Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 43


__ADS_3

Anindya duduk di teras rumahnya sambil menjemur diri di bawah sinar matahari yang memang baik untuk kesehatan. Sambil duduk, tangan Anin aktif mengusap perutnya yang mana dibalas tendangan kecil dari bayi dalam kandungannya.


"Anak Mama sudah bangun, kepanasan ya Nak?" tanya Anindya pelan dengan tatapan mengarah ke perutnya.


Disaat sedang asik duduk, tiba-tiba saja seorang pria yang belakangan ini memang sering datang ke rumahnya sambil membawa sesuatu.


"Pagi Mbak Anin." Sapa Tio dengan sopan, seperti biasa pria itu akan membawa sesuatu di tangannya.


"Pagi Mas Tio, bawa sarapan lagi?" tanya Anin terkekeh.


"Nggih, Mbak. Ibuk yang buat, mohon diterima katanya sekalian salam." Jawab Tio lalu memberikan kantong kresek berisi bubur buatan sendiri kepada Anindya.


"Hmmm … bau nya harum, sepertinya enak nih." Ujar Anindya mencium aroma bawang goreng dan bau khas bubur ayam dari kresek ditangannya.


"Monggo di makan saja, saya mau duduk dulu, capek juga naik kesini yo!" celetuk Tio seketika membuat Anindya tertawa.


"Saya ke dalam dulu ya, Mas. Mau ambil piring sama minum, Mas Tio mau saya buatkan teh?" tawar Anindya sebelum masuk.


"Hehehe, jika tidak merepotkan Mbak." Jawab Tio tak enak sampai menggosok kedua telapak tangannya.


Anindya tersenyum, ia segera masuk untuk menaruh bubur yang diberikan Tio seraya membuatkan pria itu teh hangat, sekedar ucapan terima kasih karena sudah rela mengantarkan sarapan untuknya.


Tak lama Anindya datang dengan nampan berisi satu mangkuk bubur ayam dan dua gelas teh manis hangat. Pelan-pelan Anin meletakkan nampan itu disusul dirinya untuk duduk.


"Silahkan diminum, Mas." Tutur Anindya dengan sopan.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak." Balas Tio menerima dan mulai menyeruput teh hangat buatan Anindya.


Anindya meraih bubur itu dan mulai memakannya, ia memejamkan matanya merasakan betapa nikmatnya makanan yang dibuat oleh kasih sayang ibu meski itu bukan ibu kandungnya.


"Enak, Mbak?" tanya Tio menyadarkan Anindya yang tengah menikmati sarapannya.


"Enak, Mas. Bu kades pintar masak ya, saya suka banget." Jawab Anindya mengangguk cepat.


"Syukurlah, oh iya Mbak. Kandungan Mbak sudah berapa bulan?" tanya Tio menatap Anindya teduh.


"Jalan enam bulan, Mas." Jawab Anindya lalu mengusap perutnya.


"Mbak sudah mau melahirkan, suami Mbak kapan pulang?" tanya Tio seketika menghentikan Anindya yang sedang menyantap sarapannya.


"Aku tidak mau tahu, kalian harus menemukan Anindya secepatnya." Ucap Arsen pada anak buahnya.


"Dan kau Lee, apa sudah dapat kabar dari beberapa anak buah mu tentang Assa?" tanya Arsen menatap asistennya itu.


Asisten Lee tampak menundukkan kepalanya lalu menggeleng. "Maafkan saya, Tuan. Saya belum mendapatkan titik jelas perihal keberadaan Nona Anindya." Jawab nya tanpa menatap Arsen.


"Kerjakan dengan cepat, aku ingin Assa ku cepat kembali." Pungkas Arsen dibalas anggukan sopan oleh anak buahnya dan juga Asisten Lee.


"Kalau begitu kami permisi, Tuan. Istirahatlah dan semoga anda lekas sembuh," ucap Asisten Lee kemudian keluar disusul oleh anak buah yang lain.


Arsen meraih ponselnya, ia melihat galeri dan menatap foto Anindya yang sengaja ia simpan saat wanita itu sedang tertidur begitu pulas.

__ADS_1


Arsen mengusap layar ponselnya dengan harapan kerinduan yang saat ini dirasakannya dapat terbayarkan, namun sayang sekali karena itu semua tak berguna, ia ingin mengusap wajah Anindya yang sesungguhnya, memeluk tubuh mungil itu dan mencium puncak kepala dengan aroma mint yang selalu dirindukannya.


Arsen tak tahan lagi, ia ingin Assa nya cepat kembali. "Aku mencintaimu dan anak kita, Assa. Kembalilah!" gumam Arsen dengan lirih.


***


Satu Minggu sudah Arsen dirawat di rumah sakit, sebenarnya ia ingin langsung pulang ke rumah namun entah mengapa selama di rawat di rumah sakit ia merasakan ada yang aneh dari tubuhnya sehingga harus memeriksa ke dokter terlebih dahulu.


"Maafkan saya Pak Arsen, setelah di periksa ada sesuatu yang dialami tubuh anda pasca kecelakaan. Namun dampak utamanya bukan dari sana, melainkan karena konsumsi alkohol yang berlebihan sehingga membuat ereksi anda berkurang." Jelas Dokter penyakit bagian dalam.


"Maksudnya saya impotensii dokter?" tanya Arsen mengambil kesimpulan.


"Benar, Pak. Namun untuk lebih jelasnya, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan akan mulai menjalani perawatan untuk mengembalikan kesehatan anda." Jawab Dokter seketika membuat Arsen terdiam.


Benar, selama beberapa hari belakangan Arsen merasakan bahwa 'alatnya' tidak bangun seperti biasa di pagi hari, ia masih berpikir positif untuk beberapa hari sebelumnya, namun keanehan itu terus saja dirasakan bahkan ia sampai menonton film biru untuk membuktikan nya, dan ternyata dia terkena impotensii dari dampak alkohol yang ia konsumsi secara berlebihan.


Arsen bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan dokter, ia menatap kosong ke arah depan. Apakah ini karma atas perbuatannya yang selama ini selalu semena-mena pada wanita termasuk Assa, apakah ini ganjaran yang diterima olehnya karena selalu menilai wanita dengan uang.


"Aku sangat malu pada diriku sendiri, kini aku harus merasakan yang namanya penderitaan karena terlalu menganggap remeh seorang wanita. Tuhan, aku malu!" Lirih Arsen terduduk di kursi tunggu yang ada di sepanjang koridor rumah sakit.


KARMA NYA NGGAK BERAT KAN?? KARMA INSTAN SIH KALO INI🤪🤣


Btw, masa besok aku masuk sekolahnya, nggak ada libur. hiks ... jadi updatenya lama lagi gpp ya🥴🥴


To be continued

__ADS_1


__ADS_2