
Arsen masih terkejut mendengar bahwa paman dan bibi istrinya telah tiada karena mengakhiri hidup, sementara Dela justru berubah menjadi orang yang tidak waras. Papah Ferdo yang memberitahunya, ia tak tau harus memberitahu Anin atau tidak, ia takut istrinya itu akan sangat terpukul.
Arsen terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan melingkari pinggangnya, ia tersenyum seraya menarik tangan istrinya hingga kini ia memeluk tubuh mungil Anindya.
"Mas, kok melamun disini?" tanya Anindya mendongak dengan wajah manisnya.
"Iya, soalnya lagi mikir kenapa bisa aku menikah dengan seorang bidadari." Jawab Arsen merayu istrinya.
"Eummm … Papa Arsen memang paling pintar jika siap merayu, coba berikan aku satu rayuan, jika aku terkesan maka--" Anindya menggantung ucapannya membuat Arsen mengerutkan keningnya heran.
"Aku akan berikan servis terbaik malam ini." Lanjut Anindya berbisik tepat di telinga suaminya.
Arsen tertawa, ia menangkup wajah istrinya lalu ia berikan kecupan di seluruhnya tanpa ada yang terlewat, meski ia sejujurnya heran dengan perubahan sikap Anindya yang tiba-tiba berubah.
"Lhoo … kok ketawa sih, kamu nggak mau yaudah!" pungkas Anindya kesal karena Arsen justru menanggapi ucapan nya dengan tawa.
"Eh Mama Assa udah ngambek aja, sini cium dulu tadi katanya mau dengerin gombalan." Cegah Arsen saat Anindya hendak pergi.
"Jika langit orange itu terlihat indah dipandang, namun masih ada dirimu yang jauh lebih memukau di atas ranjang, let's make an baby for Arvin!" celetuk Arsen lalu membopong tubuh istrinya ke ranjang.
"Mas nggak mau!!! Aku nggak terkesan sama ucapan kamu, awas ihh!!!" pekik Anindya berusaha memberontak dari kungkungan Arsen.
__ADS_1
"Nggak bisa, bibir aku itu mahal loh kalo buat merayu, jadi bayarannya bikin Dedek yang paling cocok!!!" sahut Arsen lalu mulai menciumi wajah istrinya.
Anindya hanya bisa menghela nafas, jika sudah begini maka pasrah jalan keluarnya, untung saja Arvin saat ini sedang berada di kamar kakek dan neneknya, jika tidak putranya itu akan menangis dan membuat aktivitas mereka terhenti sejenak.
"Aduhhh … jangan, Mas. Itu punya Arvin!!" tegur Anindya saat suaminya itu mulai bermain di bagian dadanya.
"Nggak apa-apa, mumpung Arvin nya lagi sama kakek neneknya maka ini punya aku dong." Timpal Arsen lalu kembali menggoda dada Anindya.
Akhirnya malam itu Arsen dan Anindya habiskan dengan olahraga bersama dengan penuh peluh yang membasahi tubuh. Sepasang suami istri yang selalu lupa akan waktu jika sudah bersama, memadu cinta dan kasih sayang yang semakin bertambah setiap harinya.
"Mas … ahhh pelan!!!" teriak Anindya berusaha untuk ia tahan saat suaminya yang perkasa ini semakin kuat memacu tubuhnya.
Entah sudah berapa kali jarum panjang berputar, waktu seakan tak terasa bagi sepasang suami istri yang masih nampak asik dengan kegiatannya. Sampai pada akhirnya keduanya mendapatkan apa yang mereka kejar. Arsen berguling ke sebelah istrinya, ia menarik Anindya ke dalam pelukannya dan mereka terjun bersama ke alam mimpi.
"Hati-hati ya, jaga istri dan anakmu ini!" ucap Madam Meena memperingati.
"Iya, Mom. Aku pasti akan menjaga istri dan anakku 24/7!" timpal Arsen lalu merangkul bahu istrinya.
"Mom, Dad. Kalian juga hati-hati ya, kabari kami jika sudah sampai di Australia." Ucap Anindya menatap kedua mertuanya.
"Iya, Nak. Kalian juga ya, dan pesan untuk cucu Opa yaitu harus makin ganteng dan pintar, nanti jika besar maka Opa akan ajak jalan-jalan ke luar negeri." Celetuk Papa Ferdo seraya menoel lengan Arvin.
__ADS_1
Arvin tampak merengek ingin ikut sang Opa yang sudah sangat ia kenali, Anindya dan yang lainnya sedikit terkekeh melihat Arvin yang enggan menjauh dari partner mainnya di rumah.
"Sssstttt … eh cucu Oma nggak boleh nangis, nanti kita main lagi ya anak ganteng." Tutur Madam Meena berusaha menenangkan cucunya.
Tangis Arvin semakin keras, hal itu membuat Papah Ferdo buru-buru menggendong cucunya hingga Arvin akhirnya diam tak menangis lagi.
"Oh udah jadi anak Opa ceritanya, Mas." Ledek Anindya seraya merangkul lengan suaminya.
"Udah ya sama Opa aja, Papa sama Mama mau beli mainan, dahhh …" timpal Arsen ikut meledek anaknya.
Arvin kembali menangis, kini giliran Anindya yang menjadi sasaran tangannya untuk minta gendong. Tawa terdengar dari keluarga Lucifer itu melihat tingkah menggemaskan Arvin yang plin plan.
"Huuu … jangan temen sama Arvin!!!" Ledek Arsen mencubit gemas pipi Arvin.
Arvin kembali menangis, hal itu sontak membuat Anindya melototi suaminya yang asik menggoda putra kesayangannya. Anindya memeluk Arvin, ia menciumi seluruh wajah bocah itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah pengumuman pesawat sama-sama terdengar, Anindya dan Arsen masuk ke pintu keberangkatan menuju Jakarta sementara mertuanya masuk tujuan Australia.
Setidaknya liburan kemarin telah membuat rasa rindu sedikit terobati.
UHHH BAHAGIANYA 🥰🥰
__ADS_1
To be continued