Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 71


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tanpa terasa setahun sudah berlalu sejak kelahiran Arvin, kini anak itu telah tumbuh menjadi anak yang tampan dan sangat menggemaskan, wajahnya yang mirip dengan Arsen membuat Anindya selalu merasa gemas, terlebih lagi tingkahnya yang tak kalah jauh dari sang Papa, yaitu tidak bisa diam.


Seperti sekarang, Anindya tengah menyuapi anaknya makan, tetapi Arvin tak henti merangkak kemana-mana membuat Anin harus mengikuti anaknya.


"Arvin, ayo buka mulut." Pinta Anindya seraya menyodorkan makanan ke mulut putranya.


Arvin buka mulut dan langsung melahap suapan sang Mama dengan mudah, memang Arvin tidak sulit jika disuruh makan, lihat saja badannya yang gemuk, dan pipi yang terasa ingin tumpah.


"Ihhh anak Mama makan nya pintar, coba Mama nya cium dulu sedikit." Celotehan Anindya seperti biasa jika sedang berdua saja dengan Arvin.


Arvin tertawa lucu, ia mengangkat sebelah tangannya seakan mengajak Anin berinteraksi. Anindya terkekeh, ia mengamit tangan Arvin lalu meletakkan di wajahnya.


Celotehan pun terdengar dari mulut Arvin yang sudah mulai bisa menyebut meski hanya 'a' saja yang mana artinya bisa Mama ataupun Papa.


"Kenapa, Nak. Papa? Papa belum pulang, Sayang." Ujar Anindya saat anaknya itu seakan bertanya melalui sorot matanya yang mencari-cari.


Anindya kembali menyuapi Arvin, kebetulan itu suapan terakhir lalu ia tak lupa memberikan minum kepada putranya. Wajah Arvin tampak belepotan bubur bayi, hal itu membuat Anindya memutuskan untuk memandikan anak nya.


"Bi, bisa tolong bantu siapin air mandi Arvin?" tanya Anindya pada salah satu maid di rumahnya.


"Baik, Nyonya. Sebentar," jawab Bibi kemudian segera pergi ke kamar Anindya untuk menyiapkan air hangat.


Anindya membawa Arvin ke kamar, sesampainya di sana ia rebahkan tubuh gemuk putranya lalu membuka pakaian yang Arvin kenakan hingga kini Arvin polos tanpa pakaian.


"Kita mandi biar wangi, nanti Papa pulang kita ajak Papa jalan-jalan ya." Celetuk Anindya seraya meraba wajah anaknya.


"Nyonya air nya sudah siap, ada yang perlu saya bantu lagi, Nyonya?" tanya Bibi dengan sopan.


"Nggak ada, Bi. Makasih ya, bibi boleh lanjut kerjain yang lain." Jawab Anindya dengan ramah.


Anindya membawa Arvin ke balkon kamar, ia ceburkan anaknya itu di bak mandi. Entahlah meski Arvin sudah besar dan bisa saja mandi di kamar mandi, Anindya masih suka memandikan putranya di balkon kamar dengan menggunakan bak bayi.


"Kenapa hmm? Segar ya mandi?" tanya Anin saat anaknya tampak kegirangan bermain air.


Karena waktu sudah sore Anindya tak lama-lama memandikan anak nya, ia mengangkat tubuh Arvin lalu membawanya kembali ke ranjang.

__ADS_1


"Eh eh mau kemana, pakai baju dulu dong!!" tegur Anindya saat anaknya mau merangkak pergi.


Anindya mengelap tubuh basah Arvin lalu memakaikan minyak telon beserta perlengkapan yang lainnya, kemudian setelahnya ia memakaikan baju, menyisir rambut dan memainkan parfum bayi hingga kini Arvin benar-benar tampan dan harum.


"Yeayy!!! Udah ganteng deh anak Mama, sekarang kita ke bawah lagi ya tunggu Papa." Celetuk Anindya menggendong Arvin lalu mengajaknya ke bawah.


Sementara itu Arsen baru saja keluar dari kantornya, ia masuk ke dalam mobil lalu mengendarai mobilnya sendiri. Kebetulan hari itu Lee izin pulang lebih awal karena istrinya yang sedang hamil harus cek ke dokter.


Arsen memakluminya, ia memberikan izin dan berakhir harus membawa mobil sendiri. Ia harus segera pulang teringat jika istrinya mengajaknya pergi malam ini untuk sekedar membeli perlengkapan Arvin.


Karena jalanan yang macet, Arsen baru sampai dirumah pukul 7 malam, ia segera masuk ke rumahnya dan tak melihat istri atau anaknya di ruang tamu seperti biasa jika sedang menunggu kepulangannya.


