
Anindya menggeliat bangun saat cahaya matahari mulai masuk ke sela-sela kamar hotel, dengan perlahan kedua matanya terbuka dan meregangkan otot nya yang benar-benar kelalahan.
Anindya berusaha untuk bangkit dari tidurnya, namun karena tangan Arsen membuatnya kesulitan apalagi perutnya yang besar ini.
"Mas, bangun udah siang." Pinta Anindya berusaha membangunkan suaminya dengan mengusap lengan Arsen.
Arsen hanya berdehem kecil, pria itu justru semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya lalu menduselkan wajahnya di perpotongan leher Anin.
"Mas, aku mau mandi. Awas ihh!!" pinta Anindya mulai kesal karena Arsen justru semakin pulas.
"Nanti, Sayang. Mau kemana sih, bobok lagi." Tutur Arsen dengan suara serak khas bangun tidur yang begitu seksi ditelinga Anindya.
"Nggak mau, aku mau mandi terus sarapan. Kamu nggak kasihan sama istri?" celetuk Anindya mulai memakai cara ngambek untuk bisa lepas dari suaminya.
Arsen langsung membuka matanya saat mendengar suara Anindya yang seperti ingin menangis, ia panik lalu buru-buru mengubah posisi menjadi duduk.
"Kamu mau makan apa hmm? Atau begini saja, kamu mandi duluan dan aku akan pesankan sarapan untuk kita. Oke, Sayang?" tanya Arsen dengan bersemangat demi tidak dicueki istrinya.
Anindya menahan tawa, ia menekuk wajahnya lalu mengangguk sebagai jawaban. Anindya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, namun saat ia baru saja hendak berdiri, kakinya terasa seperti jelly, lemas dan lunglai.
"Awwww …" Ringis Anindya kembali duduk di pinggiran ranjang.
Arsen mendekati istrinya, ia yakin Anindya pasti akan merasa kesakitan mengingat bagaimana semalam ia menggempur habis istrinya yang cantik ini. Arsen akui bahwa Anindya adalah wanita yang cukup kuat dalam mengimbanginya.
"Maaf ya, Sayang. Sini aku bantu ke kamar mandi," ujar Arsen membuka lalu membuang selimutnya asal hingga menyisakan Anindya yang polos.
__ADS_1
"Kenapa di buang sih, kan malu!" pekik Anindya seraya mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Malu kenapa, kan udah sering main buka-bukaan kita." Timpal Arsen terkekeh.
Anindya mendengus, sifat Arsen memang jauh berubah dari saat mereka bertemu dan kini menikah, namun ia tetap dibuat kesal dengan segala tingkah suaminya itu.
Arsen menurunkan Anindya di kamar mandi, ia beralih menyalakan shower lalu mengisi bathub dan tak lupa memberikan sabun. Setelah beberapa menit akhirnya air terisi penuh, Arsen menuntun Anindya masuk ke dalam bathub.
"Panggil aku jika sudah selesai, aku pesan sarapan dulu ya." Tutur Arsen mencium kepala Anindya singkat.
Arsen keluar dari kamar mandi, ia meraih gagang telepon lalu memesan sarapan untuk istrinya. Setelah itu Arsen kembali ke kamar mandi untuk ikut berendam bersama Anindya, mungkin saja bisa dapat bonus icip-icip.
"Loh, Mas. Udah pesan makanannya?" tanya Anindya saat suaminya kembali.
"Sini mandi sama aku." Jawab Anindya mengulurkan tangannya meminta Arsen ikut berendam bersamanya.
Arsen tersenyum girang, ia buru-buru melepas boxer yang dikenakannya lalu ikut masuk ke dalam bathtub besar bersama istri cantiknya itu. Arsen mengambil posisi dibelakang istrinya, ia dengan bebas dapat memandangi kemolekan tubuh yang istrinya punya.
"Sini aku sabunin badan kamu." Ujar Anindya membalik badan menghadap Arsen.
Arsen terkekeh geli saat tangan Anindya mulai menyentuh leher dan area dada, lalu tangan Anindya semakin ke belakangan untuk menggosok punggungnya, karena kesulitan Anindya sampai duduk di pangkuan sang suami.
"Shhhh … Sayang jangan gini." Tegur Arsen menahan gejolak panas yang mulai hadir.
"Hmmm, kenapa. Kan aku hanya membersihkan punggung kamu," sahut Anindya dengan santai.
__ADS_1
Arsen tak menjawab, ia memilih untuk diam dengan mata terpejam. "Mas." Arsen membuka mata saat Anindya memanggilnya.
"Gantian sabunin aku, perutnya jangan lupa diusap-usap ya pasti dedeknya suka." Ujar Anindya dengan riang.
Arsen tersenyum senang melihat istrinya tampak bahagia, ia meraih sabun lalu menggosok punggung istrinya beralih ke perut. Dengan lembut Arsen mengusap-usap perut istrinya sampai ia merasakan tendangan dari perut Anindya.
"Tuh kan, Mas. Dedeknya senang di usap sama Papanya." Celoteh Anindya ikut memegang tangan Arsen yang mengusap perutnya.
"Kalo Mamanya suka nggak?" tanya Arsen tepat di telinga Anindya.
"Suka sih, tapi capek ah meladeni Papa yang mainnya lama." Jawab Anindya menyindir.
Arsen tertawa lepas, Assa nya kini benar-benar sudah mulai terbuka bahkan berani melawan dirinya, Arsen suka dengan sifat Anindya berubah-ubah. Kadang menggemaskan, menggairahkan dan kadang juga membuatnya jengkel hingga harus banyak bersabar.
"Gitu ya, Sayang. Abis gimana ya, punya aku cuma mau sama kamu sih." Timpal Arsen dengan tangan yang mulai naik ke bagian intim Anindya.
"Shhhh … ya-ya memang harus begituhhh …" balas Anindya mulai melenguh karena perbuatan suaminya.
Hingga akhirnya acara mandi itu berubah menjadi kegiatan panas, kecipak air terdengar begitu merdu saat Arsen mulai memacu tubuhnya dengan Anindya duduk di pangkuannya. Entahlah mungkin saja saat ini pelayan hotel sudah mengantar sarapan, namun tidak peduli karena Arsen benar-benar selalu tidak tahan melihat tubuh istrinya.
Anindya pun menerima saja kelakuan suaminya, ia tahu sebentar lagi Arsen harus berpuasa setelah ia melahirkan dan hanya tinggal menghitung hari sampai proses melahirkan baby ke dunia.
PAGI APA NIH KALO KAYA ANINDYA SAMA ARSEN?? PAGI BAHAGIA ATAU PANAS??😭😂
To be continued
__ADS_1