Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 64


__ADS_3

Arsen tampak bahagia menatap bayi mungil dalam gendongannya saat ini. Putra pertamanya telah lahir kedunia dengan selamat. Ia tak kuasa menahan air mata saat bayi mungil itu menggeliat dalam pelukan nya dengan bibir yang sedang mencari-cari sesuatu.


“Mas, sepertinya dia haus.” Ucap Anindya melihat putranya yang sepertinya mencari susu.


“Benar, Arsen. Berikan anakmu pada Anindya dan biarkan dia menyusu, kasihan dia kehausan!!!” tegur Madam Meena.


Arsen mengangguk, ia segera memberikan anaknya kepada sang istri dan membiarkan putra tampannya itu menyusu. Dengan hati-hati Anindya menerima putranya, ia mencium kedua pipi bayi mungil itu dengan gemas.


“Siapa namanya, Arsen?” tanya Papah Ferdo.


“Arvin Danial Lucifer.” Jawab Arsen dengan begitu lantang dan yakin.


Anindya tersenyum mendengar nama untuk putranya juga berawalan dari huruf ‘A’, begitupun dengan Madam Meena dan Papah Ferdo yang sangat menyukai nama yang Arsen berikan kepada cucu mereka.


“Nama yang bagus dan Papah suka.” Ujar Papah Ferdo menepuk bahu putranya.


“Baiklah Arsen dan Anindya, pesawat kami satu jam lagi jadi harus pergi sekarang, maaf ya tidak bisa lama-lama disini.” Ujar Madam Meena melirik jam yang melingkar di tangannya.


Anindya tampak sedih namun ia tahu bahwa pekerjaan kedua mertuanya tak bisa ditinggal. 


“Maaf ya, Mom. Aku nggak ada siapin apapun sebagai bentuk perpisahan, tadi niatnya mau ke mall.” Ujar Anindya sedih.


“Anin sayang, kado yang kamu berikan jauh lebih berharga dari apapun, cucu yang tampan ini sudah menjadi kado terbaik untuk Mommy dan Daddy!” Sahut Madam Meena seraya mendekati menantunya.


“Terima kasih ya, Nak.” Lanjut Madam Meena lalu memeluk Anindya erat.

__ADS_1


Kini giliran Papah Ferdo yang bicara pada cucunya, ia berpamitan pergi dan segera kembali jika pekerjaan disana telah usai.


“Cucu Opa yang tampan, Opa pergi dulu ya, jadilah anak yang baik dan bisa membanggakan untuk kedua orang tuamu ya.” Celetuk Papah Ferdo.


“Siap, Opa. Jika aku besar nanti biarkan aku yang mendatangi Opa ke sana.” Sahut Anindya menirukan suara anak kecil.


“Maaf ya, Mom, Dad. Aku tidak bisa mengantar kalian, aku sudah meminta asisten Lee mengantar kalian sampai ke Bandara, barang-barang juga sudah ia bawa jadi kalian tinggal pergi saja.” Ujar Arsen pada kedua orang tuanya.


“Tidak masalah, jaga saja anak dan istrimu dan ingat pesan yang Papah katakan waktu itu,” timpal Papah Ferdo dibalas manggut-manggut oleh Arsen.


Setelah berpamitan, Papah Ferdo dan Madam Meena akhirnya pergi meninggalkan ruang rawat Anindya dengan diantar Arsen sampai ke lobby rumah sakit dimana Asisten Lee sudah menunggu mereka.


“Hati-hati menyetir mobilnya!” Tutur Arsen kepada Asisten Lee yang mengangguk patuh.


Arsen melambaikan tangan nya saat mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya semakin menjauhi area rumah sakit.


***


Arsen menatap istrinya yang tengah menimang-nimang anak mereka dengan tatapan kagum ia masih ingat bagaimana Anindya berjuang untuk melahirkan buah cintanya ke dunia, hal itu membuat Arsen dapat menarik kesimpulan bahwa menjadi seorang wanita tidaklah mudah.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Asisten Lee datang membawa makan malam pesanan Arsen yang sengaja ia pesan untuk istrinya.


“Terima kasih, Lee.” Ucap Arsen menerima makanan yang Asisten Lee berikan.


“Sama-sama, Tuan. JIka tidak ada lagi, saya permisi!” Balas Asisten Lee langsung pergi setelah mendapat jawaban berupa anggukkan kepala dari Arsen.

__ADS_1


Anindya merebahkan anaknya di ranjang kecil yang tersedia, ia memberikan kecupan sebagai ucapan selamat malam lalu beralih mendekati suaminya yang sudah menunggu untuk makan malam. Anindya menyiapkan makanan yang sudah tersedia di meja, ia membuka pembungkusnya lalu menyodorkan suapan pertama kepada suaminya.


“Aku tahu kamu belum makan sejak tadi siang, kamu hanya makan sarapan pagi aja tadi kan, Mas.” Ucap Anindya mengerti tatapan suaminya.


“Kamu duluan aja, kamu kan menyusui dan sangat butuh asupan yang tinggi, Sayang.” Tutur Arsen mengambil alih sendok dan berganti menyuapi istrinya.


Anindya menurut saja, ia sangat hafal sifat suaminya yang keras kepala. Setelah ia memakan suapan pertama dari Arsen kini Anindya berganti menyuapi suaminya hingga mereka saling menyuapi sampai satu porsi makanan telah habis.


“Sudah, Mas. Aku sudah kenyang,” ucap Anindya saat Arsen hendak membuka satu porsi makanan lagi.


Arsen menyeka noda bekas makanan di sudut bibir istrinya, ia lalu mengecup cepat tanpa permisi lebih dulu. Anindya sampai terkejut akibat suaminya yang begitu cepat. 


“Kebiasaan kalo nyosor nggak bilang-bilang!!!” dengus Anindya memutar bola matanya jengah.


“Emangnya kalo bilang akan dikasih?” tanya Arsen menaik turunkan alisnya.


“Kok nanya nya gitu, kalo aku nggak kasih maka nggak akan ada Arivn disini. Lagian kamu bukan cuma nyosor bibir, semua juga asal akunya pasrah langsung masuk!!” jawab Anindya sewot.


Arsen terkekeh mendengar ucapan istrinya yang memang benar, jika Anindya menolak maka tidak akan ada Arvin di kehidupan mereka, meski diawal Arsen harus memaksa Anindya. Ada penyesalan setiap kali mengingat bagaimana sikapnya terhadap Anindya dulu, namun Arsen juga ingin bersyukur karena dipertemukan dengan istrinya sehingga ia bisa memperbaiki diri dan kini sangat bahagia.


“Iya, Mama. Maafin Papa ya,” sahut Arsen seraya memeluk istrinya dari samping. 


Anindya membalas dengan mengusap lengan suaminya, ia menoleh menatap wajah suaminya. “Aku mau ingetin jika kamu harus berpuasa selama minimal 2 bulan, Mas.” Celetuk Anindya tertawa senang.


“Hmm … meski berat, tapi nggak apa-apa kan setelah 2 bulan bisa langsung bikin adik untuk Arvin.” Timpal Arsen mendapat cubitan gemas dari istrinya.

__ADS_1


ADA YANG MAU KIRIM HADIAH NGGAK NIH BUAT BABY ARVIN🤪😂


To be continued


__ADS_2