Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
Ekstra part 1


__ADS_3

Anindya hanya bisa menghela nafas melihat tingkah putranya, saat ini anak itu asik bermain air bersama sopir pribadi keluarga nya yang sedang mencuci mobil. Niat awal Anindya adalah duduk di teras rumah sambil menunggu suaminya pulang, namun siapa sangka Arvin justru bermain air dan sabun.


"Arvin, jangan lari-larian. Licin, Nak!" tegur Anindya menggelengkan kepalanya.


Arvin hanya tersenyum menunjukkan deretan gigi nya saat mendengar larangan dari mulut sang Mama. Anak itu tetap lanjut bermain air bahkan sampai duduk di gerasi dengan pancuran air dari selang menyirami tubuhnya.


Dalam keadaan hamil besar begini, Anindya kerap kali merasa kelelahan sehingga ia hanya bisa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, dan memantau anaknya bermain sambil duduk.


"Arvin, itu kotor." Tegur Anindya saat Arvin memasukkan bahkan menelan air yang keluar dari selang.


"Hehehe, maaf Mama." Sahut Arvin menghentikan aksinya.


Anindya hanya bisa mengusap dadanya sabar, putranya ini memang benar-benar duplikat Arsen, sulit untuk diberitahu, lihat saja sekarang bocah itu kembali memasukkan air ke dalam mulutnya.


"Pak, kalo Arvin nya nakal jangan ditemani." Ledek Anindya.


Sang sopir hanya bisa tersenyum canggung menanggapinya, ia juga ikutan memberitahu Arvin bahwa air itu kotor dan tidak boleh diminum.


"Mama tidak boleh begitu." Sahut Arvin memelas.


Anindya terkekeh, bersama dengan itu mobil Arsen memasuki pekarangan rumah yang memang cukup luas. Biasalah horkay.


Asisten Lee keluar disusul oleh Arsen yang menenteng tas kerja serta jas nya di tangan berbeda.


"Mas, sudah pulang." Sapa Anindya mencium tangan Arsen dibalas kecupan di keningnya.


"Bagaimana hari ini, apa Arvin ada tingkah baru?" tanya Arsen seraya mengusap perut besar istrinya.


"Tuh, lihat kelakuannya sama kaya kamu. Susah dibilangin!" jawab Anindya menunjuk putranya.


Arsen tersenyum melihat anaknya yang tampak bahagia, ia memberikan tas kerja dan jas nya kepada sang istri lalu mendekati putranya.


"Arvin, Papa pulang kok nggak dikasih kiss?" tanya Arsen seraya menarik ke atas lengan kemejanya.


"Papa pulang, yeayyy!!!" pekik Arvin girang seraya mendekati Arsen dan memeluknya.


Arsen hanya bisa pasrah menerima pelukan putranya yang mana membuat kemejanya basah semua, ia seka air yang ada di wajah putranya, perlu digaris bawahi bahwa wajah Arvin sangat mirip dengannya, seperti sekarang wajahnya yang basah menambah kesan tampak bocah berusia hampir 4 tahun itu.

__ADS_1


"Mas, ajak Arvin masuk. Ini sudah sore!" teriak Anindya pada anak dan suaminya.


"Pak Lee, saya masuk duluan ya. Titip salam untuk Fia dan Gibran." Ujar Anindya sebelum masuk.


"Baik, Nona." Sahut Asisten Lee dengan sopan.


Arsen menyusul istrinya masuk ke dalam rumah dengan menggendong Arvin, ia juga sudah mempersilahkan Lee pulang ke rumahnya karena sudah pasti ia juga ditunggu oleh anak istrinya.


Arsen membawa Arvin ke dalam rumah lalu meminta maid untuk membantu anaknya mandi. Setelahnya ia baru ke kamar, saat masuk ia melihat Anindya tampak duduk di pinggir ranjang sambil mengusap perutnya pelan.


"Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Arsen mendekati istrinya.


"Nggak apa-apa, Mas. Arvin mana?" tanya Anindya.


"Mandi, kamu benar nggak apa-apa? Apa dedeknya mau keluar sekarang?" tanya Arsen memegang tangan Anindya yang masih mengusap perutnya.


"Ck, belum. Perkiraan dokter masuk 20 hari lagi, Mas." Jawab Anindya sewot.


"Iya sih, tapi bisa aja kan perkiraan dokter itu salah." Cetus Arsen tak mau kalah.


"Ya udah pokoknya--" Ucapan Anindya terhenti saat merasakan tendangan dari bayi dalam kandungannya.


"Eh kapan aku marah-marah, nih namanya pencemaran nama baik di dunia kekeluargaan apalagi sama baby." Celoteh Arsen seraya memeluk istrinya erat.


"Nggak, mana ada kaya gitu. Lepasin ahh, baju kamu basah Mas!!!" rengek Anindya berusaha menghindari ciuman suaminya.


"Mama Assa wangi banget sih, kan jadi enak di cium-cium." Desis Arsen mendapat balasan seringai dari istrinya.


"Aku wangi, mau menikmatiku sore ini?" tanya Anindya dengan suara menggoda.


Arsen mengerang keras, istrinya sangat pandai menggodanya, jika sudah begini ya itu namanya rejeki nomplok yang tidak boleh ditolak.


Anindya memekik saat secara tiba-tiba Arsen menggendong lalu merebahkannya ke ranjang, tawa bahagia sangat jelas terlihat di wajah masing-masing.


***


Anindya dan Arsen baru saja menyelesaikan kegiatan sore panas mereka dengan tubuh bertahtakan keringat. Arsen yang sadar akan kondisi istrinya yang hamil besar tentu sedikit mengurangi durasi permainan mereka.

__ADS_1


Arsen berbaring di sebelah sang istri, ia peluk tubuh Anindya yang tak pernah berubah, tetap mungil di matanya.


Saat sedang hangat-hangatnya berpelukan, tiba-tiba saja ringisan keluar dari mulut Anindya. Arsen panik, ia khawatir melihat wajah Anindya yang seperti menahan sakit.


"Mas … awww sakit, Mas!" ringis Anindya pelan.


"Sayang, maaf jika aku terlalu kasar. Sayang, kamu oke kan?" tanya Arsen panik.


"Hiks … bawa aku ke rumah sakit, Mas!!!" pinta Anindya meremat bahu suaminya.


Arsen segera merapikan penampilannya dan penampilan Anindya, ia gendong istrinya lalu segera ia bawa ke rumah sakit. Arvin tidak ia ajak melainkan ia titipkan kepada art dirumah, tak lupa ia juga menghubungi Lee.


Sesampainya di rumah sakit, Arsen langsung menggendong istrinya ke ruangan dokter kandungan pribadi istrinya.


Arsen tampak gemetar saat Anindya tak henti menangis, untung saja langsung mendapat penanganan dari dokter.


"Apa kalian sering berhubungan akhir-akhir ini?" tanya dokter pada Arsen.


Arsen menggaruk kepalanya lalu mengangguk malu-malu, hal itu membuat dokter tersenyum.


"Tidak perlu malu, Pak. Justru ini baik dalam mempercepat proses persalinan." Ujar dokter.


"Ini baru pembukaan 5, masih harus menunggu sampai pembukaan ke 9." Lanjut dokter menjelaskan.


Arsen mengangguk pelan, ia mendekati Anindya lalu menggenggam tangan nya erat. Arsen tampak ingin menangis, untuk kedua kalinya ia merasa takut saat istrinya akan melahirkan.


"Sayang, aku disini. Kamu kuat ya, kita sama-sama berjuang." Bisik Arsen ditelinga istrinya.


Anindya mengangguk, ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Persalinan kedua ini tak membuatnya terlalu khawatir, ia berusaha tetap tenang meski sebenarnya ia ingin tertawa melihat suaminya.


"Mas, aku nggak apa-apa. Kita berdoa sama-sama ya, kamu jangan nangis." Tutur Anindya dengan lembut.


Setelah lebih dari satu jam menunggu, akhirnya Anindya telah memasuki pembukaan ke-9. Arsen tampak tak henti membisikkan kata-kata sebagai semangat untuk istrinya mengejan dan berjuang melahirkan anak mereka ke dunia.


"Akhhhh …." Teriakan Anindya sebelum disusui oleh tangisan bayi yang melengking memenuhi ruangan.


Arsen menciumi seluruh wajah istrinya dengan air mata yang mulai keluar, untuk kedua kalinya Anindya mau berjuang melahirkan anaknya ke dunia dan memberikannya kebahagiaan tiada tara.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih." Bisik Arsen serak.


Ekstra part masih berlanjut ......😜😜


__ADS_2