"Selamat sore, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang Maid kepada Arsen.


"Istriku dimana?" tanya Arsen.


"Nyonya Anindya dan Den Arvin baru saja masuk ke kamar, Tuan." Jawab Maid itu.


Arsen manggut-manggut, ia segera pergi ke kamarnya agar bisa segera bertemu mereka yang sudah sangat dirindukan Arsen sepanjang hari.


Saat masuk, Arsen langsung disambut oleh tatapan tajam istrinya dengan jari telunjuk di bibir tanpa tidak boleh berisik.


Anindya melepaskan mulut Arvin karena sudah tidur, ia lalu berganti memeluk suaminya yang juga langsung menciumi seluruh wajah nya tanpa terlewat.


"Kok telat pulangnya?" tanya Anindya dengan tangan yang apik melingkari leher suaminya.


Arsen menghentikan kecupannya, ia menangkup wajah istrinya yang tambah cantik dan menatapnya dengan dalam.


"Iya tadi ada rapat insidental, jalanan juga macet. Maaf ya, Mama," jawab Arsen menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri.


Anindya mengusap punggung suaminya, ia tahu sekali Arsen sangat lelah bekerja dan yang bisa mengobati rasa lelahnya hanya dirinya dan Arvin saja, itu semua tentu Arsen yang pernah mengucapkan nya.


"Ya sudah sana mandi, aku siapin baju sekalian makan malam nya. Mau makan dibawah atau disini?" tanya Anindya seraya melepas pelukan suaminya.


"Makan disini aja, Sayang. Aku hari ini capek banget," jawab Arsen membuat Anin tersenyum.

__ADS_1


"Ambil libur aja, Mas. Satu hari untuk istirahat, aku nggak tega lihat kamu kecapekan banget kayaknya." Tutur Anindya seraya mengusap wajah suaminya.


Arsen mengangguk setuju, mungkin istrinya benar jika ia memang harus mengambil libur sehari untuk istirahat. Lagipula libur sehari tak akan membuatnya jatuh miskin.


"Ya udah, sana mandi." Tutur Anindya langsung dituruti oleh Arsen.


Anindya beranjak dari ranjang, sebelum pergi ia meletakkan guling di sisi Arvin mencegah jika nantinya Arvin tak bisa diam dalam tidurnya.


Anin menyiapkan pakaian suaminya, setelahnya ia keluar dari kamar lalu menuju ke bawah untuk mengambil makan malam. Setelahnya Anindya kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan.


Sesampainya di kamar, Arsen pun baru keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaiannya. Anindya duduk di sofa menunggu suaminya.


"Sayang …" panggil Arsen pelan seraya merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.


Anindya mengusap pelan rambut Arsen, ia paham jika suaminya lelah, namun makan malam tak boleh dilewatkan.


"Makan dulu, Mas. Aku suapin ya," tutur Anindya seraya mengangkat kepala Arsen agar pria itu kembali duduk.


Anindya dengan telaten menyuapi suaminya, jika saja Arvin melihat maka anak itu pasti akan langsung datang sambil menarik-narik bajunya.


"Untung Arvin bobok, dia kan kalo lihat kamu suapin aku langsung ngoceh." Celetuk Arsen terkekeh.


Anindya ikut terkekeh, tangannya sesekali mengusap ujung bibir suaminya yang ada noda makanan.


Sementara Arsen tampak lahap menyantap makanan yang istrinya suapi, jika ia makan sendiri maka akan sedikit, namun lain hal jika disuapi istrinya, ia bahkan bisa nambah saking nikmatnya.


"Mau lagi?" tawar Anindya saat makanan di piring sudah habis.


"Nggak, Sayang. Udah kenyang, makasih ya udah suapin bayi gede." Jawab Arsen tersenyum lebar.


Anindya menggeleng pelan, ia meletakkan piring kotor dan gelasnya di meja, awalnya ia ingin membawa piring kotor itu ke bawah namun Arsen selalu melarangnya.


"Ayo bobok." Ajak Arsen langsung menggendong istrinya ala bridal style.


Anindya memekik terkejut, padahal sudah sering digendong tiba-tiba oleh Arsen namun ia tetap saja terkejut. Sementara Arsen memang gencar menggoda istrinya, apalagi jika Arvin tidur seperti sekarang maka waktu untuk menggoda Anin semakin banyak.

__ADS_1


NGGAK LAMA LAGI TAMAT KAYANYA 😂


To be continued


__ADS_2