
Hari ini Anindya sudah janjian dengan Fia untuk pergi berbelanja ke mall dan suami mereka akan menjemput setelah pulang dari kantor.
Anindya membawa Arvin dengan menggunakan stroller baby, ia membeli beberapa pakaian Arvin sementara Fia memilih pakaian bayi untuk anak pertamanya.
"Anin, menurut kamu bagus mana?" tanya Fia menunjukkan dua model baju perempuan.
"Perempuan, udah usg?" tanya Anindya balik.
"Sudah, katanya perempuan." Jawab Fia dengan semangat sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membesar.
"Waduhh, bisa jadi calon besan kita. Hahahaha," pungkas Anindya terkekeh.
Fia ikut terkekeh, ia hanya bisa manggut-manggut menanggapi, bisa saja apa yang Anindya ucapkan benar. Anak-anak mereka berjodoh dan berakhir menjadi besan.
Keduanya melanjutkan berbelanja pakaian mereka, Anindya yang saat itu tengah memilih barang lantas terhenti saat putranya tiba-tiba menangis.
"Eh anak Mama, cup … cup … bosan ya?" ucap Anindya seraya menggendong Arvin.
Anindya mengusap punggung putranya yang perlahan mulai diam, hal itu sontak membuat Anin mengajak Arvin ke cermin dan benar saja bahwa anaknya itu tertidur dalam gendongannya.
"Anin, dia tidur." Ucap Fia menoel pipi Arvin.
"Iya, Fia. Mungkin saja bosan dan lelah menemani kita belanja makanya dia tertidur." Sahut Anindya mengangguk.
"Ya udah di tidurin aja di stroller, lagian bentar lagi juga suami kita jemput." Tutur Fia dianggukkan oleh Anin.
Anindya merebahkan Arvin kembali ke stroller dengan hati-hati, ia lalu mendorongnya menuju kasir untuk membayar beberapa barang yang sudah ia ambil.
"Anin, aku ke toilet sebentar ya." Ucap Fia menepuk bahu Anindya.
"Iya, nanti aku tunggu di depan." Sahut Anindya seraya menyodorkan kartu kepada kasir.
Setelah membayar, Anindya mendorong stroller baby ke tempat tunggu yang letaknya tak jauh dari toilet, baru saja ia duduk tiba-tiba ponselnya berdering.
__ADS_1
Anindya beranjak dari duduknya, ia meninggalkan stroller Arvin lalu mengangkat telepon dari suaminya.
Tanpa Anindya sadari bahwa sejak awal ia sampai di mall, seseorang telah mengikutinya bahkan saat Anindya meninggalkan anaknya, orang itu justru mendekat lalu menggendong Arvin yang masih tidur.
"Sayang, aku udah di lobby. Cepat kesini ya," ucap Arsen dari seberang telepon.
"Iya, Mas. Aku kesana, ini udah di lantai bawah lagi tunggu Fia di toilet." Timpal Anindya lalu mematikan panggilannya.
Anindya membalik badannya, ia mengerutkan keningnya saat tak melihat putranya di stroller, Anin panik, ia menoleh kanan kiri guna mencari-cari keberadaan putranya.
Mata Anindya melebar saat melihat seseorang membawa putranya yang menangis.
"ARVIN!!!!" teriak Anindya lalu mengejar orang yang membawa putranya.
"Penculik!!! Arvin!!!" teriak Anindya seraya terus mengejar orang yang membawa putranya.
Anindya menangis, ia berusaha terus mengejar orang yang menculik anaknya dengan dibantu oleh beberapa pengunjung, namun sayangnya orang itu sudah membawa Arvin pergi melalui pintu mall yang lain, bukan lobby.
"Arvin!!!" Anindya berteriak histeris saat mobil yang membawa putranya telah pergi.
"Mbak jangan khawatir, kami akan segera cek cctv dan melaporkannya ke pihak berwajib." Ucap Satpam mall disana.
Anindya tak membalas, ia hanya terus menangis dan merutuki kebodohannya yang telah lalai menjaga anaknya. Ia tak tahu bagaimana Arsen nanti, suaminya itu pasti akan marah padanya.
"Hiks … hiks … Arvin!!!" lirih Anindya terus memanggil putranya.
Tak lama terdengar panggilan dari arah belakang kerumunan, Anindya menoleh dan mendapati Fia sambil mendorong stroller Arvin beserta belanjaan Anindya.
"Anin, ada apa? Arvin mana?" tanya Fia kebingungan melihat Anindya menangis.
Anindya menangis semakin kencang, kepalanya menggeleng seraya menunjuk asal ke arah mobil membawa Arvin pergi.
"Hiks … Arvin di culik, Fia." Jawab Anindya menundukkan kepalanya dan bertambah kencang menangisnya.
__ADS_1
"APA!!! Tapi bagaimana bisa?" tanya Fia terkejut seraya mendekati Anindya.
"Aku lalai, aku gagal menjaga anakku." Jawab Anindya terisak.
Fia memeluk Anindya, tangannya mengusap bahu wanita itu lalu meraih ponselnya, ia menghubungi suaminya.
"Halo, Sayang. Arvin diculik, Anindya menangis histeris. Tolong sampaikan kepada pak Arsen."
"Astaga, bagaimana bisa!!! Aku ke dalam, kalian tunggu ya."
Setelah menutup telepon, tak lama Arsen dan Lee datang. Keduanya memecah kerumunan dan menemukan istri mereka disana dengan Anindya yang menangis histeris.
"Sayang." Panggil Arsen mendekati istrinya.
Anindya mendongak, tangisnya semakin pecah lalu buru-buru beralih ke pelukan Arsen. Dadanya sesak, pikirannya melayang kepada putranya. Ia gagal menjadi ibu, ia gagal menjaga anaknya.
"Hiks … aku bukan ibu yang baik, Mas. Arvin kita …" lirih Anindya dalam pelukan suaminya.
Arsen mengusap punggung istrinya dengan pelan, ia mengangguk lalu menyeka air mata di wajah Anindya yang justru semakin keras menangis.
"Tenang oke, orang-orang aku akan cari Arvin dan aku pastikan pelakunya tidak akan lolos begitu saja." Tutur Arsen dengan tenang meski sejujurnya saat ini hatinya resah memikirkan putranya.
"Tapi aku gagal, Mas. Arvin di culik karena kebodohan aku. Hiks …" ucap Anindya dengan suara sesak.
Arsen semakin mengeratkan pelukannya, ia tahu istrinya ini benar-benar hancur.
"Tuan, saya sudah menghubungi anak buah kita. Mereka sudah mulai mencari keberadaan Arvin." Ucap Asisten Lee setelah selesai bertelepon.
Arsen mengangguk, saat ini fokusnya terpusat pada keberadaan putranya dan istrinya yang sangat syok saat ini. Arsen menggendong Anindya yang tampak begitu lemas lalu membawanya keluar dari mall.
Sementara Fia membantu membawa barang-barang Anindya, ia ikut sedih melihat Anindya yang histeris karena putranya di culik.
HUAAA ... ARVIN 😭😭
__ADS_1
To be continued