
Anindya melangkahkan kakinya dengan ragu saat bayang-bayang perkataan tajam Madam Meena terngiang di ingatnya, ia masih ingat bagaimana wanita itu menyebut dirinya dengan begitu rendah bahkan pernah hampir mencelakai bayinya. Mengingat hal itu sontak membuat Anindya menghentikan langkahnya.
Melihat Anindya yang berhenti membuat Arsen ikut berhenti, ia menatap wajah Anindya yang tampak ketakutan dan kini ia paham apa yang sedang dirasakan oleh wanita itu.
"Aku tahu kamu takut pada ibuku, tapi tenanglah Assa, dia sudah banyak berubah, bahkan dia sudah menunggumu di dalam." Tutur Arsen menenangkan Anindya.
Anindya menggeleng pelan, ia memegangi perutnya lalu kembali menatap Arsen. "Bagaimana jika Nyonya akan mengusir saya, Pak?" tanya Anindya ketakutan.
"Jika Mommy berani mengusirmu, maka kita akan pergi bersama." Jawab Arsen menggenggam erat tangan Anindya.
Anindya masih tampak ragu, ia menggigit bibirnya dan pasrah saat ditarik ke dalam rumah oleh Arsen.
Anindya tak berani mengangkat wajahnya, ia hanya menundukkan kepala sambil mengeratkan pelukannya pada tangan Arsen.
"Kalian sudah datang." Ujar Papah Ferdo menatap putranya dan sosok wanita disebelahnya.
"Iya, Pah. Perkenalkan, dia Anindya. Calon istri Arsen," sahut Arsen memperkenalkan.
Anindya mengangkat wajahnya, ia memberikan senyuman canggung lalu menyalami tangan calon mertuanya itu.
"Anindya, Tuan." Ucap Anin memperkenalkan.
"No, panggil Papah bukan Tuan." Ralat Papah Ferdo menggeleng tak setuju.
Anindya mengangguk kecil. "Iya, Pah." Balas Anindya kembali menundukkan kepalanya.
Tak lama terdengar langkah dari arah tangga, suara itu justru semakin membuat Anindya ketakutan dan yang bisa ia lakukan hanya semakin mengeratkan pelukannya pada tangan Arsen sambil memejamkan matanya.
"Arsen, kamu sudah kembali?" tanya Madam Meena seraya mendekati Arsen.
Madam Meena lalu beralih melirik Anindya, ia tahu bahwa wanita itu sedang ketakutan dan alasannya tentu adalah dirinya.
__ADS_1
Madam Meena beralih berdiri di depan Anindya lalu mengusap kepala wanita yang dicintai putranya itu, bahkan kini sedang mengandung cucunya.
"Apa kabar, Anindya?" tanya Madam Meena lembut.
Anindya mengangkat wajahnya pelan-pelan, ia tercengang melihat senyuman diwajah wanita yang selalu melirik tajam dan bicara ketus padanya, berbeda dengan hari ini.
"S-saya baik, Nyonya." Jawab Anindya terbata.
Madam Meena terkekeh pelan lalu kembali mengusap kepala Anindya. "Mommy, bukan Nyonya." Ralat Madam Meena.
Anindya menatap Arsen yang dibalas anggukan kepala oleh Arsen, pelan-pelan ia melepaskan genggaman tangannya lalu beralih menyalami tangan Madam Meena.
"Mommy." Tukas Anindya tersenyum manis.
Madam Meena menarik Anindya ke dalam pelukannya dengan hangat, ia mencium kening calon menantunya itu dengan sayang.
"Bagaimana keadaan cucuku?" tanya Madam Meena melepaskan pelukan lalu beralih mengusap perut Anindya.
"Baik, Mom. Bahkan jauh lebih baik saat bertemu dengan Pak Arsen." Jawab Anindya melirik Arsen yang sejak tadi diam memperhatikan nya.
