
Sambil bergandengan tangan Asisten Lee mengajak Fia untuk masuk ke dalam rumah Arsen, hari ini setelah melamar Fia maka ia akan langsung meminta izin kepada Arsen untuk menikah.
Mengapa Arsen? Karena selama ini hanya Arsen yang ada untuknya, meski status Arsen adalah atasannya namun sejujurnya hubungan diantara mereka lebih dari sekedar itu, mereka sudah seperti kakak beradik.
Saat sampai di dalam, asisten Lee melihat Arsen tengah bermain dengan anaknya, di sebelahnya ada Anindya yang juga belum menyadari kedatangan mereka.
"Selamat malam, Tuan." Sapa Asisten Lee.
Arsen mengalihkan pandangannya dari anaknya, ia mengerutkan keningnya lalu bangkit dari duduknya.
"Lee, ada apa?" tanya Arsen seraya mendekati pria itu.
"Tuan, maaf saya mengganggu waktu istirahat Anda. Saya datang kesini untuk meminta izin dan restu anda untuk menikah." Jawab Lee dengan yakin.
Arsen mengerutkan keningnya, ia lalu melirik gadis disebelah asisten nya itu. Sesaat kemudian Arsen manggut-manggut, lalu mempersilahkan kedua orang itu duduk.
"Pak Lee ingin menikah?" tanya Anindya dengan antusias.
"Benar, Nona." Jawab Asisten Lee mengangguk.
Anindya lalu melirik gadis disebelah Lee, ia mendekati Fia yang membuat Fia ikut bangkit dari duduknya.
"Malam, Nyonya." Sapa Fia dengan begitu sopan.
Anindya menggelengkan kepalanya. "No, jangan pakai Nyonya. Cukup Anin saja, lagipula aku lebih muda darimu." Ujar Anindya dengan ramah.
"Baiklah, Anin." Sahut Fia meski sedikit ragu.
"Sayang, sini duduk dulu. Lee ingin bicara," tutur Arsen meminta istrinya duduk.
Anindya menurut, ia duduk di sebelah suaminya sambil tetap menimang-nimang putranya yang untung saja anteng.
"Jadi bagaimana?" tanya Arsen dengan serius.
__ADS_1
"Saya ingin menikahi Fia, Tuan. Saya sudah yakin dengan hati saya, dan Fia juga sudah setuju." Jawab Asisten Lee.
"Lalu bagaimana dengan keluarga Fia?" tanya Arsen beralih kepada bawahannya.
"Saya tidak memiliki keluarga, Pak. Saya dibesarkan di panti asuhan setelah kedua orangtua saya meninggal dan kini ibu panti saya juga sudah tiada." Jawab Fia sedikit lirih.
Anindya memukul lengan suaminya saat menyadari bahwa ucapan Arsen menyinggung perasaan Fia sampai gadis itu tampak sedih.
"Fia, maaf ya. Kami tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan mu," ujar Anindya dengan lembut.
Fia mengangkat wajahnya menatap Anindya, ia tersenyum lalu mengangguk. "Tidak apa-apa, Anin. Aku hanya teringat kedua orangtuaku," sahut Fia membuat Lee langsung menggenggam tangan nya.
Arsen menarik nafas lalu membuangnya perlahan, ia menatap Lee lalu bergantian ke arah Fia.
"Baiklah, Lee. Aku memberikanmu izin dan restu bukan sebagai atasan, namun sebagai orang yang selama ini sudah kau anggap kakakmu. Aku juga akan membantu menyiapkan acara pernikahan kalian," ujar Arsen seraya bangkit dari duduknya.
Asisten Lee ikut bangkit, dengan senyuman mereka ia menghampiri Arsen lalu memeluk pria itu sambil terus mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Lee dianggukki oleh Arsen.
***
Tampak dekorasi yang sederhana namun elegan sesuai permintaan kedua mempelai, bunga mawar putih yang berjejer menambah kesan tersendiri bagi pernikahan Lee dan Alfia hari ini.
Di pelaminan sudah duduk pria dan wanita yang baru saja merubah status menjadi pasangan suami istri, siap menjalani bahtera rumah tangga bersama dengan penuh bahagia.
Di sudut ruangan, terlihat pula sepasang suami istri bersama anak mereka yang tak kalah serasi seperti pengantin.
"Mas, asisten Lee tampan ya, cocok dengan Fia." Ujar Anindya sambil tetap menatap kedua pengantin.
"Apa-apaan kamu ini, lebih tampan aku kemana-mana dong." Sahut Arsen tak terima.
Anindya menoleh, ia terkikik menyadari bahwa suaminya ini kesal hanya karena ia mengatakan bahwa asisten nya itu tampan, padahal ia hanya bicara jujur.
__ADS_1
"Iya, suamiku yang paling tampan, kiyowo lagi. Jadi mau nambah Dedek, kan kebetulan puasanya udah selesai." Celetuk Anindya menaikkan kedua alisnya.
"Tapi Papa kayanya marah, ya udah deh bikin Dedek untuk Arvin nya belakangan aja." Tambah Anindya membuat Arsen melotot.
"Ehh enggak kok, Sayang. Aku nggak marah, kamu bener Lee memang tampan." Tukas Arsen dengan terburu-buru.
Anindya melirik suaminya dengan sinis, ia mengerucutkan bibirnya sebal. "Cemburuan banget sih, tapi aku suka." Pungkas Anindya mencubit gemas bibir Arsen.
"Iya nggak apa-apa Sayang, sekarang kamu cubit tapi nanti malam harus kamu gigit." Ujar Arsen mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Udah ayo kita kasih ucapan selamat dulu sama Pak Lee dan Fia." Ajak Anindya menarik tangan suaminya.
"Sini aku yang gendong Arvin, kasihan aku lihat kamu," pinta Arsen mengambil alih menggendong anaknya.
Anindya dan Arsen naik ke pelaminan, mereka menyalami tangan keduanya bergantian.
"Selamat menempuh hidup baru ya Pak Lee dan Fia, semoga kehidupan pernikahan nya bahagia selalu, dan cepat diberi momongan untuk teman Arvin." Ucap Anindya sambil cepika-cepiki.
"Terima kasih Anin atas doanya." Sahut Fia tersenyum manis.
"Selamat atas pernikahan mu, semoga bahagia dan tidak lupa dengan pekerjaan meski sudah punya istri. Awas saja, aku akan memotong gajimu jika kau lalai." Celetuk Arsen bergurau.
"MAS!!" tegur Anindya kesal mendengar ucapan suaminya.
"Hahaha, siap Tuan. Saya tidak akan melupakan pekerjaan saya meski sudah punya istri yang cantik ini. Dan Nona Anin, anda jangan khawatir, Tuan Arsen memang suka bercanda." Ujar Asisten Lee terkekeh.
Setelah memberikan ucapan selamat, Arsen dan Anindya turun dari pelaminan dan membiarkan tamu lain untuk memberikan doa serta ucapan masing-masing.
Saat keduanya hendak kembali duduk di kursi tadi, tiba-tiba Anindya merasakan sakit di dadanya, ini terjadi karena ia belum menyusui Arvin sejak tadi.
"Mas, dada aku sakit. Kita cari tempat untuk aku menyusui Arvin yuk, susu aku udah penuh." Ajak Anindya sambil menahan sakit.
"Ya ampun, ayo Sayang kita pesan kamar saja." Timpal Arsen menarik tangan istrinya yang tampak sudah sangat kesakitan.
__ADS_1
PART NYA ASISTEN LEE SAMA FIA POTONG NGGAK NIH? SEKALIAN ADA YANG MAU BUKA PUASA 😂
To be continued