah wajar saja jika saya juga bucin." Celetuk asisten Lee masih membawa keformalan diantara mereka.


"Ya, baiklah. Tapi apakah gadis itu benar-benar baik, ah aku rasa iya buktinya bisa mencairkan bongkahan es sepertimu." Ujar Arsen bertanya dijawab sendiri.


"Sudahlah, Tuan. Akan lebih baik anda mendoakan saya agar bisa bersama dengannya, bahagia seperti anda dan Nona Anindya." Timpal Asisten Lee.


Arsen menghentikan tawanya, ia bangkit dari duduknya lalu mendekati asisten Lee. Tangannya terulur menepuk bahu Lee dengan pelan.


"Kau adalah asisten ku sejak lama, tentu saja aku pasti akan mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kau selalu bahagia dan gadis itu benar-benar bisa menjadi tempatmu untuk pulang dan berkeluh kesah." Tutur Arsen membuat senyuman asisten Lee terlihat jelas.


"Terima kasih banyak, Tuan." Balas Asisten Lee dianggukki oleh Arsen.


ALFIA ITU NAMA PLESETAN DARI ALFIANA, JADI AKU PACARNYA ASISTEN LEE🤪🤪


To be continued

__ADS_1


Note. Tulisan yang dicetak miring adalah Flashback (kejadian yang sudah terjadi)🥀


__ADS_2