
Anindya dengan balutan daster premium berwana navy itu duduk di pinggir ranjang hotel yang telah dihias sedemikian rupa. Tampak bunga-bunga mawar dan lilin memenuhi beberapa titik kamar pengantin nya.
Anindya beranjak dari duduknya, ia keluar ke balkon kamar. Anindya memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam, kemerlip lampu kota dan lampu kendaraan tampak cantik dari sana.
Anindya tersentak saat tiba-tiba perutnya di lilit sebuah tangan kekar dan berotot itu, Anindya tersenyum sambil mengusapnya lembut.
"Hmmm, udah mandinya?" tanya Anindya lembut, ia sudah pasti tahu bahwa itu adalah Arsen.
Arsen yang saat itu masih menggunakan handuk saja semakin mengeratkan pelukannya, menempelkan tubuh tegapnya ke punggung sang istri.
Masih dengan posisi memeluk Anindya, Arsen mengajak istrinya masuk ke dalam kamar karena selain angin malam yang berbahaya, ia juga ingin mulai memberi pemanasan pada Anindya.
"Mas, pakai bajunya dulu dong. Tuh aku udah siapin." Tutur Anindya menunjuk pakaian Arsen di sofa.
"Kenapa kamu selalu wangi, Sayang. Meski kita menggunakan sabun yang sama, tapi aroma tubuh kamu lebih memabukkan." Bisik Arsen seraya menciumi leher jenjang Anindya.
Anindya mengusap wajah Arsen yang masih betah mendusel di lehernya, ia membalik badan hingga posisinya berhadapan langsung dengan pria yang sudah menyandang status sebagai suaminya itu.
"Pakai bajunya dulu, Mas. Nanti masuk angin loh," tutur Anindya mengusap dada Arsen yang basah.
Arsen mendesis nikmat, ia memegang tangan Anin yang entah mengapa semakin turun sampai ke perutnya.
"Hmm, tangannya mulai nakal ya." Ucap Arsen dengan parau dan berat.
"Kenapa? Kamu nggak suka di terapi sama istri sendiri?" tanya Anindya tak kalah sensual.
Arsen menangkup wajah cantik istrinya, ia memberikan kecupan lembut di sekitar bibir Anindya lalu berakhir ******* bibir manis Anindya dengan lembut.
Anindya memejamkan mata, ia menyukai ciuman Arsen yang pelan namun sangat memabukkan. Tangan Anindya secara naluriah ikut mengalung di leher sang suami sambil sesekali mengusap tengkuk Arsen pelan.
__ADS_1
"Sshhhh … Mas." Lenguh Anindya saat cumbuan Arsen pindah ke lehernya.
Arsen semakin gencar mencumbu leher istrinya, ia sesekali menatap ekspresi Anindya yang terlihat ikut menikmati dan hal itu membuatnya semakin tak sabar memulai aktivitas panas mereka.
"Awww …" pekik Anindya saat Arsen menggigit lehernya hingga meninggalkan bekas.
Arsen tersenyum tipis, ia mencium kening istrinya dalam. "Boleh nggak?" tanya Arsen meminta izin.
Anindya ikut tersenyum, ia semakin merapatkan pelukannya meski tak terlalu erat mengingat kandungan nya yang sudah besar itu.
"Lakukan apapun, Mas. Kali ini kita sudah halal melakukannya." Jawab Anindya dengan lembut.
Arsen menggendong tubuh Anindya lalu mengajaknya berbaring diatas ranjang, pelan-pelan pria itu merebahkan tubuh istrinya diatas ranjang bertabur bunga yang harum.
Arsen mengusap wajah Anindya, ia kembali mencium kening Anin lalu turun ke mata, hidung, kedua pipi dan terakhir bibir.
"Ssshhhhh … Mas, ahhhh …" Anindya menggeliatkan tubuhnya saat ciuman Arsen pindah ke bagian dadanya yang masih tertutup.
"Mereka sangat indah, dan ini membuatku semakin tidak tahan, Assa." Cetus Arsen dengan tangan yang memainkan kedua benda kembar itu bergantian.
Anindya meremat rambut Arsen yang masih basah, ia menggigit bibirnya saat merasakan dadanya dihisap Arsen, antara nikmat dan ngilu.
"Shhhhh … Mas, pelan-pelan!" tegur Anindya merasa ngilu semenjak hamil besar.
Arsen mengangkat wajahnya, ia meminta Anindya bangun lalu membuka baju istrinya hingga kini Anin hanya mengenakan penutup dipusat inti dari bagian tubuhnya.
"Ahhhh …" suara indah Anindya bagai alunan musik yang begitu hangat ditelinga Arsen.
Anindya mengusap dada suaminya lalu naik ke rahang, ia menarik wajah Arsen dan mencumbu bibir seksi suaminya.
__ADS_1
"Shhhh … arghhhhh, Assa." Erang Arsen semakin tak tahan.
Arsen semakin turun hingga kini sampai di pusat tubuh istrinya, ia menarik kain segitiga yang menutupi aset berharga itu lalu kembali membuangnya secara asal.
"Ahhhh … Sayang!!!" teriak Anindya menggema dikamar saat lidah panas Arsen mulai mengambil alih.
Arsen tersenyum senang mendengar suara istrinya, ia bangkit dari posisinya lalu membuka handuk yang menutupi aset pribadinya hingga kini ia ikut polos seperti Anindya.
Anindya tampak malu-malu menatap milik sang suami, ia hanya bisa memejamkan mata sambil sesekali melirik milik Arsen yang ternyata sudah tegak seperti tiang listrik.
"Mas … kamu …" Anindya belum sempat menyelesaikan kata-katanya namun Arsen sudah kembali menyerang pusat tubuhnya.
"Ya, sayang. Aku sudah sembuh dan itu karena mu. Aku hanya bisa bernapsu saat sedang bersama denganmu, Assa-ku." Potong Arsen seraya mulai menyatukan milik mereka.
"Shhhh … Mas, pelan-pelan … awww …" pinta Anindya meramat lengan Arsen yang berotot.
Arsen merem melek saat miliknya benar-benar sudah masuk ke dalam sangkar, ia beberapa kali terdengar mengerem gemas merasakan jepitan istrinya.
"Mulai ya, Sayang." Ucap Arsen dengan nafas terengah-engah saking tak bisa menahan kenikmatan yang dirasakannya.
Anindya mengangguk dengan tangan yang meremat sprei ranjang, ia hanya bisa mengeluarkan suara indahnya saat suaminya mulai memompa tubuhnya dengan begitu semangat.
Hingga Arsen benar-benar membuktikan ucapannya, ia mengajak Anindya untuk mengarungi lautan kenikmatan sampai pagi menjelang tentu dengan memberikan jeda istirahat pada sang istri.
Anindya terbaring lemas disebelah suaminya, Arsen menarik istrinya ke dalam pelukannya lalu memberikan kecupan di seluruh wajah Anindya dengan sayang.
"Selamat malam, Sayang dan terima kasih." Bisik Arsen mesra yang tak mendapat balasan karena Anindya telah tidur setelah kelelahan.
PANAS?? PANAS??? KIPAS SAYANG, SEKALIAN GUYUR BIAR SEGER🤪😂😂
__ADS_1
Lunas ya 3 bab😗
To be continued