
Arsen dan Anindya ikut merasakan kebahagiaan saat mendapat kabar bahwa puta pertama Lee sudah lahir ke dunia, kini keduanya berada di rumah sakit untuk menjenguk Fia dan juga anaknya.
"Astaga tampan sekali!!!" puji Anindya menatap bocah mungil dalam gendongannya.
"Ya tentu saja, lihat siapa ayahnya." Sahut Fia menunjuk Lee sambil tertawa.
Anindya ikut terkekeh, ia setuju jika asisten Lee dibilang tampan, namun ia tak cukup nyali jika harus mengatakannya, bisa-bisa ia habis di makan suaminya malam ini.
"Mas, lihat deh lucu banget. Nanti pasti jadi temennya Arvin nih." Ujar Anindya menunjukkan bayi mungil itu kepada suaminya.
"Lee, siapa nama anakmu yang lucu ini?" tanya Arsen seraya mencolek pipi anaknya Lee.
"Gibrano putra." Jawab Asisten Lee dengan sopan.
"Hanya itu, kenapa tidak menambahkan nama keluarga Lucifer di belakangnya?" tanya Arsen membuat Lee terkejut.
"Tuan, maksud nya?" tanya Lee mendapat angukkan kepala oleh Asistennya.
"Gibrano putra Lucifer, kau adalah asisten terbaik yang sudah bagai adik, Lee. Aku berikan marga keluargaku padamu juga." Jelas Arsen.
Asisten Lee tersenyum tipis, ia menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa terima kasih telah menjadi kepercayaan keluarga Lucifer selama ini.
"Tuan, saya benar-benar berterima kasih atas kepercayaan anda selama ini." Ucap Lee membuat Arsen tersenyum.
__ADS_1
Arsen mendekat, ia menepuk bahu kiri Lee lalu memeluknya tak terlalu erat karena ia sedang menggendong Arvin.
"Sudahlah, sekarang waktunya kita sama-sama membesarkan anak-anak." Tutur Arsen.
"Pak Arsen, Anin. Makasih telah memberikan identitas kepada kami." Ucap Fia menatap pasangan suami istri itu bergantian.
Anindya mendekat, ia memberikan Gibran pada Fia lalu memeluk istri asisten suaminya itu dengan hangat.
"Tidak perlu berterima kasih, Fia." Timpal Anindya.
***
Tanpa terasa 2 tahun telah berlalu, kehidupan pernikahan Arsen dan Anindya tampak sangat bahagia terlebih lagi dengan segala tingkah lucu dan menggemaskan putra pertama mereka.
"Arvin, no!" larang Anindya menggelengkan kepalanya saat anaknya itu hendak berlari menjauh.
"Arvin, sini sama Papa, Nak. Jangan berlarian di pesawat atau nanti kamu kena marah. Arvin mau dimarahin?" tanya Arsen seraya memangku putranya.
"Tidak, aku tidak mau dimarahi." Jawab Arvin dengan suara lucunya.
"Nih minum susunya dan tidur, perjalanan kita masih jauh, Nak." Tutur Anindya memberikan sebotol susu untuk putranya.
Arvin mendaratkan kepalanya di dada sang Papa, ia memang lebih dekat kepada Arsen karena papanya itu selalu memberikan apapun yang ia pinta. Sementara Anindy, bukan ia tak sayang anak, hanya saja ia tak mau anaknya menjadi manja dan egois karena merasa selalu mendapatkan apa yang diinginkan.
__ADS_1
"Mas, jangan selalu menuruti permintaan Arvin. Aku nggak suka, aku takut nantinya dia manja dan egois." Ujar Anindya seraya mengusap kepala putranya.
"Iya, Sayang. Maaf ya, habis aku tidak tega jika melihat putra kesayanganku menangis." Sahut Arsen mengusap bibir istrinya.
"Sayang, Arvin kan sudah 3 tahun. Jadi bisa kan dia punya adik?" tanya Arsen menaik turunkan alisnya.
"Bisa, tapi aku kan memang belum dikasih hamil lagi jadi kita nggak bisa paksa. Kita hanya bisa pasrah dan berdoa." Jawab Anindya mengangguk mendengar pertanyaan suaminya tadi.
"Dan proses, Sayang. Jangan lupa ada doa maka harus ada usaha, jadi tiap malam, tiap ada kesempatan kita buat ya." Celetuk Arsen mengedipkan sebelah matanya pada sang istri yang lantas melotot menanggapi bualannya.
"Itu memang maunya kamu, huh …" desis Anindya melirik sinis suaminya.
Arsen terkekeh, ia memegang badan putranya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya ia gunakan untuk merengkuh tubuh istrinya. Arsen mencium puncak kepala Anindya berkali-kali, ia merasa sangat bahagia setelah bertemu dengan Anindya.
Anindya bukan hanya merubah sifatnya, namun juga kehidupannya menjadi yang lebih baik. Jika dulu setiap malam ia akan mencari wanita-wanita malam, maka kini ia justru bermain bersama anak istrinya dengan penuh kebahagiaan dan tawa.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang." Bisik Arsen dengan tulus.
Anindya tersenyum, ia mendongakkan kepalanya lalu mengecup bibir suaminya dengan cepat.
"Aku juga, Mas." Sahut Anindya semakin mengeratkan pelukannya.
SATU ATAU DUA BAB LAGI TAMAT 😜 NANTI ADA EKSTRA PART KOK 😗
__ADS_1
To be continued