
Arsen dan Anindya pulang ke rumah setelah selesai sarapan di hotel, lebih tepatnya adalah makan siang karena selepas acara panas itu Anindya dan Arsen kembali berbaring di bawah selimut hingga siang hari menjelang.
Anindya tampak menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi untuk mengistirahatkan tubuh nya yang benar-benar pegal dan remuk akibat kelakuan suaminya.
"Sayang maaf ya, nanti kita ke dokter bagaimana?" tawar Arsen mengusap lengan halus Anindya.
Anindya menggelengkan kepalanya. "Aku mau diurut aja, Mas. Kamu bisa?" tanya Anindya pada sang Arsen.
"Urut, tentu saja tidak bisa Sayang. Jika sekedar memijat tengkuk dan kaki mungkin aku bisa, tapi saat ini kamu kan sedang hamil dan aku tidak mau sembarangan." Jawab Arsen mengusap kepala istrinya.
Arsen lalu mengalihkan tatapannya pada Asisten Lee. "Carikan tukang urut untuk istriku, Lee." Perintah Arsen.
Asisten Lee menghela nafas, ia sudah sangat yakin bahwa dirinya yang pasti akan diperintahkan. Ia tentu tidak masalah, namun dimana ia dapat menemukan tukang urut yang profesional untuk wanita hamil.
"Baik, Tuan." Sahut Asisten Lee menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di kediaman Lucifer, Arsen keluar duluan tanpa menunggu asistennya yang membukakan pintu. Ia beralih membuka pintu Anindya lalu menggendong istrinya masuk ke dalam rumah.
"Mas, aku bisa jalan sendiri!!!" pekik Anindya antara terkejut dan malu atas tindakan suaminya yang tiba-tiba.
"Nggak, katanya tadi sakit, jadi diam." Sahut Arsen dengan lugas.
Anindya akhirnya pasrah, ia mengalungkan tangannya di leher Arsen dengan wajah bersembunyi di dada bidang suaminya.
Sapaan dari para Maid dibalas ramah oleh Anindya, dan saat sampai di dalam langsung saja mereka disambut oleh pekikan dari Madam Meena.
__ADS_1
"Anin, ya ampun. Kamu kenapa, Nak?" tanya Madam Meena mendekati menantunya.
"Mom, sebenarnya aku baik-baik saja tapi Mas Arsen yang memaksa untuk menggendongku." Jawab Anindya nya menunjuk hidung mancung Arsen.
"Nggak mungkin, ini pasti karena Arsen gila sama kamu semalam kan, dia sudah mulai terapi sama istrinya sendiri sampai lupa kalo istrinya lagi hamil." Celetuk Madam Meena menatap Arsen tajam.
"Ck, Mom." Tegur Arsen saat tangan Madam Meena mulai bertengger di telinganya.
"Sudah, lebih baik kalian ke kamar dan biarkan Anindya istirahat dan kamu Arsen, Papa tunggu di ruang baca." Tutur Papah Ferdo.
Arsen mengangguk, ia segera mengajak istrinya untuk pergi ke kamar mereka. Saat sampai disana Arsen langsung merebahkan tubuh mungil istrinya yang sedang hamil, ia memberikan kecupan di kening Anindya.
"Aku ke Papa dulu, kamu istirahat saja dan tunggu tukang urutnya datang." Tutur Arsen dengan lembut.
"Baiklah, Mas." Sahut Anindya menurut.
"Ada apa, Dad?" Tanya Arsen seraya duduk kursi tepat didepan sang Papah.
Papah Ferdo menatap putranya, ia meletakkan buku yang ia baca dimeja. "Papah dan Mamahmu harus kembali ke Australia." Jawab Papah Ferdo.
"Kenapa tiba-tiba, Dad?" tanya Arsen dibalas helaan nafas pelan oleh sang Papah.
"Ada pekerjaan yang tidak bisa Papah tinggal." Jawab Papah Ferdo.
Papah Ferdo mengubah posisi menjadi duduk tegap dengan tangan yang melipat di meja, ia tatap putranya dengan serius.
__ADS_1
"Papah ucapkan selamat atas pernikahanmu, Papah bahagia melihat kamu akhirnya benar-benar serius dengan satu wanita." Ucap Papah Ferdo.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah, maka jadilah pria, suami dan ayah baik untuk keluargamu. Ada satu hal yang ingin Papah katakan, Anindya harus selalu dalam penjagaanmu, Papah merasa ada yang berniat jahat padanya." Lanjut Papah Ferdo.
Arsen mengerutkan keningnya. "Apa Maksud Daddy?" tanya Arsen bingung.
"Keluarga Anindya, Papah merasa mereka memiliki niat jahat pada istrimu. Sangat jelas terlihat saat mereka datang ke pernikahan kalian, di mata mereka hanya ada dendam dan kebencian, Papah khawatir pada Anindya." Jawab Papah Ferdo menjelaskan.
"I know, Dad. Daddy jangan khawatir, aku pasti akan menjaga Assa dan anak kami dengan baik. Soal keluarga Assa, aku sudah mengirim orang untuk memperhatikan gerak-gerik mereka." Sahut Arsen dengan yakin.
"Papah senang mendengarnya, berhati-hatilah Nak." Tutur Papah Ferdo seraya bangkit dari duduknya.
Arsen ikut bangkit dari duduknya, ia segera memeluk sang Papa. "Thank you, Dad." Ucap Arsen mendapat balasan usapan lembut di punggung nya.
"Kapan Daddy berangkat?" tanya Arsen seraya melepaskan pelukannya.
"Kau mengusir Papah?" tanya Papah Ferdo balik.
"Sudahlah, Daddy benar-benar menjengkelkan." Jawab Arsen menghela nafas lelah.
Papah Ferdo terkekeh, ia kemudian mengajak putranya keluar dari ruang baca. Ada kesenangan di hati Papah Ferdo karena akhirnya ia dan putranya bisa kembali berhubungan baik setelah pertikaian antara mereka karena perjodohan dengan Clara waktu itu.
Papah Ferdo selalu menginginkan yang terbaik untuk putranya, dan kini ia lega karena Arsen telah berubah setelah bertemu Anindya.
ASSA, SEKARANG KAMU PUNYA KELUARGA YANG BAIK, NGGAK KAYA PAMAN SAMA BIBIMU ITU ✨
__ADS_1
To be continued