Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 33


__ADS_3

Anindya yang tidak betah berada di rumah sakit lantas memaksa Arsen untuk mengajaknya pulang meski anjuran dokter adalah satu Minggu, karena wanita itu yang terus merengek, alhasil Arsen menurutinya untuk pulang. Bukan benar-benar pulang, melainkan kembali ke hotel tempat mereka menginap sebelumnya.


"Kau diperbolehkan untuk pulang bukan berarti bisa bebas melakukan ini itu, Assa." Celetuk Arsen tiba-tiba.


"Ini itu maksudnya apa, Pak?" tanya Anindya balik.


"Ya melakukan sesuatu yang membahayakan anakku." Jawab Arsen tanpa menatap Anindya.


"Pak, saya ini bukan wanita gila. Hal yang membahayakan itu contohnya adalah lompat dari gedung, 'kan." Timpal Anindya geram.


"Assa, semenjak hamil bibirmu selalu asal bicara saja!" geram Arsen lalu menarik hidung Anindya pelan.


Sesampainya di hotel, Arsen tanpa permisi langsung menggendong Anindya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka. 


Arsen merebahkan tubuh Anindya perlahan diatas ranjang, tak lupa ia selimuti tubuh wanita itu sampai batas perut.


"Istirahatlah, aku akan memesankan makanan. Kau mau makan sesuatu, sate bagaimana?" tawar Arsen teringat pada keinginan Anin waktu itu.


"Tidak, nanti anda memintanya lagi." Tolak Anindya cepat.


Arsen terkekeh, ia mengangkat dagu Anindya lalu menariknya pelan. Arsen mengecup ringan bibir merah muda milik Anindya hingga membuat wanita hamil itu memejamkan matanya.


"Jika kau mau, aku bisa memesan banyak tusuk sate untukmu Assa. Aku tidak akan minta, Sayang." Tukas Arsen.


"Tapi sate jenis apa yang tersedia di negara ini?" tanya Anindya polos.

__ADS_1


"Sate … satelit mungkin." Jawab Arsen diakhiri tawa yang begitu keras.


"Pak!!!" tegur Anindya melempar bantal tepat ke wajah Anindya.


Anindya menelan salivanya dengan sulit dan wajah yang berubah pias setelah menyadari keberaniannya yang tiba-tiba saja muncul hingga reflek melempar bantal ke wajah Arsen.


Sementara Arsen memasang wajah datar, ia meletakkan bantal di ranjang lalu menatap wajah Anindya yang merah dengan tatapan tajam.


"Aku akan memesankan sate buaya untukmu, biar digigit." Celetuk Arsen lalu keluar dari kamar tempat Anindya.


***


Tak begitu lama, Arsen kembali ke kamar bersama seorang pelayan yang membawa makanan cukup banyak di troley. Arsen menyuruh pelayan itu untuk meletakkan di dekat sofa lalu menyuruh pelayan itu pergi setelah memberikan tip.


"Ayo makan, ini sudah kubawa kan sate buaya untukmu." Ajak Arsen seraya mendekati Anindya.


Arsen memegang tangan kanan wanita itu lalu merengkuh pinggang ramping Anindya, padahal Anin baik-baik saja namun Arsen yang terlalu berlebihan padanya.


"Pak, soal tadi tolong maafkan saya." Ucap Anindya pelan.


"Tidak apa-apa, namun lain kali jika kau berani melakukannya maka aku tak segan untuk menghukummu." Balas Arsen membuat Anindya mendengus pelan.


"Hukuman berupa menjenguk anakku misalnya," tambah Arsen diakhiri cengiran kuda tanpa dosa.


Anindya mengerjapkan matanya, ia menatap Arsen lalu menganggukkan kepalanya. "Ya, silahkan saja." Timpal Anindya santai.

__ADS_1


"Kau paham kan maksud menjenguk?" tanya Arsen menatap wanita polos itu dengan was-was.


Anindya menganggukkan kepalanya. "USG kan." Jawab Anindya tanpa menatap Arsen yang tampak cengo mendengarnya.


"Assa!!!" geram Arsen mengepalkan tangannya saking gemas pada kepolosan wanita itu.


Anindya tak menghiraukan, ia asik menyantap makanannya yang ternyata lumayan enak dan cukup selaras dengan lidahnya yang kedesaan.


"Enak, Pak. Anda tidak mau kan?" tanya Anindya mengangkat kedua alisnya.


"Mana ada orang menawarkan seperti itu." Jawab Arsen sewot.


"Lagipula siapa yang bilang saya menawarkan, saya kan hanya bertanya dan saya berharap semoga anda tidak mau karena saya ingin makan sendiri saja." Pungkas Anindya lalu melanjutkan kegiatan makannya dengan tenang.


Arsen mengigit bibirnya, andai saja Anindya tak sedang mengandung, sudah pasti ia akan mengangkat tubuh mungil itu dan membanting nya diatas ranjang. Memberi hukuman karena terlalu polos.


"Assa, kau sangat polos ya." Ujar Arsen menatap Anindya.


"Hmm tidak tahu, tapi saya jadi tidak polos karena anda, Pak." Balas Anindya dengan tenang.


"Aku, kapan aku mengajarimu hal buruk?" tanya Arsen tak terima.


Anindya menunjuk ke arah perutnya seakan mengatakan bahwa saat ini dirinya tengah hamil karena pria itu. Sementara Arsen yang mendapat jawaban demikian hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ada benarnya juga jawaban Anindya.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2