Tawanan Cinta Casanova

Tawanan Cinta Casanova
BAB 52


__ADS_3

Anindya menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Saat ini ia berada di rumah kepala desa untuk bicara soal lamaran Tio beberapa hari lalu, ia ingin segera memberikan jawaban agar semuanya beres dan baik untuk masing-masing pihak.


"Bapak dan Ibu Kades serta Mas Tio pastinya, saya datang kesini untuk memberikan jawaban atas lamaran Mas Tio tempo hari." Ucap Anindya menatap ketiga orang itu bergantian.


Anindya mengusap dadanya lalu menghela nafas dalam-dalam, ia kembali menatap ketiga orang itu dengan tatapan teduh.


"Mas Tio, anda adalah pria yang baik dan sangat sopan, wanita mana yang tidak akan beruntung mendapatkan anda sebagai pendamping hidupnya, namun saya minta maaf karena saya tidak bisa menerima lamaran anda. Alasan saya bukan hanya karena pak Arsen telah kembali, namun juga saya merasa tidak pantas untuk bersanding dengan anda Mas." Lanjut Anindya.


"Anda bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik hati dan parasnya, saya benar-benar minta maaf." Lirih Anindya menunduk guna menyembunyikan air matanya.


"Mbak Anin, sejujurnya Mbak Anin lah yang paling pantas bagi saya, namun karena saya juga tidak bisa memaksa Mbak untuk menikah dengan saya, jadi saya tidak apa-apa anda menolak lamaran saya, semoga Mbak Anin selalu bahagia dengan Mas Arsen dan anak kalian." Sahut Tio berusaha untuk tersenyum.


"Pak, Buk. Maafin Anin ya, Anin telah mengecewakan kalian, maaf sekali Anin tidak bisa menjadi menantu kalian." Ucap Anindya pada bapak dan ibu kades.


Sepasang suami istri itu tersenyum hangat lalu mengangukkan kepalanya, mereka tentu menghormati apapun jawaban yang Anindya berikan.


"Iya, Nak. Semoga pilihan ini bisa menjadi pilihan terbaik untuk kamu dan Tio. Berbahagialah!" tutur Buk Kades dengan lembut.


Anindya bangkit dari duduknya lalu memeluk Buk Kades, rasanya ia mendapatkan kehangatan dalam pelukan wanita berumur itu, pelukan seorang ibu yang sudah lama tak ia dapatkan.


"Makasih banyak ya pak kades telah mengizinkan saya tinggal di desa." Ucap Anin beralih pada pak kades.


"Sama-sama, Nak." Balas Kades mengangukkan kepalanya.

__ADS_1


Anindya hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba Tio memanggil nya. "Mba Anin." Panggil Tio.


Anindya menoleh. "Ada apa, Mas?" sahut Anindya.


"Boleh tidak saya memeluk anda, jangan salah paham tapi saya hanya ingin memeluk anda sebagai seorang teman, tidak ada maksud apapun, tapi jika Mba memang keberatan ya sudah." Ucap Tio meminta izin.


Anindya tersenyum lalu mengangukkan kepalanya, ia membuka tangan lalu memeluk Tio selama beberapa saat. Setelahnya mereka melepaskan pelukan nya.


"Makasih atas segalanya, Mas." Ucap Anindya menatap Tio dengan teduh.


"Sama-sama, Mbak." Balas Tio tersenyum tulus.


Sementara di tempat lain, Arsen sedang bekerja dengan begitu fokus di meja kerjanya. Tampak puluhan kertas berserakan di meja bahkan sampai ke lantai ruangannya.


Arsen kembali mendapatkan semangatnya untuk bekerja, anggaplah Anindya adalah suplemen penambah semangat dan stamina nya.


Disaat sedang berhalusinasi, tiba-tiba saja pintu ruangannya diketuk lalu masuklah asistennya itu dengan begitu sopan seraya membawa sebuah berkas ditangannya.


"Selamat--" Sapaan Asisten Lee terhenti karena Arsen memotongnya.


"Apa, langsung saja pada intinya. Kau sudah mengganggu khayalanku!" potong Arsen dengan cepat.


"Tuan, pekerjaan tidak akan bisa beres jika anda terus menghalu menikahi nona Anindya." Tukas Asisten Lee.

__ADS_1


"Lee, apa kau sadar bahwa belakangan ini kau sangat kurang ajar padaku?" tanya Arsen tajam.


"Pertama menyembunyikan Assa-ku, lalu meracuni pikiran anak buahku untuk tutup mulut dan sekarang kau asal saja bicara padaku. Kau sudah kaya sampai tidak membutuhkan pekerjaan ini lagi?" tanya Arsen menyipitkan matanya.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya memang kaya, jika perbandingannya bukan anda." Jawab Asisten Lee dengan santai.


"Lee!!!" teriak Arsen emosi karena asistennya itu.


"Lupakan saja pembicaraan ini, Tuan. Meeting tidak bisa berjalan jika kita terus begini dan jika pekerjaan sampai tidak selesai maka anda tidak akan bisa menikahi nona Anindya." Ujar Asisten Lee benar-benar membuat ubun-ubun Arsen panas.


"Urusan kita belum selesai, awas saja kau. Bulan ini tidak ada gaji apalagi bonus untukmu!" ancam Arsen mengacungkan jari telunjuknya di depan asisten Lee.


"Jangan, Tuan. Saya kan juga mau menikah!" tukas Asisten Lee seketika membuat Arsen terdiam menahan tawa.


"Menikah, dimana calonnya?" tanya Arsen meremehkan.


"Ini calon saya, author cantik." Jawab Arsen menunjuk Author yang sedang asik berhalusinasi.


"Author nya masih bocah mana mau denganmu yang sudah tua." Ketus Arsen bersama dengan tawa.


"Saya bukan tua, tapi matang." Koreksi Asisten Lee tak terima.


"Mangga kali Pak 'matang'." Ledek Arsen kemudian keluar dari ruangannya disusul oleh Asisten Lee.

__ADS_1


ABAIKAN UCAPAN ASISTEN LEE YA, ITU CUMA CANDAAN AJA KOK, TAPI AKU MAU KALO DI AJAK NIKAH SAMA DIAπŸ™ˆπŸ˜‚πŸ€£


To be continued


__ADS_2