Anindya tersentak mendengar ucapan Madam Meena, ia kembali melirik Arsen tanda meminta pembelaan, namun sayangnya Arsen hanya mesem-mesem tanpa berniat untuk membela dirinya.
"Iya, Mom. Aku akan mencobanya," sahut Anindya canggung.
Arsen berdehem guna menetralkan ekspresi wajahnya, ia menatap kedua orangtuanya lalu kembali menggandeng Anindya.
"Assa butuh istirahat, jadi aku akan mengantarnya ke kamar." Ujar Arsen lalu mengajak Anindya tanpa menunggu balasan dari kedua orangtuanya.
"Pak, tapi saya masih ingin bicara dengan--" Ucapan Anindya terhenti saat Arsen menatapnya tajam.
"Mas, kamu harus panggil aku Mas. Oh ya, hilangkan kata saya dan anda itu, ganti dengan aku kamu." Potong Arsen dengan cepat.
__ADS_1
"Tidak mau!!" Tolak Anindya menggelengkan kepalanya.
Arsen membuka matanya lebar-lebar, ia menatap Anindya dengan tajam lalu menarik Anindya ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Arsen langsung membenturkan tubuh Anindya ke pintu dengan pelan.
"Hmm, apa kamu bilang tadi?" tanya Arsen menatap Anindya tajam.
"Saya nggak mau panggil anda 'Mas'." Jawab Anindya jahil.
Arsen mencengkram lembut dagu Anindya, ia mengusap bibir pink Anin lalu mengecupnya singkat. Sesaat keduanya terdiam, hal itu dimanfaatkan oleh Arsen untuk kembali merasai bibir wanitanya.
Anindya tampak mencengkram kerah jas yang Arsen kenakan, ia turut membalas ciuman Arsen dengan hati-hati, bahkan tangannya kini beralih mengusap bagian belakang leher pria itu.
Anindya membuka matanya, ia menatap Arsen yang begitu menikmati ciuman mereka sampai memejamkan mata, sejujurnya Anindya melakukan ini karena ingin mulai untuk mengobati calon suaminya ini.
Setelah beberapa saat Arsen akhirnya melepaskan ciumannya, ia menempelkan dahinya ke dahi Anindya dengan nafas terengah-engah.
Anindya tersenyum tipis, ia mengusap rahang Arsen dengan sensual lalu memberikan kecupan disana.
"Apa kamu merasakan sesuatu, Mas Arsen?" tanya Anindya berbisik pelan di telinga Arsen.
Arsen mengerem, ia menarik Anindya lalu mendudukkan wanita itu di ranjang. "Istirahatlah, aku ada urusan." Tutur Arsen memberi kecupan di kening Anindya dengan cepat.
Arsen segera keluar dari kamar Anindya dengan menutup keras pintu kamar, pria itu berlari ke kamar tamu dan tak lupa menguncinya, ia masuk ke dalam kamar mandi lalu mulai melepaskan celananya sendiri.
"Hah, apakah aku sudah sembuh. Bagaimana bisa, hanya dengan ciuman dan sentuhan tangannya aku--" Arsen tak bisa berkata-kata melihat miliknya seakan kembali normal.
"Assa, sekarang aku mengerti bahwa hanya kamu yang bisa menyembuhkan ku!" geram Arsen tak tahan ingin segera menikahi Anindya.
Arsen mengusap wajahnya kasar antara bahagia dan bingung, bagaimana bisa ia sangat bernapsu saat bersama Anindya, sementara selama wanita itu pergi, ia berusaha mengobati dirinya sendiri dengan menonton hal-hal aneh itu, hasilnya ia sama sekali tak bereaksi, namun hari ini bahkan ia tak bisa mendefinisikan dengan kata-kata.
"Fiks besok harus nikah!!!!" seru Arsen menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
MILIK MAS ARSEN UDAH KETEMU PAWANGNYA, AWAS MBA ANIN KENA PATOK 😭😭
To be continued