Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 41


__ADS_3

Arsen mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dalam keadaan mabuk. Sudah 1 bulan lamanya ia mencari-cari keberadaan Anindya namun tak kunjung ditemukan, wanita itu benar-benar hilang bahkan tak terjangkau oleh anak buah Arsen yang jumlahnya puluhan di berbagai daerah.


Selama satu bulan ini, hanya minuman yang menemani Arsen, meski banyak wanita malam yang berusaha menggodanya, ia sama sekali tidak tertarik bahkan masih segel sekalipun.


"Assa, aku menginginkanmu. Kembali lah Assa, aku menyesal, aku mencintaimu!!!" teriak Arsen dengan kecepatan mobil yang semakin tinggi.


Arsen telah menyadarinya, selama satu bulan memikirkan ucapan sang papa pagi itu membuatnya berperang pikiran dan iya, dia menemukan jawaban bahwa ia memang mencintai Anindya layaknya seorang pria kepada wanitanya, namun karena ego nya ia selalu menyangkal dan menyakiti Anindya dengan perkataan yang merendahkan wanita itu.


"Assa, aku pasti akan menemukanmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi saat kita sudah benar-benar bertemu." Teriak Arsen lagi sebelum cahaya lampu tampak begitu terang menerpa wajah Arsen.


Brakkkkk


Mobil Arsen terpental jauh karena terserempet truk dari arah berlawanan, mobil Arsen yang melaju dengan kecepatan tinggi membuat bagian kiri mobil hancur terkena box truk dan berakhir menabrak pembatas jalan.


Arsen tampak bersimbah darah di seluruh tubuhnya terutama di bagian kepala. Beberapa kendaraan mulai menepi guna melihat kejadian, mereka bersama-sama berusaha mengeluarkan Arsen yang terjepit oleh mobil.


"Cepat panggil ambulans!" teriak salah satu orang yang turut membantu Arsen.

__ADS_1


Darah terus mengalir dari beberapa titik tubuh Arsen, orang-orang disana pun sudah tampak panik menunggu ambulans datang. Akhirnya setelah 15 menit, ambulans datang dan langsung membawa Arsen ke rumah sakit untuk ditangani.


Pihak rumah sakit menghubungi keluarga Arsen untuk mengabari kondisi pasien yang saat ini dibawa ke ruang operasi.


Madam Meena, Pak Ferdo dan Clara tampak sama-sama panik mendengar kabar tentang Arsen. Ketiganya kini sedang menunggu di depan ruang operasi, menantikan putra mereka yang benar-benar kritis saat ini.


"Pah, bagaimana ini. Mamah gak mau kehilangan Arsen!" Ucap madam Meena sambil bersimbah air mata.


"Tenang, Mah. Papah yakin Arsen akan baik-baik saja, semua akan baik." Balas Ferdo berusaha menenangkan istrinya.


Madam Meena dan Papa Ferdo sama-sama mengangguk mendengar ucapan Clara. Semoga saja benar bahwa Arsen tidak apa-apa.


Sementara itu Anindya, wanita itu tampak kesulitan memunguti pecahan kaca dari gelas yang tidak sengaja jatuh dari tangannya. Padahal ia sangat yakin sudah memegangnya erat, namun entah mengapa bisa jatuh dan perasaan nya ikut tiba-tiba khawatir.


Anindya membuang semua pecahan gelas itu ke tempat sampah, ia hendak melangkah ke kamar namun terhenti saat tiba-tiba perutnya terasa begitu sakit.


"Awww … Dedek kenapa hmm?" tanya Anindya sambil mengusap perutnya yang sudah jalan 6 bulan sehingga tonjolan kian besar.

__ADS_1


"Astaga!!" pekik Anindya terkejut saat pertama kalinya merasakan tendangan dari bayi yang ada dalam kandungannya ini.


Mata Anindya tiba-tiba berkaca-kaca merasakan keaktifan bayinya, ia menyeka air matanya lalu tersenyum.


"Baik-baik di perut Mama ya, Sayang. Meski kita hanya akan tinggal berdua saja, tapi Mama yakin kita bisa, kita ada untuk sama-sama menguatkan. Papa kamu--" Anin menggantung ucapannya saat tiba-tiba teringat pada Arsen.


Anin menghela nafas pelan, ia menarik kursi dan duduk disana. "Papa kamu mungkin sudah bahagia dengan dunianya, meski begitu Mama tidak akan membiarkan kamu tidak mengenal Papa mu, Nak. Papamu adalah pria yang hebat, hanya saja dia tidak bisa mengendalikan diri nya sendiri." Ujar Anindya sambil terus mengusap perutnya.


Anin tersenyum, ia memejamkan matanya sesaat. "Pak Arsen, dimanapun anda berada, saya hanya ingin mengucapkan maaf dan terima kasih, saya doakan semoga anda baik-baik saja dan selalu bahagia. Anda jangan khawatir, saya pasti akan menceritakan hal positif tentang anda pada anak kita." Gumam Anindya seakan ia bicara pada sosok Arsen.


Anindya beranjak dari duduknya, ia segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat sebelum besok kembali beraktivitas seperti biasanya.


ARSEN GIMANA NIH 😭😭


Nanti up lagi kok, sabar ya jangan takut aku pasti up😗


To be continued

__ADS_1


__ADS_2