Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 50


__ADS_3

Anindya sedang mencuci piring bekas makan siangnya bersama Arsen, tiba-tiba saja Anin merasakan pelukan dari belakang, ia tentu tahu pelakunya adalah Arsen.


Anindya melepaskan pelukan Arsen lalu membalik badan, ia menatap Arsen yang juga menatapnya balik.


"Assa, apa kau akan marah jika aku memintamu menceritakan siapa itu Tio?" tanya Arsen penasaran.


"Mas Tio, tapi bukankah Anda sudah tahu Pak tentang dia, Asisten Lee sudah memberitahu anda bukan." Jawab Anindya mengerutkan keningnya.


"Assa, Lee itu sama tidak tahunya denganku, katakan sekarang dia itu siapa dan bagaimana dia bisa sampai melamar kamu." Pinta Arsen memelas.


Anindya tersenyum, ia menarik tangan Anindya lalu membawanya duduk di kursi yang ada disana. 


"Mas Tio itu anak kepala desa, dia pria yang selalu hadir disaat saga terpuruk atas semua kejadian yang saya alami, selama saya disini dia sangat baik, bahkan selalu membawakan saya makanan sehat untuk anak dalam kandungan saya." Jelas Anindya diakhiri helaan nafas.


"Mas Tio itu orangnya sopan, lembut dan terlihat begitu penyayang, entahlah bagaimana ia bisa sampai berani melamar saya, namun yang jelas kedua orang tuanya juga sudah datang untuk menjadikan saya menantu mereka setelah anak ini lahir." Lanjut Anindya membuat ubun-ubun Arsen panas.


Arsen berusaha tenang, ia tidak boleh kembali tersulut amarah apalagi kepada Anindya, sudah syukur ia dimaafkan dan jangan sampai Anindya kembali marah apalagi kabur.


"Assa, tapi kamu memilihku kan?" tanya Arsen penuh harap.


"Anda bertanya atau membuat pernyataan?" tanya Anindya mengangkat kedua alisnya.


"Aku bertanya Assa, aku sudah bilang bahwa aku tidak akan memaksamu lagi, hidupmu adalah keputusanmu meski nantinya jika kamu memilih Tio itu aku mungkin akan tetap memberinya sebuah pelajaran karena sudah berani merebutmu dariku." Jawab Arsen tanpa menatap Anindya.


Anindya menghela nafas, ia mengusap wajah Arsen dengan lembut. "Awww …" Anindya tiba-tiba meringis, bukan sakit melainkan terkejut karena tendangan bayi dalam kandungannya.


"Assa, ada apa?" tanya Arsen khawatir.

__ADS_1


"Pak, anda mau merasakan tendangan anak kita?" tanya Anindya menawarkan.


"Apa bisa menendang?" tanya Arsen balik dijawab anggukkan kepala oleh Anindya.


Anindya membawa tangan Arsen ke perutnya, ia membiarkan Arsen untuk merasakan keaktifan anaknya didalam sana.


Tiba-tiba saja bayi dalam kandungan Anindya menendang, hal itu sontak membuat Arsen terkejut namun tak ayal bibirnya tersenyum.


"Assa, anakku. Dia anakku," ucap Arsen lalu beralih menempelkan telinganya ke perut Anindya.


Anindya tersenyum, ia mengusap kepala Arsen dengan lembut. Rasanya ini seperti sebuah mimpi, selama beberapa bulan ini ia hanya bisa membayangkan bagaimana ekspresi Arsen saat merasakan tendangan bayinya.


"Assa, dia laki-laki atau perempuan?" tanya Arsen dengan semangat.


"Hmm, mungkin jagoan tapi juga bisa princess. Anda mau apa?" tanya Anindya menatap Arsen dengan wajah imutnya.


Arsen menegakkan kembali tubuhnya, ia mencium kening Anindya dengan hangat. "Laki atau perempuan sama saja, yang penting kamu dan dia baik-baik saja." Jawab Arsen sungguh-sungguh.


"Aku sangat mencintaimu, Assa." Lirih Arsen menempelkan kedua dahi mereka berdua.


Arsen dan Anindya saling memejamkan mata, merasakan kehangatan atas kedekatan yang telah lama hilang, bahkan Anin merasakan bayinya tak henti menendang seakan ia tahu bahwa sang papa telah datang untuk menemuinya disini.


***


Keesokan harinya Arsen masih tinggal bersama Anindya, namun tentu mereka pisah kamar agar tidak terjadi fitnah meskipun sebenarnya masih ada bisik-bisik warga yang menegur asisten Lee untuk sekedar bertanya siapa itu Arsen dan Asisten Lee hanya menjawabnya dengan senyuman sopan.


Pagi itu Anindya dan Arsen duduk di depan teras rumah sambil menikmati segelas teh hangat, kicauan burung dan hawa sejuk seketika membuat hati dan pikiran Arsen tenang, bukan hanya itu, ia semakin tenang karena Assa telah ada disampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana dia semalam, apakah tidurnya nyenyak?" tanya Arsen mengusap perut Anindya.


"Sangat, Pak. Sejak semalam dia tenang sekali, mungkin karena dia sudah bertemu dengan papanya." Jawab Anindya ikut mengusap perutnya.


Disaat sedang asik bersantai, Tio datang membawakan bubur untuk Anindya seperti biasa. Anindya menyambut baik kedatangan Tio, namun tidak dengan Arsen, pria itu tampak dingin dan cuek.


"Silahkan di makan Mbak, mumpung masih hangat." Tutur Tio dengan lembut.


"Oh iya, Mas Arsen sudah sarapan?" tanya Tio basa-basi.


"Hmm, sudah." Jawab Arsen cuek.


Anindya geleng-geleng kepala mendengar jawaban datar dan cuek Arsen, ia tentu sadar bahwa Arsen tidak suka akan kedatangan Tio, namun ia juga tidak akan mungkin melarang Tio untuk datang ke rumahnya.


"Mas Tio, makasih ya." Ucap Anindya dibalas anggukan kepala oleh Tio.


Anindya membawa buburnya masuk ke dalam, sementara di teras rumah kini tinggal Arsen dan Tio yang sama-sama diam.


"Mas, anda tidak berniat untuk memaksa Mbak Anin pulang bukan?" tanya Tio tiba-tiba.


Arsen mendelik tajam mendengar pertanyaan Tio yang begitu berani, ia memutar bola matanya malas.


"Saya tidak pernah memaksa Assa pulang, saya akan menghargai keputusan Assa, baik dia memilih untuk kembali kepada saya ataupun memilih anda sebagai pendampingnya. Namun satu yang perlu anda ingat adalah bahwa saya dan dia saling mencintai, bahkan dalam rahimnya kini sedang mengandung anak saya jadi yang sah menikah dengannya saat ini adalah saya." Jawab Arsen tanpa menatap Tio.


"Mari sama-sama menunggu jawaban Mbak Anin, kita jangan memaksa kehendak Mbak Anin dan harus menerima dengan lapang apapun keputusan nya." Ucap Tio mengajak Arsen melakukan kesepakatan.


Arsen tak membalas, ia hanya diam meski saat ini hatinya sedang bertanya-tanya. Ia takut akan jawaban dan keputusan Anindya, ia khawatir jika Anin nantinya akan memilih Tio dibanding dirinya, namun meski begitu ia akan tetap pasrah menerima keputusan Anindya.

__ADS_1


TUH AKU KASIH BONUS 1 BAB JADI 4 BAB HARI INI LOH, AWAS AJA NGGAK LIKE SAMA KOMEN 😕🙈


To be continued


__ADS_2