
Dibalik jeruji besi tampak satu keluarga yang saling menangisi nasib buruk mereka. Sebelah kiri sel ada Dela dan Ridha sementara disebelah mereka ada kepala keluarga yang seharusnya dapat membimbing keluarga ke jalan yang benar namun nyatanya malah ikut berbuat keji.
“Mah, aku nggak mau di penjara!!!" rengek Dela seraya menarik-narik tangan sang Mama.
“Ssstttt … diem kamu, ini semua karena kamu juga yang dari awal mau balas dendam sama Anin, bahkan kamu gagal menculik anak Anindya dan berakhir kau ikut ke dalam sini.” Sahut Ridha kesal pada anaknya.
“Mah, kok mamah ngomongnya gitu. Aku ini melakukan segala cara agar bisa membebaskan kalian dari sini dan sekarang Mama malah menyalahkanku?” tukas Dela terkejut atas ucapan mamanya.
“Hentikan perdebatan kalian, sekarang aku yakin kita tidak akan bisa keluar jika bukan Anin sendiri yang meminta kepada suaminya!!!” lerai paman Anindya.
“Ya, kamu benar. Kita harus meminta maaf pada Anindya agar bisa bebas dari sini,” celetuk Bibi Anindya setuju akan perkataan suaminya.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, seorang polisi datang seraya membuka gembok sel. Dela dan sang Mama lantas bangkit melihat sel yang terbuka.
“Selamat, kalian telah bebas karena seseorang telah memberi jaminan." Ucap polisi itu kepada Dela dan keluarganya.
Mata Dela dan kedua orang tuanya tampak berbinar, mereka bersyukur karena akhirnya Anindya mau memaafkan mereka. Dengan semangat Dela keluar dari sel yang begitu menyesakkan, namun ia tak tahu bahwa dengan keluar dari sel, hukuman yang lainnya sudah menanti bahkan melebihi sebuah sel.
“Astaga, Pak. Akhirnya kita bebas, lebih baik kita sekarang ucapkan terima kasih pada Anindya!” ujar Bibi Anindya memberi saran.
“Iya, Mah. Akan lebih baik begitu.” Sahut Paman Anindya.
“Nggak!” tolak Dela menggelengkan kepalanya, ia tidak akan mengucapkan terima kasih apalagi maaf kepada Anindya yang telah membuatnya menginap di sel.
“Dela, sadar diri kamu!!” tegur sang mama namun tak dihiraukan oleh Dela.
__ADS_1
***
Dela dan keluarganya tampak heran melihat mobil mewah yang katanya datang untuk menjemput mereka, apakah Anindya sebaik itu sampai mau mengirimkan mobil mewah untuk menjemput mereka. Tak mau ambil pusing, Dela masuk kedalam mobil disusul oleh kedua orang tuanya.
“Anindya benar-benar baik telah mengirim orang untuk menjemput kita.” Ujar Paman Anindya seraya menatap tiap sudut mobil mewah itu.
“Pak, apakah Anindya yang menyuruh anda untuk menjemput kami?” tanya Bibi Anindya pada sopir.
Sopir itu tak menjawab, ia hanya fokus pada jalanan di depannya. Perlahan mobil mulai meninggalkan area perkotaan, bahkan banyak pepohonan yang mereka lalui persis seperti hutan, mereka sendiri tak tahu jalan mana yang mereka lalui ini sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah bangunan mewah.
“Turun!” perintah sopir berbadan besar itu pada ketiga orang jahat itu.
Meskipun bingung, Dela dan kedua orang tuanya turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sesuai instruksi seorang pria yang datang dari dalam rumah. Saat masuk, kemewahan dan kemegahan rumah dari luar hilang seketika, saat di dalam mereka disambut oleh pemandangan megah namun terkesan seram.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya.” Suara itu terdengar begitu tegas meski cara pengucapannya sedikit aneh.
“Saya Ferdo Lucifer, orang yang telah membantu kalian bebas dari tahanan." Jawab Pria yang tak lain adalah Papah Ferdo.
“Benarkah, tapi apa alasan anda membebaskan kami? kami tak mengenal anda.” Tanya Dela heran.
“Mungkin kalian tidak mengenal saya, tapi kalian pasti mengenal Anindya, menantu saya.” Jawab Papah Ferdo tersenyum evil.
Dela dan keluarganya lantas terkejut, mereka saling pandang satu sama lain. Perasaan mereka mulai tak enak saat Papah Ferdo beranjak dari duduknya.
"Kalian mengenal Nona Anindya Lucifer, dia adalah menantu saya yang pernah ingin kalian lenyapkan, bahkan cucu saya pun hampir menjadi korban atas kegilaan kalian bukan?" tanya Papah Ferdo dengan tenang.
__ADS_1
"L-lalu apa tujuan anda membebaskan kami, Tuan?" tanya Bibi Anindya dengan gugup.
Papah Ferdo tertawa mendengar pertanyaan wanita licik yang dulu selalu menyiksa menantunya.
"Apalagi, tentu untuk membalas segala kesakitan yang menantu dan cucu saya rasakan." Jawab Papah Ferdo.
Tubuh Dela dan orangtuanya mendadak lemas, mereka syok mendengar ucapan mertua Anindya yang terlihat santai namun mengandung banyak ancaman, belum lagi orang-orang berbadan besar yang ada di sekeliling mereka.
"Tuan, kami mohon maafkan kami. Bebaskan kami, Tuan. Kami mengaku salah, tapi tolong jangan habisi kami!!" pinta Paman Anindya memohon sampai berlutut.
"Maaf, tapi saya orang yang tidak bisa bertoleransi saat ada yang berani menyakiti keluarga saya terutama cucu saya." Timpal Papan Ferdo.
Dela ikut berlutut, ia menggelengkan kepalanya tak mau jika harus mati muda. Tangannya menyatu dengan air mata yang mulai meluruh membasahi wajahnya.
"Tuan, saya mohon ampuni kami. Kami siap melakukan apapun tapi jangan lenyapkan kami." Pinta Dela semakin keras menangis.
"Kau lagi, kau yang telah menyiksa cucu saya sampai masuk rumah sakit bukan. Nyawamu sudah tidak berarti lagi," timpal Papah Ferdo lalu pergi menjauh dari Dela dan keluarganya.
"Siksa mereka, jadikan mereka budak atau apapun tapi jangan lenyapkan mereka sampai mereka sendirilah yang meminta kematian." Ucap Papah Ferdo dengan begitu lantang.
Dela dan keluarganya melotot, mereka berteriak meminta pengampunan namun tak di hiraukan oleh Papah Ferdo yang sudah pergi.
Penyesalan memang selalu datang diakhir, karena itu lah kita harus berpikir sebelum bertindak. Nasi sudah menjadi bubur, inilah balasan untuk Dela dan keluarganya yang telah menyiksa Anindya bahkan tanpa memandang bahwa gadis itu adalah yatim piatu.
JANGAN MAEN-MAEN MAKANYA SAMA KELUARGA LUCIFER 😭
__ADS_1
To be continued