
Anindya tampak sedang membantu suaminya bersiap-siap ke kantor, dengan begitu telaten ia mengikat simpul dasi di leher suaminya. Sementara Arsen tampak menikmati saat-saat bersama istrinya seperti ini, mengambil kesempatan dalam kesempitan, tangan Arsen apik merengkuh pinggang ramping Anindya sambil sesekali mengusapnya dengan lembut.
“Sayang, kita jarang mesra-mesraan semenjak ada Arvin.” Celetuk Arsen dengan wajah manjanya.
Anindya melototkan matanya mendengar ucapan Arsen yang asal-asalan, dengan kencang ia memukul bahu suaminya. “Jadi kamu nggak suka sama Arvin, kamu iri sama anak sendiri?!” cecar Anin dengan sorot mata tajamnya.
Arsen gelagapan, ia menggelengkan kepalanya dengan perasaan panik. ‘Sayang, bukan gitu. Maksud aku itu kita kekurangan waktu, saat siang hari aku bekerja kamu mengurus Arvin dan di malam harinya saat aku pulang maka kamu akan tidur dengan Arvin, jadi kita kekurangan waktu bersama. Gitu aja Sayang, aku nggak ada bilang nggak suka ada Arvin.” Jelas Arsen.
“Ahh alasan, udah lah aku males ngomong sama kamu. Sama anak sendiri aja iri, heran.” Ketus Anindya menjauh dari suaminya dan langsung keluar untuk melihat anaknya yang sedang berjemur di bawah.
Arsen memukul kepalanya sendiri, ia buru-buru mengejar Anindya dan langsung menggendong Anindya ala bridal style lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Anindya memekik kaget, ia memukul bahu suaminya kesal.
“Mas apa sih, lepasin!!!!” pinta Anindya namun tak digubris oleh suaminya.
Arsen menurunkan Anindya di ranjang, ia berlutut di depan istrinya sambil menggenggam tangan Anindya yang masih menekuk wajahnya. “Sayang, jangan marah ya. Tadi aku nggak maksud apa-apa, aku cuma kangen aja mesraan sama kamu.” Jelas Arsen dengan lembut.
“Harusnya kamu nggak ngomong gitu, Mas. Kamu kalo kangen sama aku makanya jangan lembur terus, siapa suruh!” ketus Anindya seraya melepaskan genggaman tangan suaminya.
“Iya Sayang, maaf ya. Nggak ngomong gitu lagi deh, lagian mana mungkin aku nggak suka sama Arvin kan dia anak aku, kesayangan aku lagi.” Tukas Arsen tersenyum manis.
“Awas aja ngomong gitu lagi, nanti kalo Arvin cari Papa baru tahu rasa kamu!” pungkas Anindya mendengus sebal.
Arsen melotot mendengar ucapan istrinya, meski itu bercanda namun ia tak suka. Arsen bangkit dari posisinya berganti menjadi mengungkung Anindya dengan posisi duduk. Anindya sampai menelan salivanya merasakan suaminya kini berubah sangar.
“Apa tadi kamu bilang, Papa baru?” tanya Arsen dengan suara serak.
“Nggak, Mas. Tadi bercanda aja kok,” jawab Anindya nyengir kuda.
__ADS_1
Arsen menggeleng pelan, ia buru-buru mendaratkan bibirnya di bibir manis sang istri. Anindya memejamkan matanya merasakan bibir hangat suaminya, ia juga rindu saat-saat seperti ini, namun ia sadar bahwa kini mereka bukan pasangan pengantin baru lagi, kini mereka telah dikaruniai seorang anak.
Disaat tengan menikmati ciuman satu sama lain, tiba-tiba suara tangis bayi terdengar di luar kamar mereka. Anindya segera mendorong suamiya menjauh lalu segera membuka pintu kamarnya.
“Ya ampun, anak Mama!!!” ucap Anindya mendekati Maid yang tadi diperintahkan menjemur Arvin.
Anindya menggendong anaknya yang menangis, mungkin saja haus setelah di jemur di bawah sinar matahar pagi. Anindya mengajak Arvin berbaring di ranjang lalu mulai menyusuinya, Arsen yang melihat itu hanya bisa menelan ludah. Ia iri pada Arvin yang kini menjadi pemilik dada Anindya dan bebas nyusu kapan saja.
Arsen mendekati anak dan istrinya, ia mencium pipi Arvin lalu beralih mencium kening istrinya. “Aku berangkat ya, Sayang.” Pamit ARsen bersiap untuk bekerja.
“Iya, Mas. Hati-hati ya, maaf nggak bisa antar kamu sampai depan rumah, kasihan Arvin nya mau bobok.” Tutur Anindya dengan suara pelan.
Arsen mengangguk seraya tersenyum, ia segera pergi meninggalkan istri dan anaknya untuk mencari nafkah demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang tersayangnya.
Arsen keluar dari rumah dan melihat Asisten Lee sudah menunggunya di luar, Arsen berjalan menuruni anak tangga lalu masuk setelah dibukakan pintu oleh Asisten Lee.
“Maaf, Tuan. Saya tidak mengerti ucapan anda,” jawab Asisten Lee dengan sopan.
“Tidak perlu mengelak, aku melihatnya kemarin. Kau dan wanita itu tampak akrab di kafe Care.” Ujar Arsen semakin memancing Asisten nya itu.
Asisten Lee tersenyum simpul, rupanya ia terpergok oleh bos nya tengah berkencan dengan seorang gadis, dan perlu ditandai bahwa itu adalah kencan pertama Asisten Lee.
“Aku pikir kau belok karena selama ini tak pernah dekat dengan wanita.” Ledek Arsen sambil terkekeh.
“Tentu saja tidak, Tuan. Saya masih normal dan suka wanita.” Sahut Asisten Lee ikut tertawa.
***
__ADS_1
Malam harinya Arsen pulang ke rumah langsung menuju kamar untuk menemui anak dan istrinya. Saat membuka pintu, Arsen lihat istrinya itu sedang bercanda dengan Arvin, terlihat sangat seru dan mengasyikkan sampai ia pulang saja tak diketahui oleh istrinya.
Arsen tersenyum jahil, sepertinya mengerjai istrinya kali ini bisa menyenangkan. Arsen meletakkan tas kerjanya di sofa, ia mendekati istrinya pelan-pelan lalu tanpa permisi langsung menggendong Arvin.
“Ih Mas!! balikin Arvin nya, aku lagi main sama dia.” Pinta Anindya mengulurkan tangannya tanda meminta.
“Nggak, kamu dari tadi bercanda terus sama Arvin sampai nggak sadar aku pulang.” Tolak Arsen menggelengkan kepalanya.
“Iya maaf, sini Arvin nya!!” pinta Anindya semakin memaksa.
“Cium dulu dong, di seluruh wajah.” Pinta Arsen gantian seraya memiringkan kepalanya tanda minta di cium.
“Nggak mau!” tolak Anindya melipat tangannya didada.
“Ya udah aku nggak kasih Arvin nya.” Pungkas Arsen membuat Anindya memekik kesal.
Anindya turun dari ranjang mendekati suaminya, dengan perasaan kesal Anindya langsung menciumi seluruh wajah Arsen tanpa ada yang terlewat, bahkan saat bibirnya menyentuh bibir suaminya, Arsen menggerakkan sebentar sebelum akhirnya dilepaskan Anindya.
“Udah, sini Arvin nya.” Pinta Anindya membuat Arsen terkekeh seraya memberikan putranya pada Anindya.
Anindya membawa anaknya keluar kamar, sebelum pergi Anin menatap suaminya dengan kesal. “Nggak mau temen Papa, Papa nakal!!” ujar Anindya membuat Arsen tertawa keras melihat kegemasan istrinya.
GINI KAN? BAHAGIA TERUS, KONFLIKNYA BERANTEM IMUT-IMUT AJA🤪😂
BTW PENASARAN SIAPA PACAR ASISTEN LEE NGGAK??
To be continue
__ADS_1