
Anindya kabur dari kantor secara diam-diam, bahkan asisten Lee tak mengetahuinya saat ia hampir saja berpapasan saat di lantai dasar. Dengan naik taksi, Anindya sampai dirumah kediaman Arsen.
Anindya masuk ke dalam rumah, ia langsung disambut oleh tatapan tajam Madam Meena yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Selamat siang, Nyonya." Sapa Anindya berusaha tersenyum.
"Kau pikir kantor Arsen itu kantormu sehingga kau bisa pulang seenaknya?!" Tanya Madam Meena dengan tak bersahabat.
"Maafkan saya, Nyonya. Namun saya ingin mengambil beberapa barang yang tertinggal," jawab Anindya lalu hendak pergi.
"Kau pasti melihat adegan Arsen dan Clara bukan?" tanya Madam Meena menghentikan langkah Anindya.
"Maaf?" sahut Anindya berpura-pura biasa meski ia terkejut karena tebakan wanita itu benar.
"Anindya, bahkan saya tak sudi menyebut namamu. Oke dengarkan saya, Arsen dan Clara akan saya jodohkan untuk menikah jadi lebih baik kau pergi jauh dari kehidupan Arsen." Tegas Madam Meena lalu mendekati sofa.
Tampak wanita itu meraih secarik kertas dan memberikannya pada Anindya.
"100 juta, pergilah dari kehidupan putraku." Tukas Madam Meena.
Anindya terdiam, ia menatap cek lalu bergantian menatap Madam Meena yang masih memberikan cek sambil menatap remeh dirinya.
"Kenapa, kurang? Ah iya saya lupa, wanita murahan seperti mu pasti hanya tahu soal uang dan uang. Baiklah, saya akan tambahkan!" ujar Madam Meena namun gantian Anin yang menghentikan nya.
"Tidak perlu Nyonya, saya tidak butuh uang Anda. Saya masih punya uang. Tolak Anindya berusaha mengatur nafasnya.
Madam Meena tampak tersenyum remeh, wanita itu maju selangkah mendekati Anindya.
__ADS_1
"Uang putraku, 'kan?" tanya Madam Meena.
"Maaf, tapi saya mendapatkan uang ini atas hasil jerih payah saya menjadi sekretaris anak anda." Jawab Anindya tak terima.
Madam Meena tiba-tiba tertawa dengan begitu kerasnya, ia bertepuk tangan lalu menghentikan tawanya dengan diakhiri ejekan.
"Sekretaris atau teman seranjang, wanita murahan dengan alibi sekretaris. Ck!" decak Madam Meena tanpa iba.
Anindya mengigit bibirnya, hatinya begitu sakit mendengar penghinaan tak berkesudahan yang keluar dari bibir Madam Meena. Tak mau semakin sakit, Anindya langsung berlari ke kamar Arsen.
Sesampainya di kamar, Anindya meraih kopernya. Ia membuka lemari dan mengambil baju-bajunya kemudian memasukkannya ke dalam koper.
Sambil berderai air mata, tangan Anin tampak tak henti memindahkan pakaian dari lemari ke dalam tas. Ternyata ia salah telah menerima tawaran Arsen dulu karena kenyataannya kini ia yang merasakan sakit.
"Hiks … awww … aww …." Ringis Anindya memegangi perutnya yang kram.
"Nak, sabar ya. Kita sebentar lagi akan pergi, kita akan pergi ke tempat dimana tak akan ada yang bisa menghina kita lagi." Tutur Anindya seraya mengusap perut nya.
Sebelum pergi, Anindya meletakkan kartu kredit yang pernah Arsen berikan diatas nakas beserta ponsel yang pernah dibelikan Arsen. Anindya menggeret kopernya, ia menatap sekeliling kamar dengan air mata yang terus mengalir sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar Arsen.
Sesampainya di lantai bawah, Anindya kembali bertemu dengan Madam Meena yang tampak masih tersenyum remeh sambil melipat tangannya di dada.
"Nyonya, saya permisi." Pamit Anindya tanpa berniat banyak bicara.
"Ya, semoga kau segera menemukan pria baru yang siap menerima mu sebagai wanita bayarannya." Balas Madam Meena masih belum puas menghina Anindya.
Anindya tak berniat membalas, ia memejamkan matanya sebelum akhirnya kakinya melangkah keluar dari kediaman Arsen.
__ADS_1
"Semoga dengan meninggalkan Pak Arsen dan rumah itu, aku bisa merasakan yang namanya bahagia, Tuhan." Batin Anindya seraya terus melangkah.
Sementara itu Arsen di kantor, ia tampak begitu fokus pada pekerjaannya sampai tak sadar bahwa sekretaris sekaligus wanita yang sedang mengandung anak nya tak kunjung kembali.
"Arsen, aku pulang ya. Terima kasih untuk hari ini," ucap Clara berdiri di depan meja kerja Arsen.
Arsen tak menjawab, pria itu tetap mengetik kata demi kata di komputernya tanpa memperdulikan wanita yang tadi sempat menjadi sasaran cumbuan nya setelah tak tahan terus di goda.
Clara tersenyum senang, ia segera pergi dari ruangan Arsen. Tak apa Arsen mendiaminya, yang terpenting adalah ia menang karena bisa membuat Anindya pergi dari kehidupan Arsen.
Setelah kepergian Clara, entah mengapa ia baru sadar bahwa ruangannya terasa begitu sunyi. Arsen mengangkat wajahnya ke arah meja kerja Anindya, meja itu masih tampak rapih bahkan keyboard masih diposisi tengkurap seakan belum terpakai.
"Assa, kemana dia." Gumam Arsen terdiam sesaat.
Arsen bangkit dari duduknya, ia meraih ponselnya lalu menghubungi Asisten Lee guna menanyakan keberadaan Anindya, bahkan ia sampai lupa dengan rapat nya.
Tak lama asisten Lee masuk ke dalam ruangan Arsen, pria berjas biru langit itu menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Kau melihat Assa?" tanya Arsen langsung.
"Maafkan saya, Tuan. Saya juga tengah mencarinya, saya ingin bertanya mengapa ia tidak mengangkat telepon saya." Jawab Asisten Lee.
"Menelpon nya, untuk apa?" tanya Arsen tampak tak suka.
"Rapat tadi pagi di reschadule setelah jam makan siang." Jawab Asisten Lee menjelaskan.
Arsen manggut-manggut, ia kembali menatap Asisten Lee. "Cari Assa!" perintah Arsen dianggukki oleh Asisten Lee.
__ADS_1
NAH KAN HILANG BARU DICARIIN 😕
To be continued