Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 56


__ADS_3

Anindya melirik Arsen yang sejak tadi tampak memperhatikan nya dengan aneh, hal itu sontak membuat Anindya menoleh menatap kepada pria itu, dan pada saat itu pula Arsen langsung mengalihkan pandangannya.


Anindya mengerutkan keningnya, ia harus bertanya pada calon suaminya ini.


"Apa?" tanya Anindya mengangkat kedua alisnya.


"Apa?" tanya Arsen balik seraya kembali melanjutkan makan malamnya.


"Kalian ini kenapa, kok jadi saling tanya tak tahu jawaban?" tanya Madam Meena menatap putra dan calon menantunya.


"Mom, aku mau menikah dengan Anindya besok." Jelas Arsen dengan begitu santai.


Anindya terbatuk-batuk, ia melototkan matanya sampai tersedak saking terkejutnya dengan ucapan Arsen barusan. Menikah, besok? Astaga bisa-bisanya Arsen bicara sembarangan saja.


"Arsen, menikah itu bukan seperti membeli cabai, lagipula waktunya kan sudah ditentukan Minggu depan, undangan juga sudah disebar." Ujar Papah Ferdo menggeleng pelan melihat tingkah anaknya.


"Tapi aku sudah tidak sabar, Dad!" sahut Arsen dengan cepat dan asal bicara saja.


Plakkk


Anindya reflek melayangkan tangannya ke tangan Arsen saat mendengar ucapan pria itu yang asal-asalan, bahkan bukan hanya itu, Anin juga menginjak kaki Arsen cukup kuat.


"Aduhh … sakit, Assa!!!" protes Arsen menggosok bekas pukulan Anindya yang mematikan.


"Itu semua karena Mas yang asal bicara." Balas Anindya tak kalah protes.


"Oh jadi panggilannya udah berubah jadi 'mas' nih, ya ampun." Pekik Madam Meena tersenyum menggoda keduanya.


"Itu semua Pak Arsen-- maksud saya Mas Arsen yang minta, Mom." Ujar Anindya menunjuk Arsen cepat.


"Ya … terus saja menyalahkanku, lihat saja saat kita menikah aku akan menghabisimu di malam pertama sampai pagi." Celetuk Arsen mendapat lemparan apel dari Madam Meena.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu, Ar." Tegur Madam Meena jengkel akan ucapan putranya.


"Aku hanya bercanda, Mom. Lagipula aku kan sangat mencintai Assa." Timpal Arsen seraya merengkuh pinggang Anindya.


"Mas." Bisik Anindya berusaha melepaskan tangan Arsen di pinggangnya.


Papa Ferdo menghela nafas, ia menepuk tangan istrinya lalu memberikan isyarat untuk menatap Arsen dan Anindya bergantian.


"Sudahlah sayang, ada baiknya mereka kita pisahkan." Ujar Papah Ferdo memberi saran.


"Pah, apa-apaan ini. Aku mati-matian menemukannya dan sekarang Papah mau memisahkan kami?" tanya Arsen protes.


"Bukan memisahkan selamanya, hanya sampai kalian sah saja, dan selama itu Anindya akan tinggal di apartemen kamu." Jawab Madam Meena menjelaskan.


"Tidak mau!" Tolak Arsen dengan tegas.


"Heh, Mommy yang menentukan disini. Dan kamu Anindya, tidak apa-apa kan berjauhan dulu dengan Arsen?" tanya Madam Meena lembut.


"Iya, Mom." Jawab Anindya mengangguk pasrah.


"Jangan." Ucap Arsen memberi isyarat.


Anindya tersenyum manis, ia mengusap kepala Arsen dengan lembut. "Hanya satu Minggu, Mas. Sabarlah," tutur Anindya terkekeh.


***


Anindya tampak duduk bersama Arsen di kursi taman kediaman Lucifer. Anindya menyandarkan kepalanya di bahu Arsen sementara Arsen tak henti menciumi kepalanya.


"Aku tidak ingin kita berjauhan, aku takut jika akan ada yang menyakitimu." Ujar Arsen pelan.


Anindya tersenyum tipis, ia mendongak lalu mengusap pelan wajah Arsen.

__ADS_1


"Hanya satu Minggu, lagi pula ada beberapa maid yang akan menemaniku." Sahut Anindya mencoba menjelaskan kepada Arsen.


"Lalu selama satu Minggu aku harus apa, beberapa bulan terakhir saja aku hancur tanpamu." Celetuk Arsen memelas.


Anindya terkekeh geli, ia merasa aneh melihat Arsen yang dulunya ia kenal dingin dan garang kini malah terlihat seperti anak kecil.


Anindya menarik hidung mancung Arsen pelan. "Bagaimana bisa ada Casanova model begini." Ledek Anindya tertawa renyah.


"Jangan menyambutku dengan itu lagi, kini aku adalah pria yang bertanggung jawab sehingga hanya cukup satu wanita untuk selamanya!!!" protes Arsen kini beralih menduselkan wajahnya ke curuk leher Anindya.


"Baiklah, sekarang kita ganti sebutan menjadi 'mantan Casanova' bagaimana?" tanya Anindya gemar menggoda Arsen.


"Assa!!!" Gemas Arsen menciumi seluruh wajah Anindya karena geram pada wanita yang asik menggodanya itu, bukan hanya menggoda kelakuannya, tapi juga menggoda imannya.


"Sayang, mau tahu sesuatu?" tanya Arsen berbisik pelan.


Anindya menautkan alisnya, ia heran dengan pertanyaan Arsen yang ambigu. "Apa?" tanya Anindya penasaran.


"Aku sudah sembuh, kini aku bisa mencetak banyak anak lagi." Jawab Arsen menyeringai.


"Hah, maksudnya?" tanya Anindya melongo.


Arsen mengangguk perlahan, ia menyunggingkan senyum devil lalu semakin merapatkan tubuhnya pada wanitanya.


"Karena itulah aku ingin cepat menikah denganmu, aku akan mulai terapi hingga milikku benar-benar ampuh kembali untuk mencetak bibit." Jawab Arsen sensual.


"Mau mencobanya sekarang, Sayang?" tawar Arsen menaik turunkan alisnya.


Anindya segera beranjak dari duduknya, ia mengusap perut lalu menatap Arsen dengan tajam.


"Ayo Nak kita pergi, jangan temani Papa. Papa menakutkan!!!" ledek Anindya kemudian segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


TIATI MAMA ANIN KENA PATOK SAMA PAPA ARSEN, UDAH MULAI GANAS LAGI DIAπŸ™ˆπŸ™ˆ


To be continued


__ADS_2