
Anindya melirik suaminya dengan tatapan sinis, saat ini dirinya tengah duduk di balkon kamar guna menkmati malam indah di negri orang itu.
Sementara Arsen tampak terkikik menyadari tatapan istrinya yang begitu tajam dan mengintimidasi. Arsen memiringkan kepalanya lalu tersenyum tanpa dosa kepada istrinya, tangannya beralih merangkul bahu istrinya.
"Kenapa sih, kok Mama Assa natap nya gitu?" tanya Arsen dengan santai.
"Kenapa kenapa, aku yang tanya kenapa bisa langsung jadi padahal baru seminggu kita disini!!" jawab Anindya sewot.
"Hehehe, kan aku tokcer, Mama. Oh iya, lagian kan sebelum kesini juga memang sering main, di rumah, di kantor bahkan di--" ucapan Arsen terhenti karena Anindya buru-buru menutup mulutnya.
"Stop jangan dilanjutin, nyebelin kamu ih!" potong Anindya hendak pergi namun Arsen mencegahnya.
Arsen memegang tangan istrinya lalu menariknya pelan hingga Anindya jatuh terduduk di pangkuannya. Ia usap lembut wajah cantik Anindya yang semakin bertambah setiap hari atau bahkan setiap menitnya.
Arsen gila, ia benar-benar tergila-gila pada wanita yang berstatus istrinya itu. Hanya Anindya yang bisa membuatnya seperti ini.
"Makasih ya." Ucap Arsen diakhiri senyuman yang begitu menawan.
Anindya mengerutkan keningnya, ia menangkup wajah Arsen lalu menatapnya lekat.
"Makasih untuk apa hmm?" tanya Anindya membingkai wajah suaminya.
"Untuk semuanya, untuk kehadiran kamu, kehadiran Arvin dan sekarang kehadiran baby." Jawab Arsen seraya beralih mengusap perut Anindya yang masih rata.
"Dan maaf juga atas sikapmu sebelum dan sesudah pernikahan, aku mungkin brengsekk, aku mungkin menjijikan dan sangat jahat dulu, tapi berkat kamu, berkat kamu aku bisa merubah diri meski belum sepenuhnya sesuai keinginan kamu." Lanjut Arsen dengan tulus dari hatinya.
__ADS_1
Anindya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia menyatukan kening mereka lalu mengecup hidung mancung suaminya.
"Bahkan kamu jauh lebih sempurna dari ekspetasi aku selama ini, dan soal masa lalu, lebih baik kita lupakan, aku tidak mau menengok ke belakang jika untuk mengingat masa-masa sakit." Sahut Anindya tak kalah tulus.
"Jika kamu merasa belum bisa menjadi suami yang baik, lantas bagaimana denganku. Selama ini mungkin aku hanya menyusahkan kamu, aku bukan istri sempur--" ucapan Anindya terhenti karena Arsen mencium bibirnya.
"No, kamu yang paling sempurna buat aku, Arvin dan dedek bayi. Karena kesempurnaan itulah aku selalu merasa takut, aku takut kamu pergi dan berakhir meninggalkanku sendiri." Potong Arsen menyelipkan anak rambut Anindya ke belakang telinga.
Anindya tersenyum tipis, ia mengangukkan kepalanya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, tapi aku jujur jika selama beberapa tahun terakhir aku telah mengkhianati kamu. Aku selingkuh!" ujar Anindya dengan santainya.
"Maksud kamu?" tanya Arsen pelan, terlihat dari wajahnya ia panik.
"Ya, aku selingkuh dan selingkuhan ku adalah Arvin. Hehehehe." Jawab Anindya diakhiri tawa manisnya.
Anindya terkekeh, ia menarik kepala Arsen ke dadanya, ia usap dengan lembut rambut Arsen sesekali ia cium.
Jika dulu Anindya begitu membenci Arsen karena sifatnya yang pemaksa, egois dan tak berperasaan, maka kini sebaliknya, ia sangat mencintai suaminya karena sikap dewasa yang suaminya miliki.
"Assa, aku sangat mencintaimu." Bisik Arsen di telinga istrinya.
Anindya tersenyum, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku juga, Mas. Aku juga mencintai kamu dan keluarga kita." Sahut Anindya.
Arsen menjauhkan kepalanya, ia mendongak menatap wajah Anindya yang sedikit gelap akibat pantulan lampu yang ada disana. Arsen menarik lembut kepala istrinya lalu ia cium dengan hangat bibir Anindya.
Anindya membalas pangutan suaminya, ia bahkan mengusap seduktif belakang kepala Arsen yang mana membuat ciuman diantara mereka semakin panas.
__ADS_1
"Aku nggak akan minta olahraga malam kok, Sayang. Aku paham dengan kondisi kamu yang sedang hamil muda." Celetuk Arsen mengusap bibir basah istrinya.
"Lagian siapa yang ngajakin!" timpal Anindya sewot.
Arsen tertawa keras, ia kembali menarik kepala istrinya lalu mencium dan menyesap dalam-dalam bibir manis yang hanya dimiliki oleh istrinya, dan apapun yang Anindya miliki maka itu juga miliknya termasuk semua yang ada dalam diri wanita cantik calon dua anak.
"Mama Anin adalah Mama muda kesayanganku." Ujar Arsen asal-asalan.
"Dan Papa Arsen adalah sugar Daddy ku." Balas Anindya diakhiri kedipan mata yang membuat jantung Arsen mencelos.
Anindya terkekeh melihat suaminya terdiam, ia mencium kedua pipi suaminya lalu kembali memeluknya erat. Arsen dan Anindya mungkin bulan pasangan pengantin baru, namun kemesraan diantara mereka bahkan melebihi pasangan baru menikah.
Sifat Arsen yang tegas dan manja diwaktu berbeda membuat Anindya yang malu-malu dan emosian begitu mencintainya, sebaliknya begitu.
Pasangan Arsen dan Anindya ada untuk saling melengkapi, meski pertemuan mereka bukan hal baik, namun hubungan yang mereka jalin suci dan penuh akan kebahagiaan.
Kebahagiaan yang semoga selalu bersama dengan mereka.
END✨
JANGAN DI UNFAV DULU YA, MASIH ADA EKSTRA PART YANG JUMLAHNYA MUNGKIN BUKAN SATU DUA BAB🥰🥰
BTW MAKASIH BUAT KALIAN SEMUA PEMBACA YANG TELAH MENDUKUNG AKU SELAMA INI. ALHAMDULILLAH KARYAKU YANG BERJUDUL 'MENIKAH KARENA MELANGGAR' BERHASIL MERAIH JUARA 3 LOMBA YAWS (you are writer season 6).
CERITANYA SUDAH END DAN BISA LANGSUNG DIBACA, SILAHKAN CEK PROFILKU 🥰🥰
__ADS_1