Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 42


__ADS_3

Pasca operasi, Arsen langsung dibawa ke ruang perawatan intensif dengan pengawasan penuh dari dokter selama 1X24 jam. Selama itu dokter akan rutin memeriksakan Arsen dan jika Arsen tak sadar dalam 42 jam maka pria itu dinyatakan koma.


"Dokter, tapi anak saya akan baik-baik saja kan setelah melewati 42 jam ini?" tanya Madam Meena pada dokter yang menangani Arsen.


"Kondisinya benar-benar kritis Nyonya, dan selama waktu yang ditentukan jika memang pak Arsen tidak sadar maka beliau dinyatakan koma, untuk laporan lebih detailnya kita harus menunggu." Jawab dokter menjelaskan.


Madam Meena tampak menangis dalam pelukan suaminya. Sebagai seorang ibu, tentu ia tak tahan melihat kondisi putra semata wayangnya yang kritis.


"Baiklah, Dok. Terima kasih atas bantuannya," ujar Papa Ferdo menatap dokter yang lantas mengangguk dan pergi.


Sementara itu Clara, gadis itu tampak diam di sudut koridor. Ia mendekati madam Meena dan Papa Ferdo yang sedang saling menguatkan.


"Mom, aku harus kembali ke Australia. Kontrak kerja yang sudah ditandatangani akan dimulai minggu depan, jadi aku harus pergi. Ucap Clara menatap Madam Meena takut-takut.


"Kamu akan meninggalkan Mommy seperti ini, Clara?" tanya Madam Meena tak menyangka.


"Mom, bukan seperti itu tapi aku benar-benar harus pergi. Aku janji akan kembali setelah pekerjaan ku selesai!" jawab Clara seraya menggenggam tangan Madam Meena.


"Mah, biarkan saja Clara pergi. Dia juga kan harus bekerja," tutur Papa Ferdo berusaha membuat istrinya mengerti.


Madam Meena menghela nafas, dengan berat akhirnya ia menganggukkan kepalanya dan membiarkan wanita yang menjadi comblangan untuk putranya itu pergi.


"Aku minta maaf ya, Mom. Aku pergi, sampai jumpa." Pamit Clara kemudian langsung pergi.

__ADS_1


***


Sudah 24 jam berlalu, Arsen masih belum sadar dan selama itu pula dokter dan perawat bergiliran untuk memeriksa Arsen atau sekedar mengganti cairan infusnya.


Orang Tua Arsen pun sudah diperbolehkan untuk menjenguk putranya, hingga kini Papa Ferdo dan Madam Meena berada di ruang perawatan Arsen.


"Arsen, bangun Nak! Mommy dan Daddy disini." Pinta Madam Meena sambil menggenggam tangan Arsen.


"Arsen, Mommy gak bisa lihat kamu begini. Bangunlah, Nak!" pinta Madam Meena sambil menangis.


"Tenanglah, Mah. Arsen pasti akan segera sadar," tutur Papa Ferdo seraya mengusap punggung istrinya lembut.


Tiba-tiba saja Madam Meena merasakan tangan Arsen yang berada di genggamannya bergerak, Madam Meena menatap jari-jemari Arsen lalu bergantian ke wajah putranya yang pelan-pelan membuka mata.


Papa Ferdo segera menekan bel yang ada di atas bangsal, tak butuh waktu lama untuk dokter dan perawat datang ke kamar rawat Arsen.


Dokter memeriksa keadaan Arsen, menempelkan alat stetoskop ke dada Arsen lalu melepasnya. Dokter itu menatap kedua orangtua Arsen dengan senyuman.


"Syukurlah karena pak Arsen bisa melewati masa kritisnya, kini kondisinya tidak terlalu buruk dan hanya membutuhkan perawatan disini selama beberapa hari." Jelas Dokter itu.


Madam Meena dan Papa Ferdo merasa sedikit lega mendengar penjelasan dokter, mereka lalu kembali mendekati bangsal Arsen.


"Arsen, Nak. Bagaimana keadaanmu?" tanya Madam Meena pelan.

__ADS_1


"A-assa, Mom." Jawab Arsen dengan pelan namun terdengar begitu jelas di telinga Madam Meena.


Madam Meena tampak ingin menangis, apa sebegitu berpengaruhnya Anindya terhadap putranya sampai dalam kondisi seperti ini Arsen masih terus mengingat wanita itu.


"Mommy minta maaf, tapi Mommy tidak tahu kemana Anindya pergi, Arsen." Jawab Madam Meena dengan lirih.


"A-aku mohon, Mom. A-aku sangat mencintai--aku sangat mencintainya." Pinta Arsen dengan sedikit terbata.


Madam Meena tak kuasa menahan air matanya, ia merasa bersalah telah membuat Anindya pergi dari rumah putranya yang berakhir membuat Arsen benar-benar kacau dan frustasi.


"Arsen, Daddy akan berusaha mencari Anindya. Yang terpenting sekarang adalah kau harus sembuh, Nak." Tutur Papa Ferdo dengan yakin.


"Assa sedang hamil anakku, Dad. Dia pasti membutuhkan ku berada di sampingnya, aku merindukan nya." Lirih Arsen dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Sayang. Daddy pasti akan menemukan Anindya untukmu, tenanglah." Tutur Madam Meena mengusap kepala putranya yang diperban.


Arsen memejamkan matanya, ia sangat berharap bisa melihat Assa-nya kembali. Arsen menyesal telah menyia-nyiakan wanita seperti Anindya.


"Assa, kamu dimana. Aku membutuhkanmu, aku menyesal Assa, kumohon kembali lah." Batin Arsen dengan mata tetap terpejam.


Arsen berharap saat ia membuka matanya nanti, akan ada Anindya yang menyambutnya dengan penuh senyuman.


AKU NGGAK ADA NIATAN BIKIN ARSEN AMNESIA KOK, DIA AKAN DAPAT KARMA NYA SENDIRI NANTI. HAHAHA (tertawa jahat)✌️🙈

__ADS_1


To be continued


__ADS_2