Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 73


__ADS_3

Anindya tampak pucat memikirkan putranya yang masih belum ditemukan hingga malam datang, pikirannya kacau, matanya sembab karena terus menangis, dan kini penampilan Anindya terlihat begitu memprihatinkan.


Arsen pun tampak sejak tadi berusaha membujuk istrinya untuk makan, namun Anindya hanya diam.


"Mas, Arvin belum nyusu. Aku yakin dia sedang menangis, hiks … anak aku, Mas!!" lirih Anindya teringat Arvin yang selalu menyusu padanya.


"Aku mengerti kamu khawatir sama Arvin, tapi kamu juga harus jaga pola makan. Jadi makan dulu ya?" tutur Arsen menyodorkan makanan ke mulut istrinya.


Anindya menggeleng, ia mendorong tangan Arsen yang tengah ingin menyuapinya pelan tanda ia enggan untuk makan.


"Aku nggak nafsu, Mas. Aku mau Arvin," timpal Anindya pelan.


Arsen menghela nafas, ia sangat paham jika istrinya tengah memikirkan anak mereka, namun untuk makan sejujurnya tak boleh ditinggalkan. 


Saat hendak membujuk istrinya lagi, ponsel Arsen berdering menandakan ada telepon masuk dari seseorang.


"Katakan." Ucap Arsen langsung.


"Tuan, tuan muda Arvin sudah ditemukan." 


Arsen meletakkan piring di tangannya, ia bangkit dari duduk yang mana mengundang tatapan dari Anindya.


"Kirim alamatnya!" Putus Arsen langsung menutup teleponnya.


Arsen menunduk menatap istrinya, ia menarik tangan Anindya pelan. "Sayang, Arvin sudah ditemukan. Kamu tunggu disini ya, aku akan menjemput anak kita?" tutur Arsen.


Anindya menggelengkan kepalanya, ia menolak jika harus menunggu dirumah.


"Aku ikut." Sahut Anindya tanpa mau dibantah.


Arsen mengangguk, ia menarik tangan istrinya keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil. Arsen mengendarai mobilnya ke alamat yang telah dikirimkan oleh anak buahnya.


Anindya mengerutkan keningnya saat jalanan yang dilalui oleh Arsen adalah jalan menuju rumah bibinya.


"Mas, kenapa kita kesini?" tanya Anindya saat mereka benar-benar berhenti di depan rumah bibi Anindya.


"Disinilah Arvin, Sayang." Jawab Arsen seraya membuka seatbelt nya.


"Maksud kamu?" tanya Anindya menerka-nerka.


Anindya melototkan matanya, nafasnya berubah memburu lalu langsung keluar dari mobil. Anindya berlari masuk ke dalam rumah paman dan bibinya yang tampak sudah dikepung oleh anak buah Arsen.

__ADS_1


"Arvin." Panggil Anindya saat masuk ke dalam rumah.


Anindya terkejut melihat putranya yang menangis dengan Dela di belakangnya menodong pisau ke leher Arvin. 


"Halo Anindya." Sapa Dela dengan manisnya.


"Rindu dengan anakmu, lihatlah dia sejak tadi menangis jadi aku memukulnya." Lanjut Dela menunjuk bagian lengan Arvin yang memar.


"Dela, lepaskan anakku. Kau gila hah?!!" Bentak Anindya hendak mendekat namun dihentikan oleh Arsen.


"Jika kau berani mendekat maka aku akan menghabisi anakmu ini." Ancam Dela semakin mendekatkan pisau ke kepala Arvin.


"DELA!!!" teriak Anindya dengan emosi yang memuncak.


"Jangan berani berteriak, berikan saja uang padaku maka anakmu ini akan aman!" sahut Dela tak kalah berteriak.


"Lepaskan anak saya, maka saya akan berikan apapun yang anda pinta." Ucap Arsen berusaha tenang.


"Uang 2 milyar." Tukas Dela langsung menyahut ucapan Arsen.


Anindya melotot mendengar ucapan sepupunya yang tidak waras itu, ia tak menyangka jika Dela akan bisa berbuat keji dengan menculik anaknya hanya demi uang.


"Uang itu aku gunakan untuk kedua orang tuaku yang saat ini sedang dalam tahanan!" Jawab Dela dengan tinggi.


Anindya kembali tersentak, ia baru menyadari jika rumah itu sepi dan tidak ada paman bibinya disana. Sementara Arsen yang melihat kebingungan di wajah istrinya lantas mengusap punggung Anindya.


"Kedua orang tuanya masuk penjara itu karena mereka sempat mau mencelakai kamu, Sayang." Jelas Arsen semakin membuat Anindya kebingungan.


Anindya baru saja sampai di restoran yang suaminya kirimkan tadi, hari ini Arsen mengajaknya untuk makan siang bersama di salah satu restoran yang menjadi tempat favorit suaminya itu.


Anindya baru saja turun dari mobil, ia menutup pintu mobil dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada sopir yang mengantarnya.


Baru saja Anindya ingin masuk, tiba-tiba ada seorang yang menarik lengannya disusul suara pecahan pintu kaca restoran yang terkena sebuah pisau.


"Astaga!!!" kejut Anindya sampai memegangi dadanya.


"Nona Anindya, anda tidak apa-apa?" Tanya Asisten Lee.


Anindya mengangguk, ia menoleh ke arah pintu masuk restoran dimana ada pisau tergeletak disana.


"Pak Lee, pisau itu akan menusuk saya jika anda tidak menyelamatkan saya bukan?" tanya Anindya pelan karena masih syok.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Nona." Jawab Asisten Lee dengan tenang.


Tak lama Arsen keluar dari restoran, ia memeluk Anindya yang masih syok atas kejadian barusan. Arsen menatap asistennya tanda meminta untuk menyelidiki siapa yang telah melakukan hal membahayakan nyawa seperti tadi.


"Mas, pisau itu bisa membunuhku dan anak kita." Lirih Anindya dalam pelukan Arsen.


"Jangan khawatir, Sayang. Kamu tenang oke," tutur Arsen dengan lembut.


Anindya terkejut mendengar kebenaran yang baru saja ia ketahui, jadi pisau yang melayang hampir menusuk dirinya adalah perbuatan paman dan bibinya.


"Tapi kenapa mereka melakukan itu?" tanya Anindya mendongak menatap suaminya.


"Karena kau tidak tahu diri Anindya, kau sudah menikah dengan pria kaya tetapi tak ada kau mengingat kebaikan orang tuaku!" Sahut Dela diakhiri tawa remeh.


"Kebaikan? Kebaikan yang mana? Bukankah setiap hari yang aku terima hanya caci maki dan siksaan? Bahkan aku bekerja tapi kalian yang menikmati hasil kerja kerasku." Ujar Anindya tak terima dengan ucapan Dela.


"Tutup mulutmu dan pikirkan saja anakmu ini. Dia bisa tiada jika kau terus bicara!" Ancam Dela membuat emosi Anindya sudah di ujung batas kesabaran.


Anindya melepaskan tangan suaminya, ia mendekati Dela lalu merebut anaknya, hal itu sontak memicu pemberontakan dari Dela dan Anindya. Arsen dan anak buahnya ikut andil melerai Anindya dan orang gila itu, sementara Arvin sudah diamankan oleh salah satu anak buah Arsen yang lain.


"Kau sudah menyakiti anakku, lihat saja aku pasti akan membalasnya dengan lebih sakit!" ucap Anindya dengan mata menyiratkan amarah.


Dela dipegangi oleh anak buah Arsen, sementara Anindya sudah ditenangkan oleh Arsen yang memeluknya dengan erat.


"Sssttt … jangan pikirkan orang gila itu Sayang, yang terpenting Arvin sudah ada bersama kita." Tutur Arsen mengusap punggung naik ke kepala Anindya.


"Tapi dia udah pukul Arvin, Mas. Kita saja nggak pernah memukul Arvin!" sahut Anindya, ia sebagai seorang ibu tentu tak terima jika anaknya disakiti.


"Sialann kau Anindya, berikan anak itu padaku!!!" teriak Dela berusaha melepaskan cekalan anak buah Arsen.


"Kau dan kedua orang tuamu yang jahat itu akan saya pastikan membusuk di balik jeruji besi!!" Pungkas Arsen tenang namun penuh ancaman.


Anindya melepaskan pelukan nya, ia buru-buru mengambil Arvin dari gendongan anak buahnya. Anindya menangis melihat keadaan Arvin yang benar-benar kacau, ada bekas memar di tangan dan kaki anaknya.


"Anak Mama nggak apa-apa kan? Sstttt … sekarang Arvin sudah sama Mama lagi, jangan nangis ya." Bisik Anindya menciumi anaknya yang masih menangis.


MAMAM LHOO DELA, KALAU MAU CULIK ANAK LIHAT DULU SIAPA EMAK BAPAKNYA 😭


To be continued


Note. Tulisan cetak miring adalah Flashback

__ADS_1


__ADS_2