
Arsen mengetatkan rahangnya, ubun-ubun nya terasa begitu panas dan ingin sekali meledak setelah mendengar bahwa Asisten Lee tidak menemukan Anindya di sekitar kantor.
Hingga saat ini, Arsen sampai di rumah dan langsung membanting vas bunga berharga fantastis disana.
"ASSA!!!" teriak Arsen begitu menggema di seluruh penjuru rumah.
Namun tak ada sahutan dari wanita yang tak henti dipanggil olehnya. Tak lama Madam Meena dan Clara datang menghampiri Arsen yang terlihat begitu marah.
"Arsen, kenapa kamu teriak-teriak?" tanya Madam Meena merasa aneh.
"Dimana Assa, Mom?" tanya Arsen dengan tatapan meneliti rumahnya dan berharap wanita yang dicarinya itu ada.
"Maksudmu wanita murahan itu?" tanya Madam Meena sambil melipat tangan di dadanya.
"Mom!" Tegur Arsen tak suka.
"Apa Arsen, Mommy benar bahwa wanita itu adalah wanita murahan yang hanya menginginkan uangmu saja!" ujar Madam Meena meninggikan suaranya.
"Hentikan, Mom! Aku tidak ingin berdebat dan katakan saja dimana Assa?" tanya Arsen dengan tenang.
"Arsen, wanita itu sudah pergi." Jawab Clara menyahuti pertanyaan Arsen.
"Pergi, apa maksudmu?" tanya Arsen mengerutkan keningnya.
"Wanita itu sudah pergi jauh darimu, Arsen." Jawab Madam Meena seraya memberi gerakan tangan pergi.
"Tidak, Assa-ku tidak mungkin pergi!!!" bantah Arsen dengan lantang.
Arsen menggelengkan kepalanya tak percaya, ia naik ke lantai atas dan pergi ke kamarnya. Ia berharap saat membuka pintu akan melihat Anindya yang tengah tertidur, namun sayangnya kamar tampak sunyi.
"Assa." Panggil Arsen seraya memeriksa toilet yang kosong.
Arsen lantas beralih membuka lemari pakaian, ia terkejut tak menemukan pakaian Anindya disana dan matanya beralih menatap ponsel Anindya serta kartu kredit yang pernah ia berikan. Disana ada secarik kertas kecil berisi tulisan terima kasih.
Arsen menyalakan ponsel Anindya, ponsel itu masih sama bahkan sim card nya pun masih terpasang dan wallpaper ponsel itu adalah foto dirinya dan Anindya saat di Meksiko.
__ADS_1
"Tidak, Assa tidak akan mungkin pergi. Dia pasti ada disekitar sini," gumam Arsen dengan nafas terengah-engah.
Arsen menggertak giginya, ia membanting ponsel puluhan juta itu ke lantai hingga hancur tak berbentuk.
"ASSA!!!!" teriak Arsen memenuhi kamarnya yang kedap suara.
Arsen membanting dan menendang apapaun yang ada disana, nafasnya semakin tak beraturan bahkan cetakan wajah tegasnya terlihat dengan jelas. Arsen membuka pintu kamarnya dan menutupnya dengan dengan keras sehingga menciptakan bunyi keras.
Arsen kembali menghampiri Madam Meena dibawah yang asik santai minum teh bersama Clara tanpa tahu bahwa saat ini dirinya begitu khawatir pada Anindya.
"Mom, apa yang kau lakukan sampai Assa pergi?" tanya Arsen to the point.
"Arsen, kamu menuduh Mommy macam-macam pada wanita murahan itu?" tanya Madam Meena dengan santai.
"Jawab saja pertanyaanku!" jawab Arsen tegas.
"Wanita itu pergi karena memang saatnya dia untuk pergi, lagipula sekarang ada Clara, wanita cantik yang akan menikah denganmu." Jelas Madam Meena.
"Mom, hentikan drama ini dan katakan saja apa yang kau lakukan!!!!" Arsen mulai kehilangan kesabarannya.
"Mom, dia sedang mengandung anakku!! Dia mengandung cucu yang sangat kau inginkan!!!" Ucap Arsen dengan begitu lantang.
Madam Meena dan Clara terkejut bukan main, keduanya bangkit dari duduknya sambil terus menatap Arsen dengan tatapan tak percaya.
"Tidak, itu pasti bukan anak kamu Arsen. Dia wanita murahan jadi bisa berhubungan dengan siapa pun." Bantah Madam Meena.
"Itu tidak benar, Mom. Assa adalah wanita baik-baik, aku lah yang sudah membuatnya menjadi seperti ini dan aku yakin hanya aku lah yang berhubungan dengannya." Balas Arsen tak terima atas tuduhan sang ibu.
"Kenapa mom membiarkan nya pergi, dia sedang hamil!!" lanjut Arsen berteriak.
Madam Meena tampak terdiam dengan menggenggam erat gagang teh ditangannya, ia menjadi teringat perlakuannya pada wanita itu tempo hari.
Hari itu Madam Meena baru saja bangun tidur, ia memutuskan untuk ke dapur dan minta dibuatkan secangkir teh. Namun saat di dapur, ia tidak melihat maid melainkan Anindya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Nyonya, selamat pagi." Sapa Anindya dengan sopan.
__ADS_1
Madam Meena tak menjawab, ia hanya duduk diam sambil memainkan tangannya. Tiba-tiba Anindya menghampiri nya dengan segelas teh hangat seakan wanita itu tahu keinginannya.
"Bibi bilang anda suka teh hangat di pagi hari, ini minumlah." Tutur Anindya disertai senyuman hangat.
"Kau pasti sudah mencampurkan racun, aku tidak mau!" tolak Madam Meena asal.
"Itu tidak benar, Nyonya. Anda bisa mempercayai saya," sahut Anindya berusaha menyakinkan.
Madam Meena menghela nafas, aroma harum teh itu membuat Madam Meena akhirnya mengangkat gelas dan menyeruput teh dalam cangkir itu.
"Kenapa teh buatannya begitu enak di lidahku." Batin Madam Meena merasakan nikmat teh buatan Anindya.
Madam Meena menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh merasa kagum pada wanita murahan itu. Secara tiba-tiba Madam Meena membuang teh dalam mulutnya yang sontak membuat Anindya terkejut.
"Nyonya." Panggil Anindya pelan.
"Kau buat teh apa ini, pahit!!!" gertak Madam Meena lalu tanpa kasihan langsung melempar asal gelas berisi teh panas ke lantai hingga mengenai kaki Anindya.
"Awwww …" ringis Anindya merasakan sakit di kakinya.
Madam Meena bangkit dari duduknya, tak cukup sampai disana ia tiba-tiba mendorong Anindya sampai tubuh wanita itu terjerembab ke kulkas dengan lumayan keras.
"Jangan manja, bersihkan sekarang!" tegas Madam Meena lalu melenggang pergi.
Madam Meena menarik nafasnya, ia menatap Arsen dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Arsen, benarkah wanita itu sedang mengandung cucuku?" Tanya Madam Meena.
"Lupakan saja, Mom. Assa sudah pergi, dia meninggalkanku dan membawa anakku pergi bersamanya!" jawab Arsen dingin.
Arsen segera pergi meninggalkan rumah untuk mencari keberadaan Anindya. Tak lupa ia meminta anak buahnya untuk turut mencari keberadaan Anindya.
ANINDYA NGUNGSI DI RUMAH READERS AJA BOLEH GAK? KASIHAN NIH😕🤣
To be continued
__ADS